Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Giat Belajar Bahasa Inggris, Bisa Mengubah Hidup

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 



Oleh Tabrani Yunis

 


Perjalanan mengubah nasib, tentu tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Bagi orang –orang dari keluarga berada, atau kaya, jalan hidup tentu tidak sesulit mereka yang berasal dari keluarga miskin. Maka, bukan hal yang aneh bila banyak orang kaya, yang melewati jalan yang mudah, tanpa onak, bahkan tidak ada hambatan atau rintangan yang berarti. Namun, tidak sedikit pula orang yang harus menempuh perjalanan mengubah nasib dengan susah payah, berat, berpeluh dan bahkan sangat menderita, dan sulit keluar dari penderitaan dan belenggu kemiskinan. Semakin rendahnya ilmu, ketrampilan seseorang (orang miskin), maka semakin sulit jalan yang harus ditempuh. Sebaliknya, semakin tinggi atau banyak ilmu seseorang, maka semakin mudah baginya untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Jadi, untuk memudahkan jalan perbaikan nasib atau keluar dari belenggu kemiskinan, jalan yang harus ditempuh adalah dengan belajar, menambah dan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perubahan perilaku. Pendek kata, kita belajar mengubah diri dari tidak tahu, menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tidak mau berubah menjadi mau. Artinya, kunci untuk mengubah nasib harus ditempuh lewat pendidikan, dengan menguasai ilmu, ketrampilan dan perubahan tingkah laku. Penulis sendiri, sejak kecil, memiliki niat yang sangat besar untuk keluar dari belenggu kemiskinan, dengan cara belajar dan terus belajar.


Salah satu jalan yang penulis tempuh sejak masih di bangku SMP adalah belajar bahasa Inggris. Sejak itu, sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris. Bisa dikatakan mulai jatuh cinta pada bahasa Inggris. Ya, terus tetang, hati terasa begitu tersengat pada bahasa Inggris. Penyebabnya datang dari dalam diri sendiri, karena hobi mendengar siaran radio luar Negeri, seperti, radio Suara Amerika (VOA), BBC dan lainnya kala masih belajar di SMP. Selain itu, penulis juga termotivasi oleh penampilan seorang guru bahasa Inggris di SMP. Penulis sangat suka menyaksikan gaya dan kemampuan guru bahasa Inggris yang saat itu sangat ideal di alam pikiran penuls yang masih kecil. Kemampuan berbahasa Inggris dan gaya mengajar bahasa yang diperlihatkan sang guru di kelas, menyemai rasa cinta pada pelajaran bahasa Inggris. Pada saat itu, cinta terhadap pelajaran bahasa Inggris mulai bersemi. Sayangnya, di kampung tempat penulis bersekolah, tidak tersedia fasilitas belajar bahasa Inggris seperti kursus bahasa Inggris yang dapat membantu meningkatkan kapasitas berbahasa Inggrs. Satu-satunya fasilitas belajar yang tersedia saat itu adalah buku paket. Buku paket bahasa Inggris yang membantu penulis belajar mengeja, menghafal kata-kata dan kalimat bahasa Inggris itu adalah buku English for SMP yang berwarna putih. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Namun, ketiadaan fasilitas belajar saat itu tidak membuat penulis merasa patah arang, atawa putus asa. Karena cinta mulai bersemi, segalanya bisa dilakukan.


Kiranya tidak berlebihan bila disebut bagai judul sebuah film atau sinetron saja, bahwa di situ pertama kali cinta bersemi. Di situ perasaan cinta terhadap bahasa Inggris bersemi. Penulis mulai belajar dengan sungguh –sungguh dan rajin untuk menguasai bahasa Inggris itu. Ketika di SMP itu, memang sangat serius menyemai benih cinta pada bahasa Inggris tersebut. Bagai menyemai benih bibit unggul di tanah yang sudah disebari pupuk organik. Penulis coba pupuk kemampuan bahasa Inggris dengan berbagai cara. Cara-cara yang bisa saja lazim dilakukan oleh orang lain, atau tidak sama sekali. Ketiadaan buku dan ketidak mampuan saya membeli buku bahasa Inggris, yang saat itu juga tidak ada toko buku di kota kecamatan Manggeng, tempat penulis dlahirkan. Sehingga, penulis sering mencari buku-buku bahasa Inggris di pustaka sekolah.

Ini membuktikan bahwa ketika cinta yang bersemi terhadap bahasa Inggris yang tumbuh di SMP itu, kemudian penulis pupuk lagi ketika mengenyam bangku pendidikan di SPG Banda Aceh. Di sini, kebetulan penulis menemukan jalan untuk bisa berbahasa Inggris. Rupanya belajar bahasa Inggris itu tidak sulit. Sangat gampang. Tidak mahal. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara berupaya menemukan media belajar bahasa Inggris yang gratis. Tapa harus membeli buku. Caranya ya, datang saja ke perpustakaan. Perpustakaan adalah sebuah fasilitas gratis. Asal mau saja. Cara lain yang juga gratis adalah dengan modal simpel, mau bergaul dan aktif mencari teman belajar. Tidak ada alasan tidak punya buku. Tidak ada alasan tidak punya teman belajar, yang penting, mau berusaha dan tekun. Pengalaman penulis, kala masih di bangku SPG selalu memanfaatkan Pustaka SPG yang terletak di lantai 1 itu. Setiap hari penulis datangi perpustakaan tatkala bel istirahat tiba. Di saat breakinilah penulis memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah itu. Di sini ada banyak buku bahasa Inggris yang memang sangat jarang dijamah tangan-tangan siswa. Kalau pun ada hanya satu atau dua orang saja. Ini adalah sebuah kesempatan emas bagi penulis untuk memupuk dan melatih kemampuan bahasa Inggris.

Selama di SPG ini, penulis benar-benar memanfaatkan waktu dan fasilitas belajar dengan baik. Penulis berupaya menambah dan mengasah kemampuan berbahasa Inggris dengan berlatih dengan teman (kakak kelas) di sekolah. yang saat itu juga sangat suka dengan bahasa Inggris. Di samping memanfaatkan jasa teman untuk berlatih keberanian dan kemampuan berbahasa, setiap hari melatih bahasa Inggris di rumah. Kebetulan saat itu, sebagai seorang anak yang hidup merantau, penulis tinggal di sebuah asrama, tinggal bersama rekan-rekan sekampung di asrama milik masyarakat Manggeng. Di sinilah penulis setiap hari belajar sendiri mempraktikan bahasa Inggris. Ketika pulang sekolah, sambil menanak nasi, ambil buku bahasa Inggris, lalu dbaca dengan cara membaca bersuara. Dibaca berulang-ulang dan keras-keras. Penulis tidak lagi merasa malu dan enggan terhadap orang-orang yang merasa masih asing dengan bahasa ini. Dengan sebuah prinsip yang ditempatkan dalam menuai ilmu dan kemampuan bahasa Inggris itu, yakni No days without English. Penulis bagai orang yang tersengat oleh rasa suka nan mendalam terhadap bahasa Inggris. Sekali lagi, bahwa penulis yang tidak mampu membeli buku, dengan jeli memanfaatkan pustaka sekolah. Jadi, setiap minggu meminjam buku-buku bahasa Inggris di sekolah dan dibawa pulang. Buku-buku ini setiap hari dibaca dengan keras-keras sambil memasak, atau kapan saja. Pokoknya setiap hari belajar sendiri.


Saat itu, sebenarnya ada keinginan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di sebuah kursus. Namun, karena kondisi ekonomi yang impoten, tidak bisa memenuhi keiginan. Jangankan untuk membayar biaya kursus, untuk membeli lauk pauk sehari-hari saja tidak sanggup. Maka jalan yang terbaik adalah belajar sendiri dan sekali-kali mempraktikkannya tanpa takut salah, tanpa malu-malu. Mungkin juga benar akan apa yang dikatakan orang-orang bahwa the key of learning is practice, practice and practice. Kunci belajar, apa pun yang dipelajari adalah latihan yang dilakukan secara berulang. Seperti juga petuah orang tua, saat belajar mengaji Al Quran. Kata petuah itu kira-kira begini. Lancar kaji karena diulang, pasal jalan karena dilalui. Petuah ini memang saya jadikan sebagai pemicu semangat belajar di dalam diri . Ya, Alhamdulilah, berkat ketekunan dan keuletan penulis berlatih bahasa Inggris sejak itu mampu berbahasa Inggris, walau mungkin tidak begitu lancar dan bagus. Namun, semua itu menjadi modal yang sangat berharga bagi penulis


Sebagai modal kehidupan yang sangat berharga, ditambah dengan bekal sedikit uang yang saya peroleh dari SPG di saat akhir duduk di bangku SPG yakni sejumlah dana beasiswa yang saat itu katanya dana ikatan dinas, mengantarkan penulis ke bangku perguruan tinggi. Di pertengahan tahun 1982 itu, saat menamatkan pendidikan di lembaga pendidikan guru (SPG), penulis dengan tekat bulat menuju bangku perguruan tinggi ikut testing UMPTN. Penulis memilih untuk melanjutkan pendidikan dan mengabaikan kesempatan testing (seleksi) pegawai negeri untuk menjadi guru SD saat itu. Dengan hati yang lurus dan tekad yang bulat saya ikuti testing UMPTN. Karena modal yang dimiliki hanya semangat dan kemampuan bahasa Inggris yang masih relatif cukup makan tersebut, memilih program Diploma 2 jurusan bahasa Inggris, sebagai jembatan untuk mengubah nasib. Siapa tahu setelah itu, bisa melanjutkan lagi ke jenjang Strata satu (S1).

Click to comment