POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Pendidikan Karakter bagi Generasi 4.0 Indonesia

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 



Oleh Mulyana, S.Pd

Guru SMP Negeri 3 Masjid Raya, Aceh Besar

Mengawali ulasan ini, penulis mengutip pernyataan Kouzes and Posner (2004) yang mengatakan,

Be careful of your thoughts, for your thoughts become your words. Be careful of your words, for your words become your deeds. Be careful of your deeds, for your deeds become your habits. Be careful of your habits, for your habits become your character; Be careful of your character, for your character becomes your destiny;

Kurang lebih kita dapat mengartikan bahwa berhati-hatilah dengan pikiranmu, karena pikiranmu akan menjadi kata-katamu. Berhati-hatilah dengan kata-katamu, karena ia akan menjadi perilakumu. Berhati-hatilah dengan dengan perilakumu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu, dan berhati-hatilah dengan karaktermukarena ia akan menjadi nasibmu.Dari ungkapan Kouzen dan Posner di atas dapat kita simpulkan pentingnya karakter di mana karakter akan membawa kepada masa depan, baik itu perseorangan maupun kelompok.

Era revolusi industry ke 4 ini memberikan  banyak perubahan dari lini kehidupan manusia. Tak terkecuali kehidupan sosial dan karater kepribadian setiap individu. Fenomena kehidupan di sekitar kita saat ini yang kian hari bergeser dari khasanah karakter ketimuran yang kita kenapenuh dengan nilai-nilai agamis dan solidaritas yang kita sebut gotong royong. Kehidupan masyarakat yang semakin individualistis dan apatis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, salah satu indikator semakin hilangnya nilai-nilai ketimuran.Hal ini merupakan dampak informasi teknologi yang terjadi begitu cepat di era disrupsi dan tidak terbendung oleh filter yang cukup baik.

Generasi muda danpara remaja yang merupakan penyambung estafet bangsa semakin terabaikan akibat hilangnya kontrol sosial di masyarakat. Tidak ada lagi nasihat di warung kopi buat para remaja yang tidak masuk sekolah, walau para orang dewasa itu tahu mereka berseragam sekolah dan pada jam sekolah. Mulai jarang kita mendengar teguran buat remaja yang berbuat di luar norma ketimuran seperti bergaul secara berlebihan antara beda jenis kelamin. Semuanya hidup untuk dirinya dan apatis terhadap pelanggaran-pelanggaran nilai-nilai norma yang dulunya sangat dijnunjung.

Kondisi di atas, menggambarkan betapa para pemuda, remaja mulai kehilangan karakter jati dirinya sebagai bangsa ini.  Kondisi ini pula menggambarkan cacatnya pendidikan kita. Pendidikan bukan hanya di sekolah atau institusi formal, namun juga di informal. Sebagaimana kita ketahui bersama tri pusat pendidakan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat adalah segitiga emas pendidikanyangsama-sama berperan dalam membentuk karakter anak bangsa.

Betapa pentingnya pendidikan karakter di sekolah, karena menurut Ali Ibrahim akbar,  selama ini praktik pendidikan di Indonesia cenderung berorientasi pada pendidikan berbasis hard skill(keterampilan teknis), yang lebih bersifat mengembangkanintelegence quotient(IQ). Sedangkan kemampuan soft skillyang tertuang dalam emotional intelegence(EQ) dan spiritual intelegence(SQ) sangat kurang. 

Faktor lainnya yang menjadikan pendidikan karakter sangat penting untuk dipraktikkan adalah adanya problem akut yang menimpa bangsa ini. Karakter generasi muda sudah berada pada titik yang yang sangat mengkhawatirkan. Moralitas bangsa ini sudah lepas dari norma, etika agama, dan budaya luhur. Seks bebas menjadi fenomena bagai gunung es. Dalam hal ini penulis menyajikan beberapa fakta hasil penelitian, misalnya sebanyak 42,3% pelajar di Cianjur telah berhubungan seks pranikah (Waspada, edisi 11 Februari, 2007). Selain itu, penelitian yang dilakukan di lima kota di tanah air, sebanyak 16,35% dari 1.388 responden remaja mengaku telah melakukan hubungan seks di luar nikah atau seks bebas. Sebesar 42,5 % responden di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan hubungan seks di luar nikah. Sedangkan 17% responden di Palembang, Sumatra Selatan, Tasik Malaya dan Jawa Barat juga mengaku melakukan tindakan yang sama. Bahkan di kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Jakarta, Bandung Yogyakarta, dan Surabaya juga sangat tinggi, bahkan melebihi 50%. Yang lebih mengejutkan untuk kota Yogyakarta, sekitr 97,05% remaja di sana telah melakukana seks bebas.Aceh khususnya yang notabene adalah pelaksana syariat Islam, tidak terlepas dari masalah di atas, walau sampai saat ini penulis belum mendapat data konkrit.

Dengan kenyataan itulah, penulis berharap dan menganjurkan agar pendidikan karakter sesegera mungkin diinternalisasikan di sekolah. Caranya adalah dengan mengoptimalkan peran sekolah sebagai pionir. Pihak sekolah harus bekerja sama dengan keluarga, masyarakat, dan elemen bangsa yang lain demi suksesnya agenda besar menanamkan karakter kuat kepada peserta didik sebagai calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Lebih lanjut guru sebagai kunci penanaman pendidikan karakter pada peserta didik harus mambantu dalam membentuk watak dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal yang lainnya.

Akhirnya penting pula mendorongperan aktif ketiga unsur tri pusat pendidikan, yang merupakan hal mutlak, harus kita lakukan sebelum terlambat. Peran masyarakat dalam bentuk kontrol sosial perlu digalakkan peran keluarga juga tidak kalah penting. Ini merupakan tugas kita di keluarga, pemerintah dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari RT hingga Presiden. Sebelum semuanya terlambat dan nilai-nilai ketimuran benar-benar terdegradasi habis dan tinggal kenangan, yang berujung hilangnya jati diri bangsa.


 

 

Click to comment