PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Pendidikan Kita, Sebuah Refleksi

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh Ahmad Rizal

Berdomisili di Depok


Ketika mulai menceburkan diri di dunia "kangouw" pendidikan, modal saya hanya merasa "ada yg salah" dalam dunia strategis yang merupakan kunci menuju "Insan Kamil" atau manusia paripurna ini. Apa yang salah dan apa ukurannya, saya malah mendugapun belum berani. Ukuran sukses saat itu, dua puluhan tahun yang lalu  adalah APK (Angka Partisipasi Kasar) atau bahasa sederhananya, berapa % anak usia sekolah bersekolah. Ketika anak usia SD sudah bersekolah mendekati 98 %, kita berharap mereka sudah tuntas memahami "Ilmu Dasar" fondasi meneruskan ke SMP/MTs dan seterusnya.


Di awal Tahun 2000an, Indonesia mengikuti uji Trend for International Math and Science Studies (TIMSS) kerjaan Boston University USA yang mengukur kompetensi nalar matematika dan sains murid seusia SD/MI berbagai negara. Hasil Indonesia saat itu sangat baik dan diragukan, dilakukanlah TIMSS-repeat dan dipercayai, hasil Indonesia buruk. UK dengan hasil TIMSS ini sampai membuat berbagai program, karena mereka percaya, jika fondasi matematika dan sains buruk, di masa depan akan membebani negara.


Hasil TIMSS 2007 dan hasil UN sangat kontras dan Indonesia mulai ikut uji Program for Internasional Student Asssment (PISA) yang dikelola oleh negara OECD (Oganisasi Negara-negara Berekonomi Maju). Sayapun, meski tak berlatar bidang "Measurement", baik di ranah pendidikan, psikologi atau matematika, meyakini bahwa uji TIMSS dan PISA itu meski tak mengukur secara formatif, namun bisa menduga secara sumatif, kompetensi dasar murid - murid sekolah. 


Akhirnya saya menulis kolom di Koran Tempo pada tahun 2010 agar pemerintah Indonesia jangan merasa baik - baik saja (komplasen) dengan kondisi pendidikan dasar kita, karena medali-medali Olimpiade Matematika dan Sains sering diperoleh murid-murid Indonesia. Belakangan saya baru tahu, soal-soal Olimpiade seperti itu dijual seharga jutaan dan murid pandai dilatih menyelesaikan.


Awal Tahun 2018, saya membaca posting kawan- kawan guru di beberapa tempat di Indonesia, sebagian di Jawa, bahwa siswa-siswa SMA mereka yang akan diajari mapel Kimia, 70% tak faham operasi pecahan dan hitungan % (persen/peratus). Akhirnya saya konfirmasi kepada mereka. Ternyata sudah terjadi bertahun - tahun dan kerjaan guru kimia itu adalah mengajari murid-muridnya aritmatika jenjang SD/MI. Meski cemas, saya tidak terkejut dan hanya berfikir terus bahwa kuncinya di mutu guru, namun "bukankah LPTK, Kemdikbud P4TK, LPMP,  Pemkab, PGRI itu sangat mengurusi guru, kok hasil hasil belajar jadi seperti ini".


Saat ngomel sudah lewat, saya kontak sohib muda saya, Dhitta Puti Sarasvati dan mengajak membuat sebuah Gerakan Nasional (Gernas), menemani guru SD/MI dengan cara "melatih" para Relawan yang nanti akan menjadi kawan guru SD/MI meningkatkan kompetensi matematika SD/MI mereka. Puti menyambut baik dan saya jawili semua pihak dan Tuhan YME bersama kami berdua dan kawan-kawan. 10 November 2018 Gernas Tastaka dideklarasikan. Desember 2018 WB membuat Laporan buruknya hasil belajar murid Indonesia. PISA 2018 pun dirilis, tak mengejutkan, kompetensi membaca siswa Indonesia kembali ke posisi 18 Tahun yang lalu (Tahun 2000), pertama kali ikut PISA dan seterusnya yang sudah kita ketahui. 


Hasil buruk Asesmen itu, termasuk asesmen kompetensi siswa Indonesia (AKSI) yang sebelumnya disebut Indonesia National Assement Program (INAP),  bahkan ada hasil asesmen di provinsi, kadangkala malah diragukan. Tidak mengukur ini atau itulah. Saya percaya dan secara umum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi, mari kita bergotongroyong melakukan perbaikan dalam bentuk Gerakan. Saya masygul, belum ada Gernas Memberantas Buta Membaca (Functionally Illiterate) seperti Gernas Tastaka. 


Ayo ahli bahasa, jangan sampai nanti di akhirat, ditanya malaekat "kalian ahli bahasa, menyaksikan murid-murid bisa membaca, namun tak faham dengan yang dibaca kenapa diam saja ?...." dan kalian tak bisa menjawab.

-- 

Click to comment