Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Ketika Sekolah Mati Suri

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



Oleh Tabrani Yunis



 

Sejak virus Corona atau Covid 19 mewabah dan merajalela di seluruh penjuru dunia ( baca Global), proses belajar di sekolah tidak bisa berjalan, karena Corona atawa Covid 19 menjadi pandemi yang menakutkan. Takut karena virus ini mudah dan sudah menyebar dengan cepat dan jutaan orang sudah terpapar, yang kemudian dinyatakan sebagai ODP, OTG, PDP dan sebagainya. Semakin menakutkan, karena Covid 19 tersebut bukan hanya membuat orang-orang menderita sakit masih terus melonjak,  yang hingga 20 November 2020 kasus positif Corona terus mengalami lonjakan dengan total 56.804.454 kasus, tetapi juga banyak yang meninggal. Tirto.id yang menguktip data dari John Hopkins University (JHU) Jumat, 20/11/20 mencatat jumlah meninggal dunia akibat virus Corona di seluruh dunia adalah sebanyak 1.358.411 kasus. Sementara jumlah kematian akibat Covid 19 di Indonesia mencapai angka 15.678 orang Mengerikan bukan?

 

Jelas sangat mengerikan.  Semua orang, bangsa dan Negara terlihat pontang panting, dalam ketakutan. Tentu saja wajar apabila rasa takut itu amat besar, karena ancaman yang sangat besar. Ketakutan yang amat besar itu memaksa kita berubah dan keluar dari segala kebiasaan yang sudah begitu lama terpola. Covid 19  pun memaksa kita berupaya menghindari atau mencegah mewabahnya Covid 19 di tengah masyarakat kita hingga  berdoa agar wabah Covid 19 segera berakhir. Untuk bisa mencegah menyebarnya virus yang mematikan ini, kita seluruh manusia dipaksa berubah dan mengikuti perubahan yang diakibatkan oleh meluasnya sebaran virus ini. Mengubah segala yang normal menjadi kurang dan tidak normal hingga masuk ke era New Normal. Walau kini kita memasuki era New Normal, ketakutan itu masih menghantui kita dan membuat seluruh sector kehidupan mati suri dan bahkan mati sama sekali, termasuk lembaga-lembaga pendidikan yang sangat kita butuhkan untuk membangun masa depan generasi bangsa ini. Lembaga-lembaga pendidikan yang disebut sekolah dan Universitas mati suri.

 

Fakta membuktikan bahwa sudah lebih satu semester, sebut saja delapan bulan, bahkan hampir setahun anak-anak di sejumlah daerah di tanah air tidak belajar sebagaimana layaknya sebelum pandemic Covid 19 mewabah di tanah air. Semua lembaga pendidikan, mulai dari yang paling rendah, seperti PAUD, SD, SMP hingga Perguruan tinggi ditutup (dihentikan) proses belajar mengajar tatap muka. Artinya, tidak ada aktivitas belajar memgajar dengan interaksi langsung atau tatap muka. Penutupan proses belajar mengajar tatap muka di sekolah mengharuskan sekolah mecari alternative agar anak-anak tetap belajar dengan cara belajar di rumah. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan tentang pembelajaran di masa pandemic yang termaktub dalam SK 4 Menteri tentang tata laksana pembelajaran semasa pandemic.

 

Ya, suka atau tidak suka, anak-anak  terpaksa atau diharuskan melakukan aktivitas belajar di rumah, sejalan dengan anjurkan agar semua aktivitas dilakukan di rumah. Maka tidak ada pilihan, kecuali belajar di rumah saja. Artinya, selama ini proses belajar mengajar berpindah tempat dan waktu serta segala sumber belajar di rumah. Belajar di rumah sendiri, atau anak dibantu oleh orang tua, baik ayah atau ibu. Mulailah diprakarsai model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online dengan memanfaatkan perangkat internet dan juga luring ( luar jaringan) atawa offline.  Sebuah suasana belajar yang dapat dikatakan baru dan tidak biasa, karena kita sebelumnya sudah terbiasa dalam paradigma sekolah tatap muka. Kita sudah terbiasa setiap pagi, di hari-hari kerja dari hari Senin hingga Sabtu atau bagi yang sekolah lima hari, dari Senin hingga Jumat, bersiap-siap berangkat ke sekolah, masuk sekolah mengikuti jadwal yang sudah terusun dan dipatuhi, masuk kelas, belajar bersama rekan-rekan sebaya yang dibimbing oleh satu atau beberapa guru, belajar dengan terarah dengan target yang sudah dirancang sejak awal.

 

Sehingga, bila kita melihat kondisi bangunan-bangunan sekolah  dan perguruan tinggi yang biasanya ramai dengan peserta didik dan para guru serta pegawai sekolah, selama masa pandemic, sekolah-sekolah termasuk Universitas menjadi bangunan yang sepi dari keriuhan peserta didik. Kampus-kampus yang biasanya penuh dengan mahasiswa, tampak sangat lengang. Kalau pun ada orang, mungkin hanya guru atau dosen dengan para karyawan, sementara semua peserta didik, berada di luar sekolah atau di luar Universitas, bisa di rumah, di super market, mall atau warung kopi, mengakses internet atau menikmati sajian kopi dan lainnya. Yang pasti, mereka tidak berada di sekolah atau kampus. 

 

Nah, ketika lembaga-lembaga pendidikan, sekolah dan universitas mati suri di masa pandemic ini, karena pandemi Covid 19 memaksa sekolah dan semua lembaga pendidikan ditutup dan tidak ada belajar tatap muka. Bayangkan apa yang terjadi terhadap jutaan anak yang harusnya menikmati layanan pendidikan secara normal, yang berbaur dalam proses pembelajaran yang interaktif, antara anak dan guru, terputus dan harus belajar di rumah ( learning or studying at home) dengan pelayanan belajar dengan orang tua yang memiliki latar belakang pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang mungkin jauh dari kebutuhan anak-anak. Mengapa demikian? Karena pembelajaran yang selama ini dijalankan oleh guru, mau atau tidak mau, harus diemban oleh orang tua dengan segala keterbatasan.

 

Jangan heran kalau selama lebih dari satu semester ini, anak-anak yang biasanya belajar tatap muka dengan para guru di sekolah dan ditemani teman-teman sebaya, kini sudah tidak bisa lagi bertatap muka.  Sekolah-sekolah secara defacto, ditutup dan para peserta didik pun menjadikan momentum ini sebagai masa libur panjang, walaupun sebenarnya proses pembelajaran alternative bagi banyak sekolah ada dilakukan, terutama sekolah-sekolah yang tergolong agak siap yang menggunakan alternatif belajar online. Ya, karena yang harus dilaksanakan, apakah suka atau tidak, sekolah-sekolah tersebut sudah melakukan pembelajaran lewat penggunaan jasa internet yang disebut online atau daring dan offline atau luring itu.


Idealnya penggunaan internet lewat online dan offline bisa berjalan dengan baik, sebagai satu-satunya jalan keluar atau solusi agar anak-anak atau peserta didik bisa belajar di rumah yang dibantu oleh kedua orang tua di rumah. Sayangnya, sebagai sebuah model pembelajaran yang dilakukan dalam kondisi mendadak, darurat dan serba baru, membuat proses pembelajaran tidak berjalan efektif. Sangat banyak masalah yang muncul. Semua orang berhadapan dengan berbagai kesulitan. Kesulitan karena kebanyakan tidak siap menghadapi keadaan buruk seperti ini. Ketidaksiapan orang tua, sebagai pihak yang menjalankan peran pendidikan keluarga yang menjadi basis pendidikan, dengan latar belakang kemampuan mendidik dan mengajar yang beragam dan timpang, kondisi ekonomi yang rendah, penguasaan teknologi yang juga masih rendah, menjadi masalah besar dalam masa pandemic ini. Tidak heran apabila di awal-awal mati surinya lembaga pendidikan dan dilaksanakan model pembelajaran online, masalah yang dihadapi adalah tidak tersedianya perangkat belajar online yang merata di kalangan masyarakat dan bahkan sekolah-sekolah. Segudang persoalan bermunculan. Orang tua yang merasa kesulitan, mulai gusar dengan masa depan pendidikan anak. Kesulitan dalam menyiaplan masa depan anak yang ideal dan sebagainya. Anak-anak yang sudah terbiasa bersekolah, semakin stress dan rindu pada sekolah mereka. Namun, di tengah kegalauan tersebut, pemerintah seperti kelihatan sangat berhati-hati dan enggan membuka sekolah. Walau ada sekolah yang berinisiatif berusaha memulai proses belajar tatap muka dengan cara yang juga tidak normal.

 

Mati surinya lembaga pendidikan, atau sekolah dan universitas di masa pandemic ini, mengingatkan kita akan Ivan illich di tahun 1970-an dengan gagasan kontroversialnya deschooling, yang kemudian juga banyak orang menulis tentang eksistensi sekolah. Misalnya ada yang menulis buku yang sifatnya melakukan kritik-kritik terhadap sekolah dengan melihat sekolah tidak perlu. Kita bisa baca buku yang berjudul “ Lebih baik Tidak Sekolah”, sebuah buku yang ditulis oleh Sujono Tamba. Kritik lain terhadap sekolah misalnya para pembaca mungkin pernah membaca bukunya Roem Topatimasang dengan judul “ Sekolah itu Candu”. Bahkan penulis juga pernah menulis di media beberapa tahun lalu dengan Judul, Masih Perlukah sekolah?

 

Jadi, pandemic Covid 19 ini sebenarnya juga membuka mata, pikiran kita untuk kembali melihat sekolah yang mati suri, serta sekali gus merefleksikan hubungan kebutuhan kita akan sekolah yang menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan formal. Saatnya kita melihat seberapa pentingnya peran orang tua, guru dan sekolah untuk menyiapkan masa depan anak-anak kita, serta seberapa pentingnya sekolah bagi anak-anak kita. Pandemi Covid 19 yang telah membuat lembaga-lembaga pendidikan mati suri, selayaknya menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk melihat kembali eksistensi sekolah.

Click to comment