Langsung ke konten utama

Kisah Sukses Penanganan ODDP di Aceh


 

Ilustrasi : Geotimes

Oleh Harri Santoso

 

 

ODDP adalah singkatan dari Orang Dengan Disabilitas Psikososial. Kawan-kawan medis dan psikologi sering menyebutnya dengan istilah ODGJ atau Orang Dengan Gangguan Jiwa. Penulis merasa bahwa istilah ODDP jauh lebih enak didengar dibanding dengan istilah ODGJ sebagaimana masyarakat kita pada umumnya. Jika mendengar istilah sakit jiwa, responnya jauh lebih negatif dibandingkan dengan masalah psikososial. Penulis sadar bahwa perubahan istilah ini ditujukan agar dapat menghilangkan stigma negatifterhadap masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Tulisan ini  ditulis berdasarkan kunjungan yang saya lakukan dengan beberapa orang staf Forum Bangun Aceh, sebuah lembaga non-profit yang berpusat di Banda Aceh bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dan beberapa puskesmas di sejumlah kabupaten di Aceh seperti Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Utara. 

            Kunjungan ini  dilakukan terhadap 2 orang penerima manfaat program Aceh Comprehensive Community Mental Health(ACMH). Program Komprehensif Kesehatan Mental yang telah dilakukan sejak 2018 untuk mencoba membuat cerita tentang mereka sebelum dan sesudah pendampingan. Program ini menyasar ODDP dengan status mandiri yaitu orang disabilitas dengan psikososial yang telah dinyatakan mandiri, yaitu mampu melakukan semua aktivitas, seperti minum obat sendiri tanpa bantuan keluarga atau dengan kata lain adanya kesadaran untuk minum obat ketika merasa ada keluhan di badannya, bersosialisasi dengan masyarakat meskipun dengan kadar yang minimal, sehingga mereka dapat kembali hidup seperti manusia lainnya. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh per tahun 2017 melaporkan terdapat sekitar 21,349 jiwa masyarakat Aceh mengalami kondisi gangguan jiwa. Namun jumlah ini belum mencakup data mereka yang berisiko serta beberapa kondisi lainnya. Dengan jumlah kasus yang terus bertambah dan jika tidak ditangani dengan baik, maka sangat dikhawatirkan akan meningkatnya kasus gangguan psikososial berujung pada bunuh diri di Provinsi Aceh. Pada tahun 2020, Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe mencatat hingga bulan Agustus 2020 terdapat sebanyak 556 orang di Kota Lhokseumawe mengalami gangguan kejiwaan. Jika dilihat secara umum, penyebab munculnya masalah psikososial atau jiwa antara lain permasalahan ekonomi, narkoba, permasalahan rumah tangga serta masalah lainnya.

            Jujur saya merasa salut dan bangga atas apa yang telah dilakukan oleh teman-teman NGO khususnya Forum Bangun Aceh, Dinas Kesehatan Propinsi Aceh dan Puskesmas, dengan pendampingan yang mereka lakukan, ODDP ini mampu hidup secara lebih baik, sehat dan dapat memberikan kontribusi yang positif tidak hanya keluarga, tetapi juga masyarakat setempat. Sebagai contoh, pasien A, saat ini dia telah memiliki peternakan kambing yang didirikan di atas tanah keluarganya. Bantuan kambing dan kandangnya, ia peroleh dari program ACMH. Pasien A telah memelihara ternak kambingnya selama 2 tahun dan telah menghasilkan beberapa ekor kambing dan telah berhasil menjual kambing tersebut dan memberikan sebagai hewan kurban pada tahun lalu. 

 

Pada pasien B, ia telah berhasil membantu perekonomian keluarga dengan cara mengembangkan usaha warung kecil-kecilan di rumah yang dia miliki serta dengan aktivitas belajar mengaji Al-quran di mushalla tempat dia tinggal. Keberhasilan di atas tentulah tidak datang dengan sendirinya, tetapi hadir karena adanya kepedulian anggota keluarga, pemuka masyarakat dan pemerintah tentunya serta pendampingan yang komprehensif yang telah dilakukan oleh forum Bangun Aceh melalui program ACCMH.  

Bercermin dari kunjungan di atas, penulis merasa khawatir di lingkungan penulis tinggal masih banyak ODDP yang berkeliaran tanpa ada yang peduli, hidup di halte bis, ruko-ruko bahkan menjadi menjadi cemoohan masyarakat. Oleh karenanya, melalui tulisan yang dimuat potretonline ini, penulis berharap bahwa ODDP dapat kembali sembuh seperti sediakala, andai saja adanya dukungan baik keluarga dan masyarakat. Selain pengobatan medis, dukungan psikologis masyarakat sangat bermanfaat bagi mereka. Selain itu, pendampingan yang komprehensif antara keluarga, masyarakat dan negara, para ODDP dapat hidup di tengah-tengah masyarakat seperti sediakala. Semoga kita dapat mengambil pembelajaran di dalamnya.

 

Harri Santoso.,S.Psi.,M.Ed.,Grad Dipl adalah Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Ketua Bidang Riset dan Publikasi HIMPSI Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis Chapter Banda 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me