POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

“KERAKUSAN” MEMBUNUH GENERASI MASA DEPAN

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



OLEH: TAUFIQ ABDUL RAHIM

 

Berbagai peristiwa dan kejadian miris saat ini demikian mengharu-biru menimpa kehidupan masyarakat rentan, terutama perempuan, remaja dan anak-anak. Hal ini menunjukkan  kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Kelompok rentan ini menjadi sasaran kekerasan, pelecehan, kejahatan, perlakuan  tidak senonoh dari manusia “durjana” serta tidak bertanggung jawab dengan berbagai perilaku yang menyimpang dari kehidupan manusia beradabdan tidak rasional. Kondisi terakhir semakin mengkhawatirkan kehidupan masyarakat, ini berkembang karena manusia semakin mempunyai kecenderungan kehidupan yang terlalu memperturutkan hawa nafsu. Baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan berkaitan dengan keperluan memenuhi kebutuhan konsumsi jasmani maupun rohani yang semakin menggila dan tidak lumrah secara manusiawi. Realitas memperturutkan hawa nafsu semakin membara dan bergejolak, dilampiaskan dengan perilaku dan pemenuhan keinginan yang semakin tidak dapat dikendalikan sebagai manusia normal. Ini merupakan bahagian dari tata dan struktur kehidupan masyarakat yang saling berhubungan dan berkegantungan antara satu dengan lainnya.


Hal ini semua berkaitan erat dengan usaha menusia untuk memenuhi keperluan serta kebutuhan hidup sebagai kondrat alamiah yang semakin berkembang sesuai dengan perkembangan berlaku. Dalam interaksi kehidupan ekonomi dan sosial yang semakin berkembang, menuntut setiap orang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dalam linkungan sosial kontemporer di tengah realitas kehidupan. Dimana kehidupan masyarakat sesungguhnya merupakan institusi, sebagaimana pemikiran seorang pakar ekonomi Amerika, Thorstein Bundle Veblen (1857-1929),melihat sesuatu kekhawatiran yang sangat memprihatinkan dalam kehidupan masyarakat secara umum. Gejala kehidupan Veblen yang sering disebut sebagai seorang “maverick” atau “lain dari yang lain”, karena Veblen berpijak pada pemikiran sendiri tanpa peduli dengan pemikiran-pemikran umum yang dianggap lumrah (maverick=person who dissents from the ideas of an organized group). Juga Veblen sebagai “iconoclast”, yaitu menyerang dan ingin menjatuhkan ide-ide atau gagasan-gagasan orang lain maupun institusi tradisional yang diterima secara umum (iconoclast=one who attacks and seeks to overthrow traditional or poular ideas or institution), sehingga dia tidak ragu menentang pendapat para establishment


Dalam bukunya The Theory of the Leisure Class(1899), perilaku orang terikat dengan masyarakat sekelilingnya, perilakunya menyumbang kepada perkembangan masyarakat, berusaha menghindari perbuatan yang merugikan orang banyak. Namun yang dilihatnya bahwa orang hanya mementingkan diri sendiri saja dan tidak terlalu tertarik dengan kepentingan orang banyak. Yang diperhatikan masyarakat hanya uang, tidak peduli apakah perillaku ekonominya merugikan orang lain atau tidak. Berlomba-lomba memperebutkan harta tanpa peduli terhadap caranya, dengan anggapan hanya harta yang mampu menaikkan status, harga diriatau gengsi seseorang dalam masyarakat.


Dengan status dan hartanya suka memamerkan diri. Penyakit pamer ini demikian cepat berjangkit di tengah kehidupan masyarakat, menggunakan waktu luang (leisure) melaksanakan aktivitas yang memperlihatkan kelas tertentu dalam masyarakat. Sehingga, aktivitas leisureini diindikasikasikan sebagai kesuksesan, orang kaya dan “hebat”, serta tidak memberikan izin anggota keluarganya mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat pada kelas yang lebih rendah di bawahnya. Denganharta berlimpah, maka akan berlomba-lomba untuk membeli barang-barang ataupun jasa digunakan untuk dipamerkan. Kecenderungan perilaku seperti ini disebut sebagai istilah conspicuous consumption, yaitu konsumsi barang-barang dan jasa bersifat ostentatious(pamer, berlagak), ini dimaksudkan agar orang kagum. Jadi menurut Veblen, “Conpicuous consumption of valuable goods is a means of reputability to gentlemen of leisure”. Disini incaran konsumsinya adalah  kemewahan dan mahal tanpa peduli apakah barang atau jasa tersebut berguna untuk kehidupan sehari-hari maupun tidak. Makin mahal dirasakan sebagai makin “indah” serta “hebat”, kepuasan terhadap barang dan jasa yang ditunjukkan atau pamer, apabila orang lain kagum,mendapat pujian serta sanjungan sehingga meningkatkan kepuasannya, dengan memperlihatkan perilaku hidup mewah. Menurut Duesenberry lebih lanjut dikenal dengan istilah demonstration effects.


Perilaku dalam mencari uang melakukan trik-trik bisnisdengan prinsip “production for profit”. Tanpa segan untuk melakukan tindakan seperti pemangsa (predator), memperoleh keuntungan dengan berbagai cara tanpa peduli akan masalah orang lainnya, termasuk karyawan/pegawai yang berekerja pada usaha miliknya. Apalagi nasib konsumen ataupun masyarakat lainnya. Sehingga menjadikan posisinya sebagai absentee ownership, pengusaha yang berkapasitas besar, tanpa terlibat langsung aktivitas operasional, tetapi mendapatkan keuntungan besar. Sehingga berusaha melakukan ekploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, massive, serakah, rakus tidak perduli terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan. Juga tidak peduli  keseimbangan, keberlanjutan setelah megeruk hasil yang diperolehnya, serta dapat berdampak ganda terhadap perilaku kehidupan masyarakat sekitarnya.


Dalam kehidupan masyarakat yang selaras dengan akibat buruk yang ditimbulkan adalah, semua dianggap untuk kepentingan untuk pemenuhan keperluan/kebutuhan barang dan jasa yang dikonsumsikan tanpa peduli kondisi sekitar yang berakibat buruk serta negatif. Perilaku ini tampak dalam kehidupan masyarakat memproduksi dengan cara semena-mena merusak aspek sosial, lingkungan dan tanpa menyisakan untuk masa kehidupan masa depan. Secara sosial masyarakat tidak menghargai aturan agama, hukum, sosial, budaya, psikologi dan lain-lain. Kemudian memanfaatkan kebebasan tanpa batasan. Jadi masyarakat juga tidak segan untuk bertindak brutal, menyimpang, kekerasan,  menghancurkan, memangsa antara sesama, bahkan membunuh sebagai perilaku yang dianggap tanpa dosa. Juga berbagai perilaku menyimpang lainnya yang lebih miris lagi merambah kehidupan masyarakat, yakni dampak kehidupan yang dianggap serba membanggakan serta “hebat” dampak global kehidupan sosial-kemasyarakatan hubungan laki-perempuan bagaikan suami-istri bebas (free sex) tanpa nikah, hasilnya semakin banyak dibuang serta dicapakkan atau dibunuh begitu saja tanpa tanggung jawab, dan ini jelas-jelas kerakusan serta nafsu membunuh generasi masa depan.             

 

  

 

 

 

 

 

Click to comment