Langsung ke konten utama

TUJUH LANGKAH SAKTI PEMBELAJARAN IPA DI KELAS, BERLAKU DALAM KURIKULUM DARURAT?



(Bagian ke-3 dari 5 tulisan)

 

Oleh Hasbi Yusuf

 

Pameo ganti menteri pendidikan ganti kurikulum, benarkah? Para pembaca bisa menjawab sendiri. Paling tidak, dlam tulisan ke dua, kita sudah mencatat delapan. Ini adalah yang ke sembilan dan selanjutnya.  Nah, yang kesembilan adalah Kurikulum 2004. Kurikulum 2004 ini disebutkan sebagai penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan implementasi dari undang-undang no. 20 Tahun 2003 tentang SIstem Pendidikan Nasional, yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan, antara lain Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. PP No. 19 tahun 2005 memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan Standar Nasional Pendidikan, yakni: a) Standar Isi; b) Standar Proses; c) Standar Kompetensi Lulusan; d) Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan; e) Standar Sarana dan Prasarana; f) Standar Pengelolaan; g) Standar Pembiayaan; dan h) Standar Penilaian Pendidikan. 

 

Arah dan esensi pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi, yaitu:   a) Ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal; b) Berorientasi pada Hasil Belajar (learning Outcomes) dan keberagaman;  c) Menggunakan pendekatan dan metode yang variatif;  d) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memnuhi unsur edukatif; e) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.  

 

Ke sepuluh, Kurikulum 2006 KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidak terlalu beda dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang agak mendasar adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Pada kurikulum KTSP 2006 ini: a) Kerangka Dasar (KD), Standar Kompetensi Lululsan (SKL), dan Standar Kompetensi Dasar (SKKD) setiap mata pelelajaran untuk setiap Satuan Pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Sedangkan Pengembangan Perangkat pembelajaran; b) Silabus dan system penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) di bawah koordinasi dan supervise pemerintah Kabupaten/Kota. Kelemahan Kurikulum ini adalah kurangnya sumber daya manusia yang potensial dalam menjabarkan KTSP dan kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah. 

Ke sebelas,  Kurikulum 2013.  Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang diterapkan pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2006 atau sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku sekitar 6 tahun. Kurikulum 2013 memiliki 3 aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku.  Sekitar pertengahan Tahun 2013 Kurikulum 2013 diimplementasikan secara terbatas pada sekolah perintis, yaitu pada kelas I dan IV untuk sekolah dasar, kelas VII dan VIII untuk SMP, dan kelas X dan XI untuk jenjang SMA/SMK. Jumlah sekolah yang menjadi sekolah perintis sebanyak 6326 sekolah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Kurikulum 2013 sempat menuai pro dan kontra yang sangat keras dari berbagai elemen masyaraka, sehingga pada masa kepemimpinan Mendikbud Anies Baswedan penerapan Kurikulum 2013 dihentikan sementara, dan sekolah-sekolah diminta kembali menerapkan KTSP 2006. 

Yang muthakir, yakni yang ke dua belas adalah Kurikulum 2020. Untuk Tahun Pelajaran 2020/2021 pembukaan sekolah hanya dibolehkan pada wilayah yang berada di zona hijau. Untuk tahap pertama hanya diperkenankan bagi jenjang SMA/SMK dan SMP saja terlebih dahulu, kemudian setelah dua bulan jika keadaan tidak semakin mamburuk akan diikuti oleh SD, sedangkan jenjang PAUD dan TK baru boleh dimulai pada bulan kelima tahun ajaran. 

Ada empat syarat penyelenggaraan pendidikan pada tahun ajaran baru pada masa masih terjadi pandemi covid-19: Pertama, sekolah berada di zona hijau (bebas covid-19). Kedua, mendapat izin dari Pemerintah Daerah atau Kantor Wilayah/Kanwil Kemenag. Ke tiga, sudah memenuhi seluruh daftar periksa untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Ke empat, orang tua/wali murid menyetujui putra-putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. 

Untuk pengetahuan kita bersama bahwa Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum Darurat Covid-19 untuk semua jenjang pendidikan dengan masa berlaku hanya pada Tahun pelajaran 2020/2021. Kurikulum Darurat ini sebenarnya adalah Kurikulum 2013 yang telah dilakukan dengan mengurangi secara dramatis Kompetensi Dasar (KD) untuk setiap mata pelajaran.  Dengan perampingan ini diharapkan guru lebih fokus pada materi penting/esensial dan materi yang menjadi landasan bagi siswa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.  Jika sekolah sudah melakukan upaya penyederhaaan kurikulum sendiri dengan melibatkan stakeholder yang memiliki kompetensi di bidang kurikulum, hal itu dibenarkan, dan tidak wajib mengikuti Kurikulum Darurat dari Kemendikbud. Jadi ada tiga pilihan kurikulum belajar pada Tahun Pelajaran 2020/2021, yaitu: a) Kurikulu Darurat dari Kemendikbud; b) Kurikulum Rekayasa pihak Sekolah; c) Kurikulum 2013 murni. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me