POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Cengkrama Anak dan Ayah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Tabrani Yunis

Di ruang, teras belakang rumah. Ayah dan dua orang anaknya duduk menikmati page sambil berdiskusi. Dalam suasana santai itu, yang dikatakan sebagai the prime family time itu, terjadi diskusi yang menarik. Anda ingin tahu apa yang meteka perbincangkan? Silakan simak percakapan berikut ini.

Anak: Pagi ini ada pertanyaan bagus buat ayah.
Ayah: Pertanyaan apa sayang?
Anak: Bagaimana cara agar kita bisa jadi orang terkaya dan memiliki banyak uang dan harta benda lainnya?
Ayah: Hmmm, rajin-rajinlah belajar. Banyak membaca dan kita akan kaya ilmu dan kemudian kaya harta benda lainnya.
Anak : Tapi itu terlalu lama yah.
Ayah : Ya lama. Tapi ingat nak, semua butuh proses. Hidup ini tidak seperti membalik telapak tangan. Tangan saja, kalau tidak ada kekuatan di dalam diri, tidak bisa bergerak.
Anak : Apa tidak ada cara lain yah? Tetangga kita sudah belajar sampai S2, jangan kan kaya, pekerjaan saja tidak ada. Bukankah kalau sudah S2 itu sudah banyak ilmunya ayah?
Ayah : S2 itu sebenarnya menjadi ukuran bagi orang berilmu, namun sekarang S2 itu hanya gelar semata, banyak yang S2nya kosong.

Anak : Maksudnya?
Ayah : Mereka memang sudah kuliah dan menyelesaikan S2 dan mendapat gelar macam-macam. Namun, setelah S2, jangankan untuk membuka lapangan kerja untuk orang lain, untuk dirinya saja banyak yang tidak mampu. Coba lihat, betapa banyak lulusan S2 yang luntang lantung cari pekerjaan. Banyak, bukan?

Anak : Ya benar ayah. Mengapa begitu jadinya?
Ayah : Ya, karena banyak faktor nak. Misalnya, kuliah S2 itu karena bila hanya memiliki ijazah S1, susah dapat kerja. Maka pilihan terbaik adalah lanjutkan pendidikan ke S2 bagi yang punya uang. Setelah S2 ternyata cari kerja lagi. Tak dapat kerja, pulang kampung. Bagi yang perempuan, tak ada pilihan lain. Kawin. Setelah kawin jadilah ibu rumah tangga murni dan menggantung hidup pada pendapatan suami. Kamu mau seperti itu?

Anak : Hmm tidaklah ayah.
Ayah : Kalau tidak mau begitu, maka rajinlah belajar. Rajinlah membaca, berdiskusi dan mulailah menulis, bisa cerita, opini, feature dan lain-lain. Kalau kamu kuliah, kamu harus faham ya, kuliah itu apa. Kuliah itu bukan datang, duduk, dengar, diam, pulang dan kemudian telepon ayah di kampung minta dikirimkan uang. Kuliah itu bukan sekadar datang mengisi absen agar bisa ikut Midterm dan final, tetapi yang namanya kuliah itu adalah belajar. Datang ke Kampus untuk belajar pada dosen dengan cara mendengar dan menyerap apa yang disampaikan dosen, bertanya dan berdiskusi dengan dosen, mencatat hal-hal penting yang disampaikan dosen, menganalisis dan silakan dipersebatkan bila penting. Lalu ingat! agar pengetahuan mu tidak sebatas apa yang disampaikan oleh dosen, kamu harus mau mencari sumber-sumber lain, bisa di Internet dan juga buku-buku atau jurnal yang cetakan. Pokoknya, enrich your knowledge by reading a lot. Dengan begitu, ilmu, pengetahuan dan ketrampilan serta sikap baik dan benar, akan membantu kamu keluar dari kemiskinan. Ingatlah nak, sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. cobalah lihat dan bandingkan nasib bangsa-bangsa di dunia. Kita pasti akan menemukan banyak fakta bahwa bangsa-bangsa yang cerdas, seperti Amerika, dan bangsa lain di Eropa, Asia, Australia dan juga di Afrika, mereka akan lebih disegani karena kehebatan ilmu dan kecanggihan teknologi yang mereka buat. Sekarang kita terus menikmati hasil kerja keras mereka yang terus belajar mempermudah kita dengan teknologi yang mereka buat. Sayangnya, kita sebagai bangsa yang kurang belajar ini, hanya menjadi objek bisnis mereka. Ya, kita mau bilang apa ya? Yang jelas, kita semakin dimanjakan oleh teknologi mereka dan kita umumnya lupa dari.

Anak : Mengapa kita lupa diri ayah?
Ayah : Ya, cobalah kamu amati salah satu saja. Saat ini kita semua dimanjakan dengan adanya perangkat Internet dan gadget. Apa saja yang dibutuhkan, ada dalam genggaman. Semua tersedia dalam perangkat itu. Jaringan Internet dengan perangkat gadget sudah mengubah banyak pola hidup kita. Misalnya, kebiasan kita memasak di dapur, makan bersama keluarga di rumah, berubah dengan memasak di dapur orang lain, ke warung dan restoran. Bahkan lebih canggih lagi, kita tidak harus datang ke warung atau restoran untuk makan, saat ini kita cukup dengan menggunaka aplikasi go food atau grab food dan lainya. Yang penting punya uang dan peralatan itu. Mudah bukan?

Nah, dalam konteks belajar, mendapatkan ilmu, ketrampilan dan perubahan sikap yang lebih berkualitas, sebenarnya dengan tersedianya piranti Internet dan gadget itu, kita bisa belajar lebih banyak dan sangat mudah. Apalagi Om Google terus berbaik hati menyediakan segala informasi dan pengetahuan yang kita cari. Sayangnya. Ya, sayangnya ini masyarakat kita tidak menggunakan Internet dan perangkat gadget itu sebagai sumber belajar yang mengayakan, masyarakat, mulai dari anak-anak, hingga dewasa bahkan tua, lebih memilih dan menggunakan gadget untuk hal-hal yang tidak menambah ilmu, ketrampilan dan mengubah sikap atau perilaku yang lebih baik, tetapi sangat bersifat just for fun. Ya, untuk kebutuhan entertainment, hiburan. Namun, bagi mereka yang punya semangat belajar, seperti para pebisnis, mereka menggunakan perangkat itu secara berimbang, bahkan lebih banyak untuk kepentingan bisnis, seperti bisnis online dan sebagainya. Nah, bagaimana denganmu Nak?

Anak : Ya, lebih banyak nonton video, chatting dan main game online yah.
Ayah : Apa yang sudah kamu dapat?
Anak : Ya, enjoy saja yah.
Ayah : enjoy? Ya. Tentu kamu enjoy dan bisa menikmati tanpa rasa bosan. Bisa berjam-jam, bahkan seharian kamu di warung kopi atau cafe. Berapa banyak uang yang kamu dapatkan?
Anak : tidak ada uang masuk ya, tapi uang keluar yang ada.
Ayah : Enjoy boleh saja sayang. Tapi kita punya kebutuhan, harus ada uang agar bisa enjoy. Kalau tak ada uang, bagaimana enjoy? Jadi, mulailah “ make your own money”, learn how to make money”.
Anak: Tapi ayah, adakah cara yang paling enak mendapatkan uang?
Ayah : Hmm, ada sayang, tapi itu bukan cara terbaik untuk dunia akhirat.
Anak : Apakah itu ayah?
Ayah : Berkuasalah nak.
Anak : Berkuasa seperti apa?
Ayah : Jadilah kamu sebagai pemimpin di pemerintahan. Cari jabatan tinggi. Bisa jadi Presiden, Gubernur, Bupati atau kepala-kepala dinas. Pokoknya jadilah kamu pejabat. Pasti akan banyak uang dan kaya raya. Namun, harus diingat juga, untuk menjadi pemimpin di pemerintahan juga harus punya ilmu, ketrampilan dan perilaku baik. Kalau tidak, kamu akan menjadi pemimpin atau pejabat yang korup, suka menimbun harta benda, tak peduli halal atau haram, apa yang ada sikat saja. Itu bukan cara mencari uang yang benar. Kalau pun kamu menjadi kaya raya, tidak akan pernah ada berkah dari Allah. Apalagi yang namanya anak, suami. Istri dan segala harta yang diperoleh di dunia tersebut tidak ada satu pun yang akan dibawa ke alam kubur. Bahkan mobil yang mahal dan mewah yang kira gunakan sekarang, tidak mengantarkan kita ke kuburan, kecuali ambulans yang disedekahkan oleh orang lain. 

Ya, Pokoknya kamu sekarang harus belajar menjadi manusia yang kaya, dermawan dan berguna bagi banyak orang. Baik. Sekarang, ayo membaca. Ayo iqra. Itulah perintah Allah yang pertama. Ingat Allah itu Maha Tahu. Allah Maha Tahu, maka Allah memerintahkan  nabi Muhammad Rasulullah untuk Iqra. Kita sebagai umat Muhammad wajib sifatnya untuk membaca. Kita membaca, agar kita bisa mengetahui kekuasaan Allah dan menjadi insan yang bertaqwa kepada Allah.

Click to comment