Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Memilih Sekolah, Membangun Masa Depan

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


 Oleh Tabrani Yunis

Bagian ke tiga


Ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri Manggeng, Aceh Barat Daya (dulu Aceh Selatan) pada tahun 1978-1979, ibu saya berkata: “Top (nama kecil pangilan ibu), Ibu ingin bertanya sedikit tentang sekolahmu, bagaimana kelanjutan pendidikanmu? Kiita tidak punya biaya. Kalaupun mau sekolah hanya ada dua pilihan, pertama, bersekolah di kampung dan kamu masuk SMA yang ada di kampung saja atau pilihan kedua, kamu melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Tapak Tuan”.

 

Inilah dua pilihan berat yang harus saya hadapi saat itu. Kedua pilihan ini tidak menjadi permintaan saya. Kalau melanjutkan ke SMA, saya akan menganggur setelah itu. Karena pasti tidak mampu melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang lokasinya berada di Kota Banda Aceh. Lalu, kalau masuk SPG, saya tidak punya minat sedikitpun untuk menjadi guru. Saya menganggap menjadi guru adalah sebuah bencana. Bencana karena melihat kondisi kehidupan guru yang sangat tidak beruntung. Guru-guru di kampung saya kelihatannya sangat marginal saat itu. Ke sekolah hanya dengan berjalan kaki, kalaupun ada yang lebih mewah hanya naik sepeda seperti yang digambarkan Iwan Fals dengan elegi Oemar Bakri. Tiada kecerahan yang terbentang di depan mata guru. Saya melihat tidak ada perbaikan nasib kalau nanti menjadi guru. Ach.. pokoknya saya merasa sangat tidak mau menjadi guru.

 

Ketidaksukaan saya menjadi guru pada saat itu saya utarakan pada sang ibu. Dengan nada sedih saya berkata: “Bu, saya tidak suka menjadi guru. Saya tidak punya bakat untuk mengajar seperti guru-guru yang ada di sekolah di kampung kita. Hanya satu yang saya inginkan. Saya mau menjadi seorang penyuluh pertanian”. Saya bangga melihat para penyuluh pertanian yang begitu hebat. Karena saat itu dikampung saya sering diputar film layar tancap keliling yang menceritakan tentang pertanian. Pendeknya saya terobsesi oleh para penyuluh pertanian yang dalam pikiran saya sangat menarik. Maka sekali lagi saya utarakan pada ibu “Sungguh, Bu, cita-cita saya bukan menjadi guru. Saya sangat ingin menjadiseorang penyuluh pertanian. Kalau ibu meminta saya masuk SPG, lebih baik saya tidak melanjutkan sekolah. Biarlah saya di kampung menjadi tukang becak, atau nganggur saja”.

 

Ibu merasa sedih mendengar ungkapan perasaan saya. Beliau memang tidak mampu untuk menyekolahkan saya ke kota Banda Aceh. Harapan ibu pada saya adalah kelak kalau tamat SPG, saya bisa cepat mendapat pekerjaan sebagai guru, lalu bisa membantu adik-adik untuk bersekolah. Namun, keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) tak dapat dibendung. Akhirnya beliau merelakan saya untuk melanjutkan ke SPMA Banda Aceh.“Ibu hanyaberdoa”, begitu ucapan beliau di telinga saya. Suara itu lembut, dan membakar semangat saya.

 

Namun, ternyata catatan nasib memang berbeda dari apa yang kita inginkan. Isyarat seperti yang dipesankan agama menyangkut soal langkah, rezeki, pertemuan, dan maut adalah empat hal yang tidak bisa kita tolak dan atur sendiri. Ini merupakan ketentuan Allah SWT. Maka setelah ujian akhir SMP usai, abang saya yang terpaksa berhenti kuliah dari Fakultas Hukum Unsyiah karena kurang biaya, mengajak saya untuk melanjutkan pendidikan ke SPMA di bawah tanggungan dirinya. Ajakan itu tentu saja saya sahuti dengan suka cita. Betapa tidak, sekolah yang saya impikan itu berada di kota Banda Aceh yang jaraknya lebih kurang 400 km dari kampung halaman tempat saya dilahirkan. Dengan penuh semangat saya bersama ibu, setelah menerima ijazah, langsung mengurus surat jalan dan berbagai keperluan yang menjadi persyaratan untuk masuk SPMA. Setelah itu, sayapun berangkat menuju Banda Aceh dengan modal semangat, tekad dan doa sang ibu.

 

Suatu hal yang mungkin juga lazim terjadi pada orang lain, sebagai anak yang berasal dari kampung, aku memang sangat terkejut bahkan agak tercengang melihat kondisi di kota Banda Aceh. Sekitar satu minggu berada di Banda Aceh, pendaftaran penerimaan siswa baru pun dimulai. Kebetulan saat itu yang pertama dibuka adalah pendaftaran di SPG Negeri Banda Aceh. Abang berkata “Top,sekarang pendaftaran sudah dimulai, apakah kita daftarkan dulu di SPG?”Saya kembali berkata“Bang, saya tidak mau jadi guru, saya mau masuk SPMA. Tetapi abang berkata“Kalau nanti kau tidak lulus SPMA, mau kemana? Mau pulang kampung lagi?

 

Sungguh dilema. Kalau tidak mendaftar SPG, dan tidak lulus di SPMA, boleh jadi saya tidak sekolah dan akan pulang kampung. Sementara dalam diri saya sudah tertanam tekad dan janji pada diri sendiri dan juga pada ibu bahwa sekali kaki melangkah untuk menuntut ilmu di perantauan, saya berpantang pulang sebelum berhasil. Apapun dan dalam kondisi apa pun saya harus tetap melanjutkan sekolah di Banda Aceh. Maka, dengan berat hati saya mendaftarkan diri ke SPG Negeri Banda Aceh. Keterpaksaan ini semakin terasa karena ketika mendaftar, ijazah asli yang saya serahkan kepada panitia penerimaan siswa baru, tidak dikembalikan pada saya. Penahanan ijazah ini lalu menjadi petaka bagi saya. Muara dari penahanan ijazah ini adalah kegagalan untuk meraih cita-cita di masa kecil itu, sebab saya tidak bisa lagi mendaftarkan diri ke SPMA, karena tidak bisa menunjukkan ijazah asli. Ini benar-benar sebuah petaka. Tampaknya garis tangan saya memang untuk menjadi guru. Ketika pengumuman tiba, saya pun dinyatakan diterima di SPG Negeri Banda Aceh yang sama sekali bukan impian saya.

 

Akhirnya, suka atau tidak. Likes or dislikes, SPG ternyata menjadi tempat saya harus belajar. Saya rupanya harus belajar menjadi guru. Walau pada mulanya sangat tidak mencintai profesi guru. Inilah sebuah realitas kehidupan yang mungkin harus saya terima, tidak bisa ditolak. Saya harus menerima kenyataan bahwa bisa saja atau mungkin inilah jalan hidup yang harus ditempuh. Karena saya sangat sadar bahwa saya dilahirkan dari keluarga miskin. Dilahirkan dalam keluarga yang miskin. Saya tidak tahu, apakah kemiskinan yang dialami oleh kedua orang tua saya saat itu berbentuk kemiskinan absolut, kemiskinan struktural atau bentuk-bentuk kemiskinan lainnya. Kemiskinan inilah mungkin yang mengharuskan saya untuk menjadi guru. 

Saya merasa sangat terpaksa untuk bersekolah di lembaga pendidikan guru yang bernama SPG itu. Bagaimana saya bisa berharap besar untuk bisa bersekolah di sekolah-sekolah yang tergolong favorite, sekolah unggul atau apalah namanya yang tergolong elit dan eksklusif. Orang tua saya yang hanya seorang buruh tani dan ibu seorang petani di desa, barangkali telah menjadi sebuah batu sandungan bagi kehidupan saya untuk bisa keluar dari sebuah pilihan berat terhadap sekolah guru. Kemiskinan orang tua saya, memang telah membelenggu dan membenam mimpi saya. Saya merasa sangat tidak bisa terlalu berharap tinggi – tinggi seperti anak-anak lain. Saya memang harus menerima kenyataan ini. Harus belajar menjadi guru secara sungguh-sungguh. Maka sejak itu, hari-hari pertama di SPG saya jalani sebagai sebuah proses untuk menjadi guru. Saya belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Benar. Kendati menjadi calon guru, bukanlah sebuah profesi impian dan harapan untuk masa depan, semangat baja untuk belajar tetap ditancapkan dalam diri. Saya belajar bangkit dari keterpurukan nasib. Nasib yang membelenggu kehidupan saya, bergelimang kemiskinan. Karena saya sendiri tidak pernah menyangka bisa bersekolah ke kota. Maka, walau bukan sebuah impian, akhirnya saya bertekad untuk bisa memperoleh kehidupan yang lebih. Benar, bahwa ketika di kampung, saya pernah berikrar pada diri sendiri. Masih segar dalam ingatan. Kata-kata yang membaja. Ya Allah, Saya ingin hidup lebih baik dari pada kehidupan orang tua saya. Ikrar ini sangat mendorong semangat saya untuk belajar. Alhamdulilah, sebagai anak yang kurang gizi, hasil usaha belajar yang giat dan tekun tidak menjadi hambatan dan batu sandungan bagi diri saya untuk berprestasi. 

Ketika duduk di kelas satu SPG, saya mampu menunjukkan prestasi itu, tatkala rapor yang saya terima saat itu menempatkan saya pada posisi rangking satu. Saya mampu menyaingi teman-teman sekelas yang gizi dan kehidupannya mungkin lebih baik dari apa yang saya alami. Saya bersaing ketat dengan teman sekelas. Kebetulan seorang gadis yang anggun yang membuat semangat bersaing dalam diri saya semakin tinggi. Seorang anak kota yang memang suka untuk menjadi guru. Kondisi ekonominya cukup bagus dan ia punya rumah yang pada saat itu tergolong besar. Ia telah menginspirasi saya untuk bersaing secara sehat dan jujur. Karena seperti kita ketahui bahwa sekarang ini, banyak orang yang bersaing untuk mengejar nilai dengan cara-cara yang tidak terhormat, seperti nyontek, atau membeli nilai dan sebagainya. Pendeknya, nilai-nilai yang diperoleh di rapor sudah penuh dengan praktek rekayasa atau manipulasi. Cara-cara yang kita sebut sebagai bentuk ketidakjujuran intlektual.

 

Click to comment