POTRET Gallery

Tradisi Khitanan Adat Kluet Aceh Selatan

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Baihaki
Berdomisili di Banda Aceh

Hari ini tanggal 05 September 2020 pada Sabtu malam di Gampong Pulo Ie, Kecamatan Kluet Utara di kediaman kami pukul 21.00-23.00 WIB tadi di Komplek PIM (Pondok Indah Mertua) berlangsung duak ramee (duduk ramai) jelang khitanan anak dan adik ipar.

Kluet merupakan salah satu wilayah yang tergabung dalam Kabupaten Aceh Selatan. Wilayah Kluet didiami oleh tiga suku, yaitu suku Aceh, Kluet dan Aneuk Jamee yang menggunakan tiga bahasa dari masing-masing tiga suku tersebut. 

Keberagaman suku tersebut sudah membaur erat dengan masyarakat sekitarnya, sehingga banyak terlahir adat dan budaya yang beragam. Meskipun dalam hal implementasinya, kearifan lokal Adat Aceh, Kluet dan Aneuk Jamee masih mendominasi.

Adat istiadat khususnya di Wilayah Kluet merupakan sebuah warisan dari Indatu yang harus dilestarikan. Seperti halnya pada acara Khitan (Sunat Rasul) ketika melaksanakan acara khitan harus disetujui oleh pimpinan gampong serta perangkat adat dan hukum.

Jika pimpinan gampong serta adat dan hukum telah menyetujui acara khitan tersebut, maka seluruh masyarakat gampong mendukung dan ikut serta membantu pihak tuan rumah secara totalizas, meskipun memakan waktu seminggu hingga lebih.

"Adapun tahapan prosesi acara khitanan (Sunat Rasul) khususnya di Kecamatan Kluet Utara sebagai berikut" :


Tahap Pertama, Duduk Wali. Kalau dalam bahasa Aneuk Jamee disebut Duduak Niniak Mamak. Ini merupakan agenda duduk bersama antara wali dari anak sebelum menggelar acara guna melakukan musyawarah dan persiapan acara nantinya.

Tahap Kedua, Malam Duduk Rame. Ini berisi agenda musyawarah dengan masyarakat. Duduk rame merupakan agenda utama duduk dengan pimpinan adat dan hukum bersama perangkat-perangkat gampong lainnya serta masyarakat satu gampong.


Acara duduk rame ini biasanya dilaksanakan habis Shalat Isya. Seluruh warga gampong datang beramai-ramai ke rumah acara. Para kerabat terdekat ada yang membawa buah tangan untuk membantu yang melaksanakan acara misalnya berupa uang atau beras.

Dalam prosesi ini juga diberitahukan kepada masyarakat bahwa pimpinan adat dan hukum telah menyetujui acara, sehingga masyarakat sudah berkewajiban saling membantu dan pihak tuan rumah secara resmi menyerahkan semua urusan kepada kepada masyarakat.

Di sini peran pemuda dan pemudi sancta diperlukan. Mengenai persoalan makan dan minum bagi para undangan, urusan dapur masak memasak hingga cuci piring semuanya akan di bawah kendali para pemuda dan pemudi serta masyarakat.

Tahap Ketiga, Pasang Tempat. Persiapan ini dipimpin langsung oleh ketua pemuda. Tugas pemuda memasang tratak, sedangkan ibu-ibu memasang perlengkapan di bagian dalam rumah. Hiasan rumah dikemas sedemikian rupa agar memuat nilai adat di dalamnya..


Tahap Keempat, Bainai. Merupakan kegiatan adat berupa memakai inai (berkacar) di sekitar ujung jari tangan dan kaki pada anak yang akan dikhitan. Kegiatan ini dimulai dari malam duduk ramai khususnya setelah tamu pulang hingga tiga malam berturut-turut. 

Tahap Kelima, Bersunting. Ini merupakan prosesi peusijuek (pemberkahan secara adat) yang terkadang disebut juga dengan acara Antar Inai dilengkapi dengan nasi ketan dan perlengkapan lainnya oleh ibu-ibu kepada anak yang dikhitan.

Prosesi ini biasanya akan dilaksanakan satu hari setelah malam duduk ramai. Bersunting atau peusikuk ini dilakukan oleh beberapa pihak keluarga atau famili terdekat yang ada hubungan kekerabatan yang berlangsung tiga, empat sampai lima hari.

Keenam, Hari Puncak. Pada hari tersebut tuan rumah mempersiapkan jamuan makan minum kepada tamu undangan. Sesuai adat, esensi para tamu secara formalis untuk mengucapkan kata-kata selamat dan bersalaman dengan linto khitan plus dengan orang tuanya.

Biasanya, pada hari puncak ini intensitas tamu akan lebih besar dibandingkan saat ritual adat sebelumnya. Tetamu yang datang akan dihibur dengan berbagai pertunjukan, seperti tarian, nasyid, rebana. Acara ini berlangsung selama dua atau tiga hari.

That Ke tujuh, Mandi Pucuk (mandi bersiram air dalam janur). Prosesi ini dilakukan sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB. Acara mandi ini adalah memandikan linto (anak yang hendak dikhitan) dengan air dalam janur kuning (air dan hiasan dari daun kelapa muda).


Ke delapan, Menyerahkan ke Mudin (tukang khitan atau dokter). Seusai mandi pucuk, acara ini merupakan proses penyerahan anak dari orang tuanya ke mudin atau dokter untuk dikhitan. Sesi ini diadakan makan bersama antara linto dengan mudin atau dokter.

Setelah serangkaian acara di atas, barulah masuk acara pokok, yaitu khitan. Acara yang mendebarkan hati ini biasanya berlangsung setelah undangan pulang dan tinggallah sanak saudara yang menunggu. Biasanya proses khitan berlangsung sore hari. 

Tahap Sembilan, Kegiatan Berjaga. Ini adalah tradisi yang dilakukan pemuda untuk menjaga linto pasca khitan. Selanjutnya ada ritual turun ke tanah (pelepasan perban), biasanya setelah itu makan bersama mengundang tengku dan anak yatim.

Terakhir Kesepuluh. Minta Izin. Ini saatnya pimpinan adat dan hukum, masyarakat, dan sanak saudara berkumpul kembali dengan tuan rumah. Tuan rumah mengucapkan terima kasih karena telah membantu mempersiapkan dan menyukseskan pesta khitan anaknya.

Setelah berdo'a dan makan bersama, maka pihak tuan rumah mengeluarkan empat buah nasi ketan kuning, disana disebut jamba. Nasi ketan tersebut diserahkan secara adat kepada perangkat adat dan hukum, ketua pemuda, orang dapur yang telah ditentukan

Nasi ketan yang terakir diserahkan kepada ketua kaum ibu yang telah membantu mempersiapkan perlengkapan adat. Acara ini berlangsung setelah Shalat Isya sekaligus sebagai tanda berakhirnya prosesi khitanan dengan saling bersalaman.

Begitulah prosesi Khitanan di Wilayah Kluet yang hingga kini masih t├ętap bertahan dan lestari. 

-- 

Click to comment