Langsung ke konten utama

SUPERIORITY COMPLEX BANGSA ACEH

Summer foto Wikipedia


Oleh Teuku Abdullah

SEBUAH audio berdurasi 10 menit berisi rekaman suara almarhum Tgk Hasan Tiro yang diperkirakan semasa beliau memberikan kuliah kepada anak didiknya di Tripoli, Libya. Sang deklarator Aceh Merdeka tersebut memberikan syarah dengan membaca isi buku Snouck Hurgronje, De Atjehers. 

Diawali dengan mengutip ucapan pensiunan komandan tentara Hindia Belanda, Jendral Van Swieten, Snouck mengatakan bahwa Aceh tidak sanggup dikalahkan dalam perang karena mempunyai superiority complex (perasaan mulia) sebagai kekuatan perlawan Aceh terhadap Belanda.

Untuk mencegah timbulnya perasaan tersebut, orientalis Belanda itu menyarankan kepada pemerintahannya dalam perang agar orang Aceh itu dihina, disiksa sekeras mungkin agar timbul rasa inferiority complex (perasaan rendah). Tgk Hasan Tiro menambahkan bila taktik ini telah dijalankan oleh Indonesia kepada pejuang Aceh Merdeka untuk menjatuhkan semangat perjuangan, namun tiada yang protes, termasuk kyai-kyai di Jawa. 

Begitu juga beliau mengutip buku ”Marechaussee in Atjeh” karangan Kolonel H.J. Schmidt yang mengatakan bahwa orang Aceh melihat tentara Belanda itu seperti anjing kurap. Pernyataan ini disampaikan Snouck Hurgronje serta H.J. Schmidt setelah mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Aceh, termasuk H C Zentgraff.

Bila dikaji ulang, ucapan Snouck Hurgronje tersebut relevan dalam konteks perjalanan Aceh kontemporer saat ini. Paska perjanjian MoU Helsinki, Indonesia berhasil mencuci sebagian kepala orang Aceh dengan penyakit inferiority complex dimana dalam segala hal mesti menyembah tuannya di Jakarta sebagai solusi untuk mengubah nasibnya.

Saran dari Snouck itu kini diterapkan oleh Jakarta terhadap Aceh dengan siasat lain yaitu untuk menjajah sebuah bangsa harus dilemahkan mental bangsa tersebut dahulu agar merasa dirinya bodoh, hina dan kemudian dijajah tanpa adanya perlawanan sama sekali. 

Hal inilah selaras yang sedang terjadi di Aceh paska MoU Helsinki dimana politikus Aceh selalu mengemis-ngemis kepada Jakarta meskipun setiap perjanjian, peraturan, sudah tertulis hitam di atas putih, dan juga dengan terang benderang sudah tertipu berkali-kali, namun masih saja terus berharap kepada Jakarta.

Untuk lebih lengkap berikut ini tautan audio Superiority Complex Bangsa Aceh tersebut (Perasaan kemuliaan)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me