POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Semakin Putih Warna Gula Pasir, Semakin Banyak Titik Kritis Kehalalannya?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>





Oleh Hasbi Yusuf



“   Ketika kita perhatikan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja gula pasir, kebanyakan orang lebih cenderung memilih gula pasir yang putih, bersih berkilau untuk dikonsumsi. Mereka menganggap bahwa gula pasir yang putih, bersih dan berkilau dengan harga yang lebih mahal dipastikan merupakan gula yang paling bersih, sehat, dan paling higienis dan paling memenuhi kriteria untuk dikonsumsi, dibandingkan dengan gula pasir yang agak kecokelatan dengan harga relatif lebih murah ”

 

Gula merupakan bahan pangan yang sangat penting dan  dikenal luas dalam kehidupan manusia. Semua orang pasti mengenal gula, karena penggunaan gula dalam berbagai masakan dan minuman, baik di rumah tangga ataupun di industri makanan dan minuman. Gula yang paling dikenal orang adalah gula putih dan gula merah,  karena sering digunakan orang. Gula merupakan karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan termasuk dalam sembilan bahan pokok serta komoditas perdagangan utama.

Gula dibuat dari bahan baku nira yang dapat berasal dari bebagai tumbuh-tumbuhan atau tanaman, seperti: tebu, aren, kelapa, lontar,  jagung, bit dan lainnya. Pada dasarnya semua bahan baku pembuatan gula adalah halal karena semuanya merupakan bahan baku bersifat alami. 

Gula adalah suatu karbohidrat yang sederhana serta menjadi sumber energi. Gula adalah salah satu senyawa yang paling penting dalam kehidupan kita sehari-hari, yang  dalam ilmu kimia gula termasuk dalam golongan senyawa sukrosa. Sedangkan sukrosa merupakan jenis gula disakarida yang dibentuk oleh gugus monosakarida glukosa dan fruktosa.

Sukrosa merupakan suatu disakarida yang dibentuk dari monomer-monomernya yang berupa unit glukosa dan fruktosa, dengan rumus molekul C12H22O11. Senyawa sukrosa ini dikenal sebagai sumber nutrisi yang hanya dibentuk oleh tumbuhan dan bukan dibentuk oleh organisme lain seperti hewan. Penambahan sukrosa dalam media berfungsi sebagai sumber karbon.

Dalam proses pembuatan gula terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan. Kemudian ada juga gula yang khusus diolah untuk mendapatkan gula yang bening mengkilat dengan melibatkan proses rafinasi. Perkembangan produksi gula di masyarakat sangatlah pesar perkembangannya, sehingga  saat ini telah didapati sekitar 40 macam gula dengan berbagai bentuk dan warna serta peruntukannya. Dalam kesempatan ini kita  membatasi pembahasan hanya pada gula pasir dan gula rafinasi saja dulu mengingat gula jenis ini yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan memiliki titik kritis yang jarang dipahami oeleh kebanyakan orang.

 

Gula Pasir                     

Gula jenis ini  paling banyak digunakan, sebagai pemanis   pada makanan dan minuman.  Gula ini berbentuk pasir berwarna putih kecokelatan

Proses pembuatan gula pasir terdiri dari beberapa tahapan,  sebagai berikut: mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan. Dalam tahapan-tahapan proses ini bisa jadi bahan haram masuk dan mencemari gula pasir. Titik Kritisnya jika proses pemurnian (penjernihan) menggunakan resin. 

           

Gula Rafinasi (Refined Sugar)                                                                     

Gula rafinasi adalah gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk menghilangkan molase (cairan kental yang mengandung gula telah dihilangkan terlebih dahulu, sehingga berwarna lebih putih dan bersih dibandingkan gula mentah. Gula rafinasi digunakan sebagai bahan baku untuk industry pengolahan makanan, minuman, atau farmasi. 

 

Titik Kritis Gula Rafinasi:

Meskipun bahan dasar semua gula alami berasal dari bahan nabati, namun beberapa hal mesti diperhatikan dan dicermati terutama terhadap bahan tambahan, bahan penolong, dan proses pembuatan gula tersebut. Warna gula pasir asli tidaklah putih bersih, melainkan agak berwarna cokelat. Agar warna gula menjadi putih, maka diperlukan proses pemurniannya. Dalam proses pemurnian diperlukan bahan-bahan tambahan yaitu butir carbon aktif untuk menghilangkan warna (decolorisasi) agar warna gula menjadi putih bersih. 

Di pasaran ada 3 macam butir karbon aktif dijual, yaitu dapat berasal dari tulang hewan, tumbuh-tumbuhan atau batu bara. Jika menggunakan butir karbon aktif yang berasal dari tulang hewan maka harus dapat dipastikan bukan berasal dari tulang babi atau tulang hewan yang tidak halal lainnya dan bukan pula dari tulang hewan halal yang disembelih  tidak secara syar’i.

Apabila dalam proses pemurnian (rafinasi) menggunakan resin penukar ion yang menggunakan gelatine, maka harus dipastikan gelatine tersebut bukan berasal dari unsur babi atau hewan yang tidak halal atau hewan yang disembelih tidak sesuai dengan syariat islam.

Di samping itu apabila dalam proses pembuatan gula menggunakan produk microbial maka harus dipastikan media yang dipakai adalah halal dan tidak bernajis. Selanjutnya untuk beberapa macam gula menggunakan bahan tambahan untuk anti kempal (anti cracking agent), yang berfungsi sebagai penyerap kelebihan air dengan melapisi partikel sehingga akan menolak air.  

Jadi kesimpulannya adalah “semakin putih warna gula maka semakin banyak titik kritis kehalalannya”.

 

Click to comment