Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Jalan Hidup Nan Sulit Memaksaku Mengajar

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 



Oleh Tabrani Yunis

 

Perjalanan hidup untuk mengubah nasib, keluar dari belenggu kemiskinan ternyata memang tidak mudah. Apalagi bila surah terperosok terlalu dalam di jurang kemiskinan itu. Tentu sangat sulit untuk bangkit dan semakin sulit bila tidak ada kemauan  atau tekat untuk keluar dari jurang itu. Oleh sebab itu,  setiap orang miskin harus berupaya untuk keluar dari belenggu kemiskinan itu. Kita tidak mungkin berharap orang lain yang mengeluarkan kita dari belenggu tersebut. Mengapa demikian? Sebenarnya, Allah tidak akan mengubah nasib  seseorang atau suatu kaum, kecuali orang atau kaum itu sendiri yang mengubahnya. Caranya? Sebagai manusia, kita diharuskan belajar. Kita harus mendapatkan  pendidikan. Hal ini jugular yang saya alami.  Terus terang, hati saya sangat gembira tatkala sudah mendapat bekal ijasah SPG dan kemampuan bahasa Inggris dan  lulus  atau diterima di Program Diploma 2 Universitas Syiah Kuala. Anehnya, kegembiraan ini, justru karena saya tetap belum akan menjadi guru. Dengan suka cita, saya coba hadapi bangku kuliah, walau hanya program dua tahunan. Di sini saya menemukan tempat belajar yang menurut saya saat itu sangat relevan. Bayangkan saja, Saya bisa bertemu dengan rekan-rekan yang memiliki minat dan keinginan yang sama untuk belajar bahasa Inggris. Wajar saja kalau saat itu saya menemukan banyak teman yang berlatih berbahasa Inggris. Saya menerima banyak pelajaran bahasa Inggris setiap harinya. Betapa enjoy-nya belajar di situ. Namun satu hal yang mungkin masih belum begitu menarik bagi saya adalah ketika nanti tamat dari lembaga pendidikan ini, saya tidak bisa lari dari kenyataan untuk menjadi guru. Karena output dari program Diploma 2 ( P2DK) ini adalah menjadi guru yang akan mengajar di jenjang pendidikan SLTP. Kenyataan ini sekali lagi memang harus saya terima. Saya harus belajar di lembaga pendidikan ini, walau nanti akan tetap menjadi guru. Maka saya coba lewati waktu dan kesempatan ini dengan baik.

 

Sayang, kemiskinan yang membelenggu hidup saya, memaksa saya harus menjadi guru juga. Soalnya, baru sekitar enam bulan menikmati bangku pelajaran di program Diploma, saya menemukan kesulitan ekonomi untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya kuliah. Tidak ada cara lain. Saya harus bekerja. Ketrampilan yang sudah saya miliki adalah ketrampilan mengajar. Maka pilihan yang paling tepat saat itu adalah mengajar. Sangat kebetulan pula di awal tahun 1983, saya bertemu seorang kepala sekolah SD yang rupanya tinggal dekat asrama saya. Saya bertanya kalau di sekolahnya ada peluang untuk mengajar. Secara kebetulan juga pada saat itu ada seorang guru yang suaminya pejabat, membutuhkan jasa guru untuk membantunya. Dengan membantu mengajar di SD Negeri 37 tersebut, bu guru yang sedang kuliah di FKIP itu bisa kuliah, saya juga ikut terbantu bisa melanjutkan pendidikan.

 

Di SD ini saya tidak mengajar bahasa Inggris. Saya mengajar berbagai mata pelajaran. Ini sesuatu yang saya tidak suka. Namun, sungguh ini, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Karena saya harus mengajar semua mata pelajaran, kecuali mata pelajaran olah raga. Berat memang, tetapi semua ini harus saya lakukan. Walau tidak menyenangkan, lebih kurang 1 tahun 6 bulan lamanya saya belajar menjadi guru SD, saat masih belajar di program Diploma itu. Pertengahan tahun 1984, saya menyelesaikan kuliah di program Diploma. Ketika tamat, saya juga mendapatkan bekal beasiswa lebih kurang Rp 300.000,- Ya, tiga ratus ribu rupiah. Sejumlah uang yang bagi saya adalah sangat besar saat itu.

 

Saat selesai masa pendidikan di program Diploma ini, keinginan untuk menjadi guru, tampaknya juga belum muncul. Maka, karena ada modal yang saya miliki lebih kurang Rp 300.000, - itu, saya memilih untuk melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang pendidikan Sarjana (S1). Sekitar bulan Juli tahun 1984 itu, saya ikut seleksi UMPTN lagi. Memilih fakultas yang juga berorientasi untuk menjadi guru yakni FKIP. Saya juga memilih untuk belajar bahasa Inggris. Ternyata, tanpa ada halangan yang berarti saat seleksi, saya kemudian dinyatakan lulus dan diterima di FKIP dengan jurusan pilihan bahasa Inggris. Saya merasa sangat senang dan sedikit berbangga. Bangga karena, ternyata saya yang kalau ditinjau secara kemampuan ekonomi, tidak layak melanjutkan pendidikan hingga pendidikan tinggi, saat itu bisa masuk ke Perguruan Tinggi. Jelas ini sebuah kebanggan yang sangat bermakna bagi saya.

 

Di sini, saya mendapatkan lagi teman-teman baru yang memiliki minat yang sama. Sangat menggembirakan saya bahwa teman-teman baru yang saya peroleh di FKIP pada saat itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa Inggris, rata-rata bagus. Karena ada beberapa teman yang sudah pernah ke luar negeri seperti ke Canada dan juga ada yang sudah pernah hidup di negara Selandia Baru. Sementara saya hanyalah seorang anak kampung yang belajar di sebuah kota kecil. Namun, saya mungkin saja tergolong orang yang luwes dan suka bergaul. Saya memanfaatkan mereka sebagai sumber belajar (learning resources) bagi saya. Saya bergaul dengan mereka menjadi teman yang akrab. Keakraban itu bukan saja sekedar teman kuliah, tetapi sebagai teman bagi saya untuk berlatih bahasa


 

Inggris. Barangkali dapat dikatakan sebagai sebuah strategi yang begitu strategis. Saya memanfaatkan kekuatan yang ada pada teman kuliah sebagai sumber belajar bagi saya. Setiap saat waktu kuliah, saya berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ketika pergi bersama ke kampus, kami naik bis bersama. Sepulang dari kampus pun pergaulan sehari-hari tetap dijalin. Saya selalu mengunjugi rekan-rekan tersebut. Pendeknya komunikasi di antara kami hanya menggunakan satu bahasa, yakni bahasa Inggris. Maka bukanlah hal yang mengherankan kalau setiap saat kami naik bis di dalam bis, kami tetap berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Orang-orang di sekitar kami banyak yang mencemooh, namun kami tetap saja berbicara dan bercerita dalam bahasa Inggris dalam perjalanan ke kampus. Tidak peduli dengan apa kata orang, yang penting saya benar-benar memanfaatkan kelebihan teman untuk saya bisa mempraktekan bahasa Inggris.

 

Baru sekitar 6 bulan saya menuntut ilmu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, ada kabar gembira bahwa para lulusan Diploma angkatan 1982/84 akan mendapatkan SK pengangangkatan sebagai guru. Kedatangan kabar ini tidak menjadi hal yang menggembirakan bagi saya, karena saya masih menjalani pendidikan di FKIP. Saya memang harus memilih, apakah segera menjadi guru atau tetap melanjutkan pendidikan. Risikonya, kalau menerima SK pengangkatan konsekwensinya saya akan meninggalkan bangku kuliah, bila ditempatkan ke daerah. Kalau terus kuliah, saya berhadapan dengan persoalan biaya. Menghadapi kondisi yang dilematis ini, menuntut sikap yang arif dari diri saya. Namun, ternayata, memang banyak jalan yang memang bisa kita tempuh. Kuncinya adalah usaha dan diiringi dengan doa. Saya kebetulan kenal dengan orang yang berkompeten dalam hal penempatan pegawai dan guru di kantor Kanwil Depdikbud saat itu, memanfaatkan hubungan itu untuk menanyakan soal penempatan saya. Pada saat itu saya menapatkan jawaban bahwa saya akan ditempatkan di sebuah SMP di Pulau banyak, sebuah daerah yang saat itu dianggap  terpencil. Ini jelas sebuah bencana bagi saya. Informasi ini semakin membuat saya tidak suka untuk menjadi guru. Namun, pada saat itu, saya bertanya, apakah saya bisa ditempatkan di Banda Aceh. Untunglah, bantuan Allah kepada saya yang diberikan melalui oang yang saya hubungi tersebut. Saya ditawarkan untuk mengajar di sebuah SMP Swasta di kota Banda Aceh. Tawaran itu saya sambut dengan senang hati. Dengan SK pengangakatan yang terhitung tanggal 1 Desember 1984, saya ditugaskan untuk mengajarkan bahasa Inggris di SMP swasta saat itu.

 

Di masa-masa awal kegiatan mengajar itu, saya merasa betapa lelahnya menjalan tugas sebagai seorang guru. Saya sering merasa bosan. Juga kerapkali marah-marah terhadap para pelajar di SMP tersebut. Saya bahkan sering mencubit anak laki-laki yang umumnya nakal – nakal dan keras kepala. Maklum saja, mereka yang bersekolah di sekolah ini adalah anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri. Jadi, bukan anak-anak yang berminat untuk bersekolah, tetapi terpaksa bersekolah. Soal disiplin, tidak ada di kepala mereka. Biasalah anak-anak yang sehari – harinya menjalankan kehidupan di pasar ikan, bertemperamen tinggi, suka berkelahi dan suka tidak patuh terhadap apa yang dikatakan guru. Pokoknya, masa-masa awal saya mengajar adalah masa yang sangat tidak mengenakan. Semakin menambah ketidaksukaan saya untuk menjadi guru. Kebetulan saja, proses belajar mengajar berlangsung sore hari. Saya hanya pada saat itu berfikir bahwa mengajar di SMP ini hanya sebagai sebuah batu loncatan. Karena saya bisa ikut kuliah pada pagi harinya. Sehingga aktivitas mengajar, bukanlah satu-satunya bagi saya di masa depan.


 

Tapi, takdir memang mengharuskan saya untuk menjadi guru. Tidak dapat saya tolak. Padahal, saya tidak suka bahkan tidak mau menjadi guru. Namun dalam perjalanan hidup, ternyata menjadi guru adalah jalan hidup saya. Maka, tatkala saya diangkat menjadi guru di SMP Swasta, likes or dislikes, saya harus belajar mencintai profesi guru. Saya harus belajar memahami makna sebuah profesi guru. Walau sebelumnya saya memang sempat mempelajari sisi-sisi gelap guru yang penuh dengan derita itu. Kehidupan guru sebagaimana bergema di dalam masyarakat kita sangat tidak beruntung. Profesi guru kendati sangat dibutuhkan dan sangat penting dalam mencerdaskan anak-anak bangsa ini, namun marginal. Profesi guru seakan adalah sebuah profesi kelas bawah. Hal ini terbukti dengan rendahnya apresiasi pemerintah terhadap profesi guru di tanah air ini selama bertahun-tahun. Saya kemudian sadar bahwa kalau ingin menjadi kaya dalam pengertian materi, memang tidak melalui jalur guru. Walau sekarang sudah banyak guru yang meninggalkan sepeda kumbang, karena mendapat fasilitas kredit di bank. Wajar saja kalau untuk membayar kredit tersebut, para guru harus mencari kerja sampingan sebagai tukang ojek atau pekerjaan-pekerjaan lain yang dianggap halal.

 

Kondisi buruk yang mendera para guru di Indonesia secara umum itu, tampaknya tidak menjadi sebuah batu sandungan bagi saya untuk memulai menekuni profesi guru. Mulai menyemai benih cinta terhadap profesi guru. Cinta itu rupanya tumbuh subur, walau pada awalnya saya sangat tidak suka dan tidak mau menjadi guru. Maka, sejak saya ditempatkan menjadi guru bahasa Inggris di SMP Teuku Cut Ali pada awal tahun 1985, saya berupaya belajar untuk mengembangkan potensi dan kapasitas saya sebagai seorang guru. Sembari menuntut ilmu di bangku kuliah, saya mengasah ketrampilan mengajar berbahasa Inggris di sekolah Methodist yang sejak di SD telah mengajarkan bahasa Inggris. Pekerjaan ini lebih banyak memberikan makna nyambi. Karena saya saat itu masih sangat memerlukan uang untuk membiayai kuliah. Kesempatan nyambi yang lain mulai terbuka ketika pada tahun 1986 saya memulai karier mengajar di sebuah kursus bahasa Inggris. Tidak begitu lama, hanya 6 bulan. Pekerjaan ini memberikan pengalaman baru bagi saya. Dan pada tahun 1988, saya mendapat kesempatan untuk melatih kemampuan mengajar di kursus bahasa Inggris. Di kursus yang satu ini saya menghabiskan waktu yang cukup lama, mencapai jangka waktu lebih kurang 10 tahun.

 

Kurun waktu sepuluh tahun mengajar di kursus bahasa Inggris mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di kursus. Berbagai cara dan metodologi atau approach saya coba terapkan di kursus ini. Pada saat itu, pendekatan yang sangat popular digunakan adalah apa yang disebut dengan communicative approach.Sebagai sebuah model pembelajaran yang baru, saya mencoba bereksperiemen dengan pendekatan ini. Hasilnya memang cukup menggembirakan, anak-anak yang saya ajarkan bisa bertahan dan terdorong untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris selama proses pembejaran. Hasil yang baik dan kedekatan dengan para siswa memberikan nilai tersendiri bagi saya berupa kepuasan batin. Kecintaan terhadap profesi guru pun semakin bertambah besar dan kuat.

 

Dalam rentangan waktu sepuluh tahun menjadi guru bahasa Inggris di SMP Teuku Cut Ali Banda Aceh, banyak hal yang saya coba lakukan sebagai sebuah alternatif untuk pengembangan diri (self development), misalnya mengasah kemampuan mengajar di sekolah lain sebagai guru honorer, atau juga mengajar di kursus bahasa Inggris yang menantang saya untuk menjadi guru yang disukai ana-anak. Saya berupaya untuk menjadi guru yang diidolakan oleh para siswa. Semua ini dijalankan dalam sebuah


 

proses pencarian yang panjang. Pahit getirnya serta manis asemnya menjadi guru sudah saya lewati selama 10 tahun. Kurun waktu 10 tahun, bukanlah waktu yang singkat bukan? Pahit getirnya menjadi guru atau manis asemnya saya coba nikmati. Karena saya mulai mencintai pekerjaan sebagai seorang guru. Sudah takdir saya harus menjadi guru. Maka, apapun ceritanya, bagaikan tersentak dari tidur, saya berupaya belajar untuk menjadi guru. Saya belajar menjadi guru yang baik. Baik dalam arti mengikuti segala aturan yang dibuat oleh pemerintah. 

 

Tanpa dinyana, sudah lebih kurang 10 tahun lamanya saya mengajar di SMP tersebut. Selama itu pula saya mengecap asam garam atau mendapatkan pengalaman yang bermakna dari dunia mengajar yang sebelumnya sangat saya tidak sukai. Saya banyak memetik pelajaran atau lesson learneddari profesi sebagai guru di SMP ini Saat itu saya berupaya untuk menjadi guru yang baik. Guru yang menghargai waktu, mengikuti aturan sebagai wujud dari kedisiplinan. Saya benar-benar berupaya untuk mengabdikan diri. Saya merasa puas, walau tidak dikatakan saya berhasil. Karena mengajar di sekolah yang para siswanya berasal dari kalangan anak-anak miskin, malas dan tidak berdaya, bagi saya saat itu bagi adalah sebuah pekerjaan yang tergolong berat. Saya bagai menempa besi tua untuk menghasilkan sebuah parang atau pisau yang bagus. Selama mengajar di SMP ini, saya pada masa itu dijadikan wali kelas. Sekitar tiga tahun kemudian diangkat sebagai wakil kepala sekolah. Lalu, terakhir ditunjuk sebagai kepala sekolah. 

 

Namun di tahun 1992 sekolah ini terpaksa ditutup karena krisis peminat. Tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar. Akibatnya para guru yang mengajar di sekolah ini dimutasikan ke sekolah lain. Saya dimutasikan ke SMA Granada, namun mutasi itu tidak saya sahuti. Saya tidak menerima pemutasian yang dilakukan secara sepihak tersebut. Saya melihat bahwa kalau saya dipindahakan ke SMA swasta Granada tersebut, nasib saya sebagai seorang guru negeri yang ditempatkan di swasta, memberikan makna bahwa saya telah masuk ke dalam lingkaran ketidakadilan. Baru kemudian di tahun 1994 saya ditawarkan untuk pindah ke sekolah atau ke kantor. Saya memilih pindah ke sekolah dan saya memilih pindah ke SMA Negeri 3, sebuah SMA favorit di Aceh kala itu. Pemindahan itu sendiri berjalan mulus, karena saya ditawarkan untuk pindah, segala urusan dilakukan oleh Kepala bidang Personalia. Kabag Personalia yang saat itu telah cukup kenal dengan saya karena beliau sering membaca pikiran saya di surat kabar.  Beliau hanya meminta saya menuliskan surat permohonan dengan melampirkan surat rekomendasi dari SMA Negeri 3. Sementara segala urusan menjadi tanggung jawab beliau. Hasilnya, saya mulai mengajar di SMA favorit itu di awal tahun ajaran baru di tahun 1995.

Click to comment