Langsung ke konten utama

TUJUH LANGKAH SAKTI PEMBELAJARAN IPA DI KELAS



(Bagian Pertama, dari 5 Tulisan)

Oleh Hasbi Yusuf

Berdomisili di Banda Aceh

 

Penampilan dan gaya yang kita tampilkan ketika kita mengajar, lebih sering tanpa kita sadari telah mencontoh dan meniru penampilan dan gaya yang diterapkan oleh guru favorit kita semasa kita bersekolah. Banyak di antara kita memilih memasuki pendidikan keguruan, mungkin karena tertarik dengan penampilan dan sikap guru ketika dengan sangat sederhana dan bersahaja serta penuh wibawa dalam mengajarkan kita di sekolah dulunya.  Begitu juga di dalam memilih jurusan pendidikan lanjutan, kita cenderung mengambil jurusan yang sejenis dengan pelajaran favorit yang diasuh oleh guru favorit kita (abaikan dulu pembahasan kita tentang sebab-sebab dan faktor yang lain, seperti  faktor ekonomi, lapangan kerja, kemampuan bersaing), dan sebagainya.


Pembelajaran bidang studi MIPA, terutama mata pelajaran Fisika di sekolah/kelas cenderung mengikuti dan mematuhi bagaimana gaya dan cara guru ketika mengajarkan kita.  Tanpa ada yang memaksakan tanpa pula, kita sadari kita akan meniru bagaimana metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru bidang studi yang sejenis dengan bidang studi yang kita asuh sekarang di sekolah tempat mengajar kita. Dengan kepatuhan yang tulus dan ikhlas terhadap bagaimana guru mengajarkan kita sebelumnya terhadap masing-masing konsep atau materi yang ada.  Jika sekarang kita guru SD, maka cenderung meniru pola dan gaya mengajar guru favorit kita di SD dulu dalam menyampaikan materi yang ada. Jika kita guru SMP, maka tanpa sengaja kita juga cenderung meniru dan mengikuti pola dan langkah-langkah guru favorit yang mengasuh mata pelajaran favorit kita ketika di SMP dulunya. 


Begitu juga jika kita guru SMA maka cenderung bertindak dan bersikap seperti apa yang dilakukan di depan kelas, ketika guru favorit dan mata pelajaran favorit dalam mengajarkan kita, bahkan sikap-sikap di luar kelas juga cenderung kita jadikan pola bergaul kita. Bahkan jika kita menjadi dosenpun sangat cenderung kita bertindak dan bergaya seperti dosen kita. Tanpa sedikitpun mengecilkan apa yang telah kita pelajari di perguruan tinggi, namun tanpa dapat kita menolaknya, bahwa ruh dan jiwa mengajar guru kita terhadap bahan dan tingkat pendidikan serta kelas yang kita asuh saat ini. Antara materi apa yang kita ajarkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara kita memperoleh materi tersebut dulunya dari guru kita. Namun jika kita menjadi dosen maka hal serupa juga akan kita alami, yaitu setiap materi kuliah yang kita sampaikan maka seluruh penampilan dosen kita juga tanpa disengaja ataupun disengaja, maka akan kita ikuti juga seluruh atau sebagian besar polanya.


Dalam kenyataannya, baik disengaja atau tidak disengaja, sangat mewarnai, mempengaruhi model mengajar, menguji, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Tanpa kita sadari, kita telah menjelma menjadi sosok guru kita dulu dalam bersikap, berkreasi, bertindak, dan dalam mengambil kesimpulan terhadap proses pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Sehingga (model, metode, strategi, pendekatan, dan teknik) mengajar, mengevaluasi dan memberi penilaian terhadap hasil karya siswa pada umumnya cenderung dan nyaris mengikuti guru kita, meskipun kita telah banyak mengikuti mata kuliah tentang ilmu keguruan dengan nilai kelulusan sangat memuaskan hampir semua. 

Di samping guru dan mata pelajaran favorit yang diasuhnya dalam mengajarkan kita, menurut hemat kami peran perguruan tinggi juga jauh lebih  penting dalam membekali kita tentang penguasaan materi pelajaran dan ilmu keguruan serta wawasan kependidikan yang selalu berkembang dengan pesatnya, serta yang memberikan lisensi kewenangan untuk berkiprah terjun ke dalam dunia pendidikan. Seterusnya ada satu lagi yang menjadi pola yang harus diikuti oleh guru, meskipun kadang-kadang terasa tulus, tetapi sering sekali karena terpaksa, yaitu kurikulum dan sejumlah aturan yang mesti dipatuhi atau mesti dikelola di mana setiap saat sering sekali perubahannya. Kita butuh kurikulum yang lebih stabil dan elastis yang mampu mengikuti perubahan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesatnya. Namun sangat disayangkan kurikulum pendidikan kita sangat sering berubah tanpa terlalu jelas sebabnya, sehingga masyarakat sering membuat pernyataan berupa guyonan, mungkin juga sindiran yang sangat populernya: “Ganti menteri Pendidikan, pasti ganti juga kurikulumnya”.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me