PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Berkah Menang TTS, Bayar Uang Kuliah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



Oleh Tabrani Yunis



Anda pasti tahu TTS bukan? Ya, paling kurang anda pernah melihatnya di media cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid dan bahkan di media elektronik dan lainnya.Bisa jadi, atau mungkin anda adalah salah satu penggemar berat TTS dan sudah sangat lihai mengisinya. Ya, TTS yang merupakan singkatan dari Teka Teki Silang itu adalah sejenis permainan olah raga otak atau juga disebut dengan permainan untuk mengasah otak yang sudah sejak dari dahulu dimainkan atau dilakukan oleh banyak orang di dunia, termasuk di Indonesia.



Bagi penulis sendiri, sebagai orang Indonesia mengenal TTS itu ketika ketika masih duduk di bangku SMP di Manggeng ( dulu Aceh Selatan), Aceh Barat Daya pada tahun 1976. Masih segar dalam ingatan bahwa kala itu sering membaca majalah Intisari di rumah tetangga yang juga saudara. Majalah Intisari sudah menyediakan halaman khusus TTS. Maka pada waktu itu, pertama kali belajar mengisinya, namun tidak mampu menjawab semua soal atau pertanyaan, karena tergolong sangat sulit. Biasalah masih SMP dan berasal dari kampung yang saat itu jauh dari ketersediaan bahan bacaan. Untung pulalah kala itu, tetangga yang bekerja di Bank BRI Blang Pidie kala itu berlangganan majalah Intisari dan membolehkan penulis meminjam dan membacanya.

Perkenalan dengan TTS di majalah Intisari tersebut ternyata menjadi modal ketika pada tahun 1979 melanjutkan sekolah di SPG N ( Sekolah Pendidikan Guru Negeri) Banda Aceh yang saat itu berada di sebuah gedung berlantai tiga di Jalan Kesehatan, Kuta Alam,Banda Aceh yang berdampingan dengan kolam renang Tirta Daroy dan bioskop Gajah kala itu.



Selama belajar di SPG Negeri Banda Aceh ini, kesukaan mengisi TTS menjadi semakin tumbuh dan berkembang. Sangat terasa bahwa selama bersekolah di SPG dan tinggal di Banda Aceh, banyak hal yang menarik yang didapat. Beberapa di antaranya, pertama adalah selama sekolah ini penulis mulai sering membeli majalah TTS seperti TTS Eksklusif, Aneka dan lain-lain. Padahal, kala itu saku celana saja tidak ada dompet. Sebab, untuk apa ada dompet, kalau tak ada uang yang disimpan di dalamnya. Namun, karena sudah mahir mengisi atau menjawab TTS serta mengirimkannya ke Redaksi, ada banyak untungnya.  Ya, beberapa teman yang ikut suka dengan TTS,  membeli TTS lalu meminta penulis mengisinya. Penulis sendiri dapat terus mengasah otak, menambah banyak bacaan dan sekalian mendapat jatah kupon sebagai pelengkap saat mengirimkan jawaban yang ditulis di kartu pos atau ditempelkan di sudut kiri amplop.


Kedua, hobi mengisi TTS ini membuat penulis rajin ke kios koran/majalah.  Setiap hari sepulang dari sekolahg mendatangi kios koran di kawasan Peunayong, Banda Aceh dengan berjalan kaki atau dengan mendayung sepeda untuk membaca koran gratis. Kegiatan ini memberi dampak besar bagi pengembangan diri (self development) penulis. Tak ubahnya seperti kata orang bijak, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Mengapa demikian? Ya,  selain sering mendapat majalah TTS gratis, gratis pula membaca koran, atau surat kabar dan majalah di kios teman yang jualan koran dan majalah. Maka, Selain membeli sendiri, penulis mendapatkan majalah TTS dari kawan-kawan yang punya kios koran dan majalah. Mereka ikut suka mengirimkan jawaban TTS, karena sering membaca nama penulis sebagai pemenang di setiap edisi yang terbit setiap minggunya. Jadi bukan hal yang mengherankan selama bersekolah di SPG hingga kuliah di program Diploma da tahun, jurusan bahasa Inggris, ada beberapa karung majalah TTS yang terkumpul. Banyak sekali, bukan? Ya, karena terlalu banyak, membuat penulis lelah membawanya ketika pindah Rumah. Penulis tidak ingin membuang majalah-majalah tersebut.


Ketiga, Hal yang tak kalah menyenangkan adalah ketika datang petugas atau tukang pos mengantarkan  wesel ( kiriman uang) ke alamat sekolah dan juga ke alamat rumah membuat hati bahagia dan bangga. Betapa tidak, uang hadiah TTS itu sangat membantu biaya belanja kebutuhan hidup. Bahkan lebih hebatnya lagi, hadiah TTS itu bisa untuk membayar uang kuliah  kala saat datangnya jadwal bayar SPP di program D 2 bahasa Inggris itu. Tentu masih banyak keuntungan lain. Sebut saja, ketika sering muncul nama di daftar pemenang tersebut, banyak orang yang kala itu gemar korespondensi atau sahabat pena (penpals), bisa terhubung dengan saling mengirim surat yang disebut sahabat pena tersebut.


Bukan hanya itu, kegemaran mengisi TTS kala itu semakin kental dan menjadi kegiatan rutin karena  ada seorang teman, Nazri yang bersekolah di STM Negeri Banda Aceh dan tinggal seasrama, yakni asrama pelajar dan mahasiswa Manggeng yang terletak di jalan Suri no. 12, Kampung Keramat Banda Aceh itu juga pencandu TTS. Ia malah lebih piawai dibandingkan penulis. Sehingga jangan heran bila kami setiap minggu membeli TTS dan hampir setiap minggu pula dapat rezeki berupa hadiah yang disediakan oleh redaksi majalah TTS yang umumnya berada di Jakarta.

Jadi. Kami merasa bahagia karena sering mendapat kiriman  wesel dari TTS di Jakarta. Wajar saja petugas tata usaha SPG saat itu yang selalu menerima kedatangan pegawai pos mengantarkan surat dan wesel pun ikut senang. Karena Penulis sendiri sering mendapat kiriman uang lewat wesel, tidak seperti siswa lain yang dikirim oleh orang tua. Penulis tidak mendapat wesel dari orang tua, tetapi dari redaksi majalah TTS seperti majalah Eksklusif, Aneka TTS dan lain-lain. Bukan hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk barang. Jadi. Jangan heran bila setiap bulan menerima kiriman uang yang membuat hati begitu berbunga-bunga.Buah dari kegiatan mengisi dan mengirimkan jawaban TTS tersebut, bukan hanya meringankan beban biaya sekolah, tetapi menambah pengetahuan yang akhirnya memudahkan penulis melakukan aktivitas menulis. Selain itu, selama menerbitkan majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas, penulis pun membuat TTS di kedua majalah itu.

Namun anehnya, walau sekian lama dan begitu banyak TTS yang penulis jawab atau isi, penulis tidak pernah tahu sejarah TTS itu. Juga tidak pernah mencari tahu, siapa orang yang pertama sekali membuat TTS dan sebagainya. Barulah penulis tahu, setelah beberapa hari lalu, mencari di Google sejarah TTS. Betapa kagetnya, ternyata bila kita berselancar menelusuri waktu, lorong-lorong sejarah, ternyata TTS itu memiliki sejarah yang panjang. Ya, sudah hampir seabad lamanya. Benarkah?


Tentu saja benar, karena dalam catatan sejarah, tercatatlah nama Arthur Wynne yang berprofesi sebagai seorang jurnalis dari Liverpool pertama kali menerbitkan permaian kata itu di koran New York World edisi 21 Desember 1913. Selanjutnya TTS atau crossword puzzle ini terus berkembang hingga saat ini, walau majalah-majalah TTS itu mati sejalan dengan perkembangan zaman yang memaksa media cetak mati perlahan, hingga kini TTS masih bisa kita temukan dalam bentuk digital.

 

Sayangnya pula di kalangan generasi milenial saat ini, tidak begitu gemar mengisi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan di TTS tersebut. Mungkin karena beda zaman. Seperti kata banyak orang, setiap orang atau generasi ada zamannya dan setiap zaman ada orang atau generasinya. Namun, yang perlu dicatat bahwa aktivitas mengisi TTS itu banyak manfaatnya.

Click to comment