POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

SEMAKIN LEZAT SEPOTONG ROTI, SEMAKIN BANYAK TITIK KRITIS KEHALALANNYA ?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


 

Oleh Hasbi Yusuf

 

 

                  

 

Roti termasuk makanan pokok bagi kebanyakan orang di berbagai belahan dunia. Untuk orang Indonesia, mungkin roti termasuk makanan pokok sebagian orang saja. Namun roti sering dimakan oleh kebanyakan orang sebagai makanan untuk sarapan pagi. Makan roti bagi kita sering juga saat minum teh atau minum kopi, baik di rumah, di café atau di warung kopi. Hampir semua kita tentu saja sangat menyukai kue atau roti, baik yang kita buat sendiri maupun yang kita beli di pasar atau di toko roti (bakery)

Dalam kenyataannya roti itu ada bermacam-macam cita rasanya. Ada yang tidak lezat, ada yang kurang lezat, ada yang lezat, ada yang sangat lezat, malahan ada yang sangat-sangat lezat. Kelezatan sepotong roti sangat tergantung dari kemampuan seorang membuat resep atau meracik adonan dan mengolahnya serta komposisi bahan (ingredient) yang melengkapinya. 

Semakin lengkap dan tepatnya ingredient racikan adonan serta kelihaian memilih mutu bahan dan keterampilan dan keahlian mengolahnya, semakin besar peluang mendapatkan cita rasa dan kelezatan sepotong roti. Biasanya bahan-bahan bermutu telah mengalami pengolahan yang bertingkat dan perlakuan yang melebihi biasanya, sehingga menyababkan harganya juga jauh di atas harga bahan-bahan biasa.

Bahan-bahan alami biasanya bersifat halal, namun karena telah mengalami perlakuan dan pengolahan atau rekayasa, maka seringkali telah dicampur atau berproses tidak alami lagi yang menyebabkan menjadi diragukan kehalalannya. Apalagi jika telah bercampur dengan unsur-unsur bahan yang jelas diragukan keharaman atau kehalalannya, meskipun sangat sedikit jumlahnya.

Dalam kesempatan ini kami hanya mengulas dan memperbincangkan mengenai bahan-bahan yang sering digunakan dalam pembuatan kue atau roti yang telah beredar di pasar. Hal ini kami lakukan karena kami menyaksikan sendiri betapa pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari sangatlah rendah. Situasi ini bukan hanya berlaku pada masyarakat awam dan ekonomi lemah, namun lebih serius terjadi pada masyarakat yang berpendidikan relatif lebih tinggi. Malah terjadi pada masyarakat yang kemampuan ekonominya di atas rata-rata. Lebih-lebih lagi terjadi di kalangan masyarakat yang memiliki gaya hidup modern dalam berkuliner-ria.  Lebih parah lagi terjadi pula secara sitematis dan massif pada kelompok orang yang bertanggung jawab dan bersentuhan langsung (stakeholder) yang mendapat tugas dan amanah menyelengarakan Sertifikasi Halal (SH) dan Sistem Jaminan Halal (SJH). 

Dalam kesempatan ini saya memulai dengan produk roti atau atau sejenisnya dan ada juga orang yang menyebutnya bakery. Saya memilih roti karena produk ini sangat banyak menggunakan Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang sangat kompleks. Bakery termasuk produk makanan yang memiliki banyak peluang masuknya bahan haram ke dalamnya, sehingga mutlak harus dicermati “titik kritis kehalalannya”. Berikut ini beberapa bahan (ingridient) yang sering digunakan dalam pembuatan roti, kue atau kuliner, baik yang dikonsumsi sendiri atau memenuhi pesanan juga yang beredar di pasar atau toko-toko roti :

 

Pertama : Tepung Terigu

Bahan utama pembuatan produk roti atau sejenisnya adalah tepung terigu (tepung gandum = tepung roti).  Secara garis besar, bahwa tepung terigu terbagi kepada dua macam, yaitu tepung gandum keras (Strong Flour), dan tepung gandum lunak (Soft Flour). Tepung gandum keras (Strong Flour) lebih bersifat alami, sedangkan tepung gandum lunak biasanya dalam pengolahannya seringkali telah ditambahkan dengan bahan-bahan aditif yang berfungsi untuk meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan dan memperbaiki nilai gizi yaitu memperkaya dengan vitamin dan mineral.

 

Untuk meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang banyak dilakukan adalah menambah dengan  L-Sistein (biasanya dalam bentuk hidroklorida) yang berfungsi sebagai improving agent (meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan), yaitu agar produk makanan menjadi mudah mekar. 

 

L-Sisteinyang banyak beredar di pasaran dan murah dihasilkan dari rambut manusia.L-Sisteinyang terbuat dari rambut manusia tentu saja statusnya hukumnya dipastikan adalah haram bagi umat Islam.Untuk memperbaiki nilai gizi ditambahkan juga bahan adiktif dalam bentuk vitamin dan mineral. Dalam penambahan vitamin dan mineral ini yang harus diwaspadai adalah penambahan vitamin-vitamin yang tidak larut dalam lemak dan mudah rusak selama penyimpanan, diantaranya adalah vitamin A. Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueoust)dan agar tidak mudah rusak selama penyimpanan harus disalut. Seringkali bahan salut yang digunakan seperti jenis gum dan dari bahan Gelatin(diragukan kehalalannya).

 

Minimal ada tiga titik kritis kehalalan (TKK) pada tepung terigu yang perlu diwaspadai. Pertama: L-Sistein(yang terbuat dari rambut manusia). Kedua: Penambahan vitamin yang tidak larut dalam lemak dan yang mudah rusak karena penyimpanannya. Ketiga: Penggunaan Gelatin  sebagai bahan penyalut. 

 

Bersambung … !

Click to comment