PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

DARI MASA LALU UNTUK MASA MENDATANG

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh Syauqi, S.Ag. M.Pd.

Guru Bahasa Inggris di MTs Jeumala Amal, Lhueng Putu, Pidie Jaya, Aceh

 

            Armi seorang anak yang rajin dan patuh kepada kedua orang tuanya. Dia selalu belajar dan menuruti nasehat orang tuanya. Walau masih duduk di bangku SD kelas 4, namun Armi sudah bisa mengaji. Dia selalu mengaji di rumahnya setiap selesai shalat maghrib, sehingga suaranya terdengar sampai ke jalan. Setelah selesai mengaji, Armi mengambil buku pelajaran dan membacanya, lalu pergi bermain dengan kawan-kawannya. 

            Suatu malam, Armi ngambek. Ia tidak mau mengaji setelah maghrib, tidak mau belajar. Dia hanya ingin pergi main dengan kawan-kawannya. Orang tuanya tidak bisa berkata apa-apa, karena baru kali itu Armi tidak mau mengaji, sehingga mereka membiarkan ketika Armi keluar dari rumah setelah shalat maghrib. 

            Armi keluar dengan mengendarai sepeda. Dia merasa senang saat membayangkan bisa bermain dengan kawan-kawannya. Armi langsung menuju ke rumah kawannya, Ahmad, yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Ketika memasuki pekarangan rumah, langkah Armi terhenti saat mendengar suara Ahmad sedang mengaji. Dengan rasa kecewa. Armi keluar dari pekarangan rumah, langsung menuju ke rumah temannya yang lain dengan harapan bisa diajak bermain bersama. Tetapi kawannya juga sedang mengaji. Akhirnya Armi mencoba berkeliling kampung dengan harapan ada yang bisa diajak bermain, tetapi harapannya membuat kecewa, ternyata semua kawan sepermainannya sedang mengaji di rumahnya masing-masing

            Akhirnya Armi pulang lagi ke rumah, mengambil Qur’an dan mulai mengaji, dilanjutkan dengan membaca buku pelajaran. Orang tua Armi merasa senang, karena Armi mau mengaji dulu sebelum pergi bermain.

            15 menit kemudian, Armi keluar lagi dari rumahnya. Ketika sampai di lorong depan rumahnya, Armi melihat kawan-kawannya di ujung jalan sudah menunggunya dan siap untuk berkeliling desa dengan masing-masing mengenderai sepeda

            Setelah menamatkan SMP, Armi melanjutkan sekolahnya di kota, tempat kediaman pamannya. Armi tidak pernah mendengar suara anak-anak mengaji setelah shalat Maghrib di sekitar tempat tinggal Pamannya, sehingga Armi merasa rindu dengan suasana kampungnya, yaitu mendengar suara anak-anak mengaji setelah shalat maghrib.

Setelah menamatkan kuliah, Armi kembali ke kampung halamannya. Orang tuanya sangat senang dengan kembalinya Armi ke rumah. Tidak ada yang terlintas di dalam pikiran Armi saat itu kecuali ingin mendengar suara anak-anak mengaji setelah shalat maghrib seperti yang biasa didengar waktu dulu. 

Suatu malam, Setelah shalat maghrib, Armi keluar dari rumahnya dengan berjalan kaki mengelilingi kampungnya. Armi ingin mendengar lantuan ayat suci al-Quran yang biasa didengar waktu masa kecil dulu. Namun Armi tidak mendengar lagi suara-suara itu. Armi cuma melihat sekilas cahaya televisi di ruang tamu di setiap rumah dan terdengar suara samar-samar seperti pembicaraan berbahasa Korea, musik, ada juga sorak sorai riuh sekali. Namun suara anak-anak mengaji tidak terdengar lagi.

Armi merasa rindu dengan suasana dulu. Sedangkan suasana sekarang berbeda dan suara anak-anak mengaji tenggelam di balik suara-suara TV. Armi bertekad akan membuat suasana seperti dulu. Lalu dengan bantuan orang tuanya. Armi mulai mengajarkan beberapa anak-anak untuk mengaji di rumahnya. Pertama-tama hanya beberapa anak. Lama kelamaan, ruangan tamu yang dijadikan tempat pengajian penuh sesak. 

Armi mengajar ngaji pada waktu sore. Setelah selesai mengajar mengaji, Armi mewanti-wanti anak didiknya untuk mengulang-ngulang membaca Al-Quran di rumah masing-masing setelah shalat maghrib. Armi membari nasehat sebelum mereka pulang ke rumah. Armi mengatakan akan memantau langsung ke rumah-rumah mereka setiap selesai shalat Maghrib.

Minggu pertama, setelah shalat maghrib, Armi berkeliling ingin mendengarkan langsung apakah muridnya membaca Al-Quran setelah Shalat Maghrib. Tidak banyak yang terdengar membaca Al-Quran. Lalu di saat sore hari, ketika anak-anak selesai mengaji, Armi sengaja menyebutkan siapa-siapa yang ada membaca Al-Quran setelah Maghrib dalam minggu ini. Anak-anak tidak mengira bahwa Armi akan berkeliling mendengarkan mereka membaca Al-Quran. Sehingga mereka semua termotivasi membaca Al-Quran setelah maghrib. Walau di sela-sela bacaan al-quran, masih terdengar suara-suara televisi. 

Hampir setiap malam, Armi keluar berkeliling kampung dan sungguh merasa sangat senang karena bisa mendengar kembali suara anak-anak mengaji setelah maghrib. Tekad Armi untuk mengembalikan suasana seperti dulu sudah terlaksana, walau tidak sesempurna dulu. Karena tergantung kepada dukungan orang-orang yang ada di rumah anak-anak tersebut.

 


Click to comment