POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

PENTINGNYA PENGGUNAAN MEDIA UNTUK BIMBINGAN KONSELING

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Ilustrasi : Gudang makalah-Blogger



Oleh Mutia Febrianti

Mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh


Era globalisasi yang berkembang pesat saat ini, ditandai dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di berbagai segi kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya serta pendidikan. Satu dari sekian banyak kemajuan yang sangat bermanfaat adalah kemajuan di bidang teknologi informasi yang menawarkan berbagai kemudahan dalam komunikasi dan interaksi sosial manusia di belahan bumi manapun berada. Hal ini membuat planet bumi yang dihuni manusia ini, layaknya sebuah miniatur mungil yang dapat dijelajahi dengan mudahnya, melalui salah satu media komunikasi yang canggih seperti internet. 

Komunikasi dan interaksi dalam rangka membangun hubungan sosial antar manusia ini, juga merupakan kebutuhan pokok yang setiap saat perlu dan harus selalu dilakukanmanusia. Bahkan dalam kondisi diampun komunikasi sering juga dilakukan, baik melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, maupun atribut yang dikenakan manusia. Semuanya dapat memberikan suatu informasi tertentu bagi manusia lainnya. Komunikasi sebagai sebuah kebutuhan, juga mencakup segala bidang kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan yang di dalamnya juga mengandung adanya bidang kajian bimbingan dan konseling.

Komunikasi mengacu pada tindakan oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan, terjadi dalam konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Komunikasi dalam konteks bimbingan konseling adalah syarat mutlak, karena proses bimbingan dan konseling itu sendiri merupakan proses komunikasi. Ada metode langsung atau komunikasi langsung dan metode tidak langsung atau komunikasi tidak langsung. Metode komunikasi langsung adalah metode yang menuntut proses bimbingan dan konseling itu dilakukan dengan komunikasi langsung (bertatap muka) dengan konselinya, baik secara individual maupun kelompok. Kemudian metode lainnya adalah metode komunikasi tidak langsung, metode ini mensyaratkan adanya bantuan media sebagai sarana berkomunikasi dalam proses bimbingan dan konseling, baik dilakukan secara individual, kelompok, maupun secara massal.

Konsekuensi logis lainnya yang menuntut layanan bimbingan dan konseling menggunakan media adalah dalam rangka mengikuti kemajuan era globalisasi untuk mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, agar dapat memberikan bantuan yang maksimal bagi permasalahan yang dihadapi konseli. Apalagi pemerintah juga telah merespon kondisi global tersebut dengan penyempurnaan kurikulum pendidikan yang menekankan pada basis kompetensi dasar dalam rangka meningkatkan kualitas mutu pendidikan di Indonesia yang dapat merespon tuntutan perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya.Alasan Penggunaan Media dalam Bimbingan Konseling ini adalah yang pertama dari kemampuan manusia yaitu Individu dalam proses mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, serta perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena hasil penemuan pemahaman yang datang dapat melalui apa saja termasuk dalam kegiatan bimbingan dan konseling. Di samping itu dapat juga diperoleh melalui interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Pengalaman-pengalaman yang individu alami tersebut dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perantara media.

Bagaimana individu belajar untuk memperoleh pengalaman baru tersebut? Menurut Bruner  dapat terjadi dalam tiga tingkatan, yaitu pengalaman langsung, pengalaman piktorial atau gambar , dan pengalaman abstrak . Pengalaman langsung adalah dengan terlibat langsung secara aplikatif atau mengerjakan. Misalnya, membangun team building, dapat dilakukan secara langsung dengan permainan-permainan kekompakan seperti outbond. Tingkatan kedua yang melalui label iconic artinya gambar atau image, misalnya pola sikap ketika berbicara di depan umum dapat dipelajari melalui gambar, lukisan,dll. meskipun individu belum pernah berbicara di depan umum secara formal, melalui media tersebut mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar, foto, dan video. 

Kemudian yang kedua dari kemampuan indera manusia, Kemampuan indera manusia ini dimaksudkan, bahwa melalui penyerapan lebih banyak indera yang digunakan, akan lebih baik hasilnya daripada mengandalkan salah satu indera saja. Belajar dengan menggunakan indera ganda, pandang dan dengar berdasarkan konsep di atas akan memberikan keuntungan bagi individu. Individu akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar. Para ahli memiliki pandangan yang searah mengenai hal itu. Perbandingan pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang dan dengar sangat berbeda.

Yang ketiga, kemampuan media yang terkait dengan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksikan suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan kamera atau video kamera dengan mudah dapat direproduksi kapan saja diperlukan.dengan ini media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau objek yang terjadi pada satu waktu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu.

Ciri ini amat penting bagi konselor karena kejadiankejadian atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali (dalam satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali untuk keperluan kroscek bimbingan konseling. Prosedur konseling yang rumit dan lama sekalipun dapat direkam dan diatur untuk kemudian diarsip dan dibuka kembali untuk dianalisis jika diperlukan. Demikian pula kegiatan bimbingan yang melibatkan berbagai hal berkaitan dengan masalah yang dihadapi konseli, dapat direkam lalu dianalisis dan dikritisi oleh konseli lainnya baik secara perorangan maupun kelompok.

Kemudian Manipulative property, transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada konseli dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Misalnya, bagaimana proses kesadaran konseli menemukan semangat hidupnya kembali setelah mendapat tekanan hidup dan dilanda depresi, hingga muncul niat bunuh diri. Di samping dapat dipercepat, suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil suatu rekaman video. Misalnya proses reaksi agresif berupa pemukulan atau menyakiti diri sendiri pada diri seorang konseli dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulatif dari media. Demikian pula, suatu aksi gerakan dapat direkam dengan foto kamera untuk foto. Pada rekaman gambar hidup (video) kejadian dapat diputar mundur. Media (rekaman video atau audio) dapat diedit sehingga konselor hanya menampilkan bagianbagian penting / utama dari ceramah, pidato, atau urutan suatu kejadian dengan memotong bagian-bagaian yang tidak diperlukan. Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian sungguh-sungguh karena apabila terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian-bagaian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tentu saja akan membingungkan dan bahkan menyesatkan sehingga dapat mengubah sikap individu sasaran ke arah yang tidak diinginkan.

Maka dari itu kesimpulannya adalah Penggunaan media dalam bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan, karena media dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar,  dan agar tidak terlalu bersifat verbalistik.  Media dapat juga meningkatkan dan mengarahkan perhatian audiens sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar. Di samping itu, media dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu. Gerak yang terlalu lambat atau cepat, atau kejadian di masa lalu juga bisa dihadirkan lewat video, objek yang terlalu kompleks serta konsep yang terlalu luas, dapat dengan mudah disajikan melalui media. Selain itu, media juga dapat memberikan kesamaan persepsi dan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungannya, walaupun kondisi siswa heterogen.

Berbagai manfaat penggunaan media tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa media sebagai sarana dalam bimbingan dan konseling islam sangat besar perannya dalam membantu pelaksanaan layanan bimbingan dan koseling islam. Peran media ini tidak hanya sebatas pada penggunaan alatalat media semata, tetapi juga dapat difungsikan sebagai satu kesatuan program bimbingan dan konseling Misalnya untuk layanan orientasi, layanan ini biasanya berkaitan dengan orientasi siswa baru, untuk mengenalkan berbagai program sekolah dan program bimbingan dan konseling seperti sistem belajar mengajar, lingkungan sekolah dan fasilitasnya serta tata tertib sekolah. pelaksanaan penyampaiannya dapat kemas dalam format media jadi seperti rekaman film tentang lingkungan sekolah dan fasilitasnya, atau dalam format buku notes kecil yang menarik dan dibagikan kepada seluruh siswa.

Akhirnya penutup yang paling tepat adalah pesan kepada guru pembimbing untuk responsif terhadap perkembangan kehidupan global dengan menjadi insan yang memiliki kecerdasan media, atau yang dikenal dengan literasi media, agar mampu memaksimalkan peran media tersebut dalam proses bimbingan dan konseling.

Click to comment