POTRET Gallery

TUJUH LANGKAH SAKTI PEMBELAJARAN IPA DI KELAS

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


(Bagian Pertama, dari 5 Tulisan)

Oleh Hasbi Yusuf

Berdomisili di Banda Aceh

 

Penampilan dan gaya yang kita tampilkan ketika kita mengajar, lebih sering tanpa kita sadari telah mencontoh dan meniru penampilan dan gaya yang diterapkan oleh guru favorit kita semasa kita bersekolah. Banyak di antara kita memilih memasuki pendidikan keguruan, mungkin karena tertarik dengan penampilan dan sikap guru ketika dengan sangat sederhana dan bersahaja serta penuh wibawa dalam mengajarkan kita di sekolah dulunya.  Begitu juga di dalam memilih jurusan pendidikan lanjutan, kita cenderung mengambil jurusan yang sejenis dengan pelajaran favorit yang diasuh oleh guru favorit kita (abaikan dulu pembahasan kita tentang sebab-sebab dan faktor yang lain, seperti  faktor ekonomi, lapangan kerja, kemampuan bersaing), dan sebagainya.


Pembelajaran bidang studi MIPA, terutama mata pelajaran Fisika di sekolah/kelas cenderung mengikuti dan mematuhi bagaimana gaya dan cara guru ketika mengajarkan kita.  Tanpa ada yang memaksakan tanpa pula, kita sadari kita akan meniru bagaimana metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru bidang studi yang sejenis dengan bidang studi yang kita asuh sekarang di sekolah tempat mengajar kita. Dengan kepatuhan yang tulus dan ikhlas terhadap bagaimana guru mengajarkan kita sebelumnya terhadap masing-masing konsep atau materi yang ada.  Jika sekarang kita guru SD, maka cenderung meniru pola dan gaya mengajar guru favorit kita di SD dulu dalam menyampaikan materi yang ada. Jika kita guru SMP, maka tanpa sengaja kita juga cenderung meniru dan mengikuti pola dan langkah-langkah guru favorit yang mengasuh mata pelajaran favorit kita ketika di SMP dulunya. 


Begitu juga jika kita guru SMA maka cenderung bertindak dan bersikap seperti apa yang dilakukan di depan kelas, ketika guru favorit dan mata pelajaran favorit dalam mengajarkan kita, bahkan sikap-sikap di luar kelas juga cenderung kita jadikan pola bergaul kita. Bahkan jika kita menjadi dosenpun sangat cenderung kita bertindak dan bergaya seperti dosen kita. Tanpa sedikitpun mengecilkan apa yang telah kita pelajari di perguruan tinggi, namun tanpa dapat kita menolaknya, bahwa ruh dan jiwa mengajar guru kita terhadap bahan dan tingkat pendidikan serta kelas yang kita asuh saat ini. Antara materi apa yang kita ajarkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara kita memperoleh materi tersebut dulunya dari guru kita. Namun jika kita menjadi dosen maka hal serupa juga akan kita alami, yaitu setiap materi kuliah yang kita sampaikan maka seluruh penampilan dosen kita juga tanpa disengaja ataupun disengaja, maka akan kita ikuti juga seluruh atau sebagian besar polanya.


Dalam kenyataannya, baik disengaja atau tidak disengaja, sangat mewarnai, mempengaruhi model mengajar, menguji, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Tanpa kita sadari, kita telah menjelma menjadi sosok guru kita dulu dalam bersikap, berkreasi, bertindak, dan dalam mengambil kesimpulan terhadap proses pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Sehingga (model, metode, strategi, pendekatan, dan teknik) mengajar, mengevaluasi dan memberi penilaian terhadap hasil karya siswa pada umumnya cenderung dan nyaris mengikuti guru kita, meskipun kita telah banyak mengikuti mata kuliah tentang ilmu keguruan dengan nilai kelulusan sangat memuaskan hampir semua. 

Di samping guru dan mata pelajaran favorit yang diasuhnya dalam mengajarkan kita, menurut hemat kami peran perguruan tinggi juga jauh lebih  penting dalam membekali kita tentang penguasaan materi pelajaran dan ilmu keguruan serta wawasan kependidikan yang selalu berkembang dengan pesatnya, serta yang memberikan lisensi kewenangan untuk berkiprah terjun ke dalam dunia pendidikan. Seterusnya ada satu lagi yang menjadi pola yang harus diikuti oleh guru, meskipun kadang-kadang terasa tulus, tetapi sering sekali karena terpaksa, yaitu kurikulum dan sejumlah aturan yang mesti dipatuhi atau mesti dikelola di mana setiap saat sering sekali perubahannya. Kita butuh kurikulum yang lebih stabil dan elastis yang mampu mengikuti perubahan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesatnya. Namun sangat disayangkan kurikulum pendidikan kita sangat sering berubah tanpa terlalu jelas sebabnya, sehingga masyarakat sering membuat pernyataan berupa guyonan, mungkin juga sindiran yang sangat populernya: “Ganti menteri Pendidikan, pasti ganti juga kurikulumnya”.

 

 

Click to comment