Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Puisi dan Tsunami

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Surat Cinta buat Anak dan istriku

Oleh Tabrani Yunis

Maafkan aku,

Kalau tak pernah menuliskan sepucuk surat cinta buat mu anak dan istriku
Bukan tak ada cinta nan membara
Bukan jiwa nan kekeringan
Bukan pula cinta semakin gersang
tak tumbuh dalam jiwa

tapi, anak-anak dan istriku
hari ini, tak pernah lagi cukup air mata tuk menorehkan kata
di warkah nan ku bentang di depan mata

tak cukup lagi kata tuk lukiskan
betapa sesungguhnya cintaku sangat dalam
pada bening mata mu

Betapa rindu menghujam sudut hati
pada ceria senda gurau mu
pada sapaan selamat datang
ketika pintu rumah kau buka dengan jemarimu

Maafkan aku, kalau tak mampu menuliskan surat cinta buat kalian, anak-anak 
dan istriku

Tapi, wahai anak-anak dan istriku
hanya untaian doa yang kupanjatkan
keharibaan Allah


Ku mohon dapat disampaikan ke relung hatimu
sebagai ganti sepucuk surat cinta buat mu
Anak-anak dan istriku
yang telah pergi bersama catatan sejarah tsunami

Tabrani Yunis
Banda Aceh, 16 Mai 2005


 

 

Hari Rinduku

Oleh Tabrani Yunis

 

Hari ini, kucoba benamkan rinduku dalam  ombak

Biar luluh bersama cintamu 

Biar makin dalam

Menusuk kalbu

 

Hari ini,

Kucoba rangkaikan kata

Semoga jadi doa

Mengantarkan perjalanan kalian pulang ke rumah Ilahi

 

Hari ini, rindu semakin dalam

Kala wajah mu menjelma

Hiasi  pelupuk mata

Warnai dinding-dinding  hati

 

Hari ini,

Kucoba lupakan  semua keceriaan

Yang kau semai di sudut hati

Namun sanubari tak kuasa

Membuang keindahan yang pernah ada

Dan tak pernah terganti

 

Banda Aceh, 20 Mai 2005


Sepotong doa buat Anakku, Albar dan Amalina

Oleh Tabrani Yunis

                                    

Maafkan aku 

Wahai buah hati

Karena hanya bisa melukiskan rindu dengan air mata

 

Maafkan aku 

Wahai buah hati

Karena hanya bisa mengantarkan doa

Pada perjalananmu nan abadi

 

Maafkan aku

Wahai permata hati,

Kala langkah lengah 

Tinggalkanmu dalam musibah

 

Maafkan aku

Karena hanya hati yang lelah

Memamah luka

 

Maafkan aku

Wahai buah hati

Kalau harus rela dan tawakkal

Mengantarmu ke taman abadi

 

Maafkan aku

Bila aku begitu lemah

Menjaga  cinta kita

Memupuk kasih sayang,

Maafkan 

Kalau aku tak mampu membawa

Mahligai cinta 

Tak kuat menjaga kasih

Tuk Hidup seperti sedia kala.

 

Jum’at, 20 Mei 2005




Kutitip Rindu Pada Deburan Ombak

Oleh Tabrani Yunis

 

Ku titip rindu di deburan ombak  nan membelai pantai

Agar lega luka nan menganga

Obati duka pada cinta nan hilang

 

Ku titipkan rindu pada ombak

Agar setiap kali riak pecah

Hadir  wajah mungilmu nan kurindu

 

Kutitipkan rindu pada deburan ombak nan membelai pantai

Tuk kujadikan cerita

Bahwa kau pernah ada dalam jiwa

Kau pernah sejukan raga

Walau hanya sekejap

 

Kutitipkan rindu pada deburan ombak

Tuk kujadikan catatan bahwa cinta kasih sayangku pernah ada

Walau sebutir embun karena sesungguhnya kau bukanlah milikku

Kau hanyalah milik sang Khaliq

 

Kutitipkan rindu pada ombak nan memutih

Tuk kujadikan sejarah 

Bahwa di tanah kita pernah ada amarah ombak

Nan membawa luka di ujung masa

Di tanggal dua puluh enam Desember dua ribu empat

 

Phuket, 23 November 2005




Pada Gumpalan Pasir Putih di Babah dua

 

Pada gumpalan pasir putih di babah dua

Kuceritakan tentang luka menganga,

Tatkala  laut murka menerjang 

ombak  dan gelombang menerkam alam

membawa serta nan ku cinta

 

Pada pasir putih nan ditampar-tampar gelombang di babah dua

kumengadu tentang gelombang pasang membawa hilang

buah cinta yang kusayang

 

Pada gelombang nan menjilat garis pantai di babah dua

Kubisikan tentang bulir air mata dan tangis lirih nan menyeka mata

Tatkala mata duka tak lagi mampu menatap relung hati

Yang kehilangan buah hati

 

Kepada ombak dan riak di babah dua kubertanya

Kemana gerangan tlah kau bawa dua buah cinta

Kemana kau bawa pendaming setia

 

Gumpalan pasir putih

Gelombang dan ombak di babah dua

Mengapa tak pernah rela berikan jawaban?

 

Banda Aceh 24 Oktober 2007

Click to comment