POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Setelah Berkali-kali Kurikulum Berubah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


(Bagian ke-4, dari 5 tulisan)

Oleh Hasbi Yusuf

Berdomisili di Banda Aceh

Tiga tulisan sebelumnya, telah memaparkan tentang perjalanan dan perubahan kurikulum pendidikan di Negeri ini. Begitu pula lah sekelumit tulisan tentang penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dan sekelumit uraian mengenai kurikulum yang pernah berlaku dan yang akan segera berlaku di republik tercinta ini. Tetapi bagi para pelaku atau stakeholder pendidikan, terutama para guru yang telah lama makan asam garam dan menghirup udara di dunia pendidikan, tentu lebih dapat merasakan dan lebih dapat memberi tanggapan tentang hubungan antara kurikulum yang diupayakan pemerintah dengan pengorbankan waktu, pikiran dan terutama dana, yang tak terhitung jumlahnya jika dibandingkan dengan perubahan mutu pendidikan yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. 

 

Dengan kata lain, apakah ada korelasinya atau apakah signifikan hasilnya antara perubahan kurikulum dengan mutu guru, mutu lulusan dan sekaligus mutu pendiddikan? Atau jangan-jangan pihak pemerintah hanya menjalankan proyek raksasa kurikulum saja. Soal manfaat tidak perlu ada yang mempersoalkannya. Yang penting “setiap ganti mentri, harus ganti kurikulum”, dan jika ada peluang, bisa saja setiap tahun harus dilakukan revisi kurikulumnya. Cobalah telusuri sendiri sejarah perkembangan perubahan kurikulum sejak Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang dan Belanda hingga Penjajahan oleh penyebab korona. Tapi terus terang ungkapan ini tidak terkait perubahan kurikulum yang harus kita lakukan pada kali ini, disebabkan ada keadaan darurat dan terpaksa mesti kita lakukan karena pandemi korona. 

 

Namun, apakah kurikulum hasil perubahan karena dipaksa oleh virus korona ini dapat menyelamatkan kesinambungan proses pendidikan generasi bangsa. Atau hanya sekedar biar dianggap oleh rakyat bahwa menteri dan seluruh jajarannya yang terkait sangat serius melakukan upaya menyelamatkan pendidikan anak bangsa. Atau pula malah sebaliknya, bahwa dengan kurikulum ini akan menghasilkan generasi ke depan yang lemah pikir dan tak berdaya. Generasi ke depan akan tersingkir dan tertindas dan akan menjadi jongos yang sangat terhina dalam pandangan bangsa yang akan menjajah kita. 

 

Dalam pengalaman perubahan kurikulum yang sudah ke sebelas kalinya, kita kagum dengan berbagai ciri dan kelebihan setiap kurikulum sesuai zamannya. Apalagi menggunakan istilah-istilah yang selalu up-to date yang hanya dimengerti dan dipahami oleh para penyusun saja yang nota bene bergelar professor dengan pendidikan minimal S-3, dan sering tak terjangkau oleh sopir dan penumpangnya (jika diibaratkan Buku Manual Mobil Penumpang), yaitu orang yang paling terdepan memanfaatkannya, yaitu guru dan siswa. Sepengetahuan kami dalam proses perubahan dan perancangan kurikulum sangat dominan dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah menjadi atau merasakan profesi sebagai guru. Jika pun ada keterlibatan guru tapi hanya segelintir saja yang kadang-kadang diperlakukan hanya sebagai pelengkap penderita saja. Padahal kami sebagai rakyat menginginkan lebih banyak guru dan perwakilan siswa serta tokoh masyarakat yang harus banyak terlibat secara berdaulat dan terpercaya yang dikoordinir oleh para ahli dan teknorat yang sudah terbukti dan teruji wawasan keindonesiaannya. 

 

Yang ingin kami sampaikan secara gamblang dan sederhana adalah: “ternyata bahwa apapun kurikulum yang diberlakukan pemerintah untuk membenahi pendidikan kita, sepertinya belum ada yang mampu mengubah penampilan dan gaya serta kebiasaan mengajar guru.  Sementara yang kami saksikan yang ada tidak lebih, dengan perubahan kurikulum yang sudah ke-sebelas kalinya) hanya mengubah administrasi, buku pelajaran, dan kelengkapan mengajar guru belaka. Kalaupun ada hanya pada sebagian yang sangat kecil (lebih kecil lagi dari segelintir) jumlahnya, dibanding dengan jumlah guru yang ada. 

 

Jadi jangankan menghasilkan mutu siswa yang ada, apalagi mutu pendidikannya, memperbaiki mutu guru saja sepertinya masih jauh dari harapan semua kita. Lalu siapa yang paling diuntungkan dan sangat menantikan perubahan kurikulum di Indonesia, jika tidak salah prediksi mungkin saja, penulis buku pelajaran, percetakan dan penerbitnya, dan juga penyalur serta pedagangnya.” (menyerupai Iklan suatu produk minuman ya?).    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment