PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

MENCARI IDE

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh Syauqi, S.Ag, M.Pd

Guru Bahasa Inggris, Mts Jeumala Amal, Lueng Putu, Pidie Jaya, Aceh

 

Saya termasuk salah satu peserta yang mengikuti tantangan menulis selama 30 hari yang bernama 30HaBe. Setiap hari saya harus menulis sebanyak minimal 200 kata. Dalam pencarian kata untuk dijadikan sebuah tulisan tidaklah mudah, apalagi sebagai penulis pemula seperti saya. Tetapi saya tidak pernah patah semangat, setiap hari tetap berusaha untuk menulis, menulis dan menulis. 

 

Dalam menulis, ada kalanya saya kehilangan kata yang musti ditulis. Maksudnya Ide. Ide memang penting dalam menulis, maka setiap saya menemukan kesulitan dalam menulis, saya selalu mencari yang namanya ide. 

 

Suatu hari saya mampir ke sebuah warung kopi di pinggir jalan nasional. Saya berharap dengan duduk di warkop, saya bisa menyelesaikan beberapa tulisan. 

 

Mula-mula, kata-kata yang keluar dari kepala saya tidak terputus-putus bagaikan air yang mengalir. Namun beberapa saat kemudian, tanganku terhenti menulis, karena tidak ada lagi kiriman kata dari otak. Saya memeras otak untuk menemukan kata-kata yang kemudian memerintahkan tangan untuk mengetik. Namun beberapa kali saya coba, otak tetap tidak bisa menenukan kata-kata tersebut sehingga saya menghentikan untuk menulis. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya terlintas dalam pikiran untuk menemukan ide. 

 

Saya menunggu kehadiran ide, namun yang saya tunggu tidak menampakkan diri. Padahal pada saat kondisi seperti itu, ide selalu datang menemaniku. Namun hari itu entah mengapa, ide tidak muncul juga. Padahal saya sudah berusaha untuk mencari-carinya. Maksudnya mencari dengan mata sambil duduk menikmati secangkir kopi hangat.

 

Setelah sekian lama menunggu, datanglah kejenuhan, sehingga saya memutuskan untuk menghubunginya. Saya mengeluarkan handphone dan mulai membuka percakapan.

 

 “Assalamu’alaikum….!” Saya menyapa ketika ada tanda-tanda bahwa panggilan saya sudah dijawab

“Wa’alaikum salam! Jawab sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinga

“Kamu lagi di mana?” Saya bertanya dengan nada sedikit kesal

“Saya lagi di seberang sungai!” Jawabnya santai

“Sialan kamu, Saya telah menunggumu seharian di sini, tapi Kamu belum muncul juga. Saya menunggu kamu loh!” Kata Saya setengah memaksa

“Mohon ma’af, Saya tidak bisa datang hari ini, karena air sungainya sedang meluap. Jadi Saya tidak berani menyeberangi sungai!” Jawabnya sedikit gelisah

Mendengar jawaban itu, saya merasa sangat kecewa. Tanpa memperdulikan omongannya lagi, saya langsung menutup telephone dan meletakkan handphone di atas meja. Saya hanya bisa menopang dagu sambil termenung.

“Eh! Abang kok bengong sih?” Sapa suara seorang cewek yang tidak asing di telingaku. 

Saya mendongakkan kepalanya dan ternyata yang berdiri di depan adalah Ida. Ida adalah seorang cewek manis yang saat itu sedang didekati oleh Ide. 

Saya memang terkejut akan kehadirannya tanpa sempat saya sadari, tiba-tiba saja dia sudah berdiri di hadapan saya. Setelah menenangkan diri, saya langsung menatapnya. Hati saya sangat gembira. Dengan adanya Ida, tentu saya bisa memancing ide untuk datang ke tempat itu. karena saya tahu bahwa ide sedang mendekati Ida 

“Abang lapar ya?” Ida bertanya dengan senyum di bibir

“Kok dia tahu kalau saya memang sedang kelaparan”. Saya berkata dalam hati dan berharap Ida akan menawarkan makanan untuk saya.

 

Hampir saja saya menjawab “Iya”. Tetapi tiba-tiba timbul gengsi saya, sehingga memaksa saya untuk menidakkan pernyataannya

“Oh…tidak…!” Saya berkata sedikit gugup saat mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba

“Maksudnya tidak salah….he he he!” Saya menyambungnya tanpa terbawa perasaan

Ida tersenyum manis sekali, lalu berlalu dari hadapan Saya menuju ke bangku di jejeran belakang.

“Selamat menikmati rasa lapar, ya!” Ida berkata dengan masih tersenyum

Saya tidak memperdulikan omongannya, Karena yang terlintas dalam pikiran saat itu adalah tentang Ide. Namun nafas saya hampir sesak saat mencium aroma wangian dari pakaian yang dikenakan oleh si Ida.

“Gila itu anak, masak sih pakek wangian sebotol sekali pakek, bikin orang mau pingsan!” Gerutu Saya dalam hati

 

Saya mengambil handphone yang tergeletak di atas meja dan menelpon Ide

“Halo…Air sungainya masih meluap ya?” Saya menyapa dengan ramah

“Iya…belum bisa menyeberang. Jembatan di ujung sana pun sudah putus!” Jawab Ide

“Eh…kamu tau tidak, bahwa Ida sudah ada di sini?”,  Saya berencana mau ngobrol-ngobrol dengannya” Pancing saya supaya ide cemburu. Saya langsung memutuskan panggilannya.

Ternyata dugaan saya benar, Ide memang menyukai Ida. Ketika saya memberitahukannya bahwa mengobrol dengan Ida, Ide timbul rasa cemburu, kemudian menelphone saya. Saya sengaja tidak menjawab panggilannya agar dia semakin panas. Maksudnya semakin panas hatinya, supaya cepat datang ke tempat Saya…he he he

Setelah dua kali menelpon, akhirnya saya mengangkatnya dan 

“Kamu sekarang di mana?” tanya Ide

“Kenapa? Kamu kan tidak bisa lewat juga karena banjir!” Jawabku seenaknya

“Ayolah, Di mana kamu?” Ide bertanya seperti orang panik

Lalu memberitahukannya bahwa saat itu saya berada di sebuah warung kopi di pinggir jalan nasional sambil menyebutkan nama warung kopi dan letaknya dengan sejelas-jelasnya. Setelah itu Ide menutup kembali handphonenya.

 

Tak lama berselang, saya melihat Ide sudah berdiri di hadapan saya. Bajunya basah kuyup, tubuhnya sedikit gemetaran kedinginan. Saya melongo melihat penampilan Ide yang lumayan keren. Seumur hidup saya belum pernah melihat penampilannya seperti hari ini.

“Kenapa jadi begini?” Saya bertanya sambil tersenyum-senyum

“Saya tadi menyeberangi sungai, jadi pakaian basah semua!” kata Ide sambil celingak celinguk seperti mencari seseorang.

“Minum kopi dulu yok!” Ajak saya sambil berharap Ide menyetujui usulan saya. Harapan saya cuma satu yaitu Ide akan membayar kopinya sekalian dengan punya saya

 

 “Tidak mau ah! Nanti saya juga yang bayarin sekalian dengan kopimu!” kata Ide cengar-cengir

Ternyata dia telah mengetahui isi hati saya. 

“Kamu bilang Ida ada di sini, Dimana Dia?” tanya Ide 

Saya sudah menduga akan pertanyaan tersebut. Pasti gara-gara si Ida, Ide rela berenang menyeberangi sungai.

“Itu Dia ada di belakang!” Saya berkata sambil menunjuk ke arah belakang

 

Ide langsung menuju ke tempat Ida. Kemudian saya melanjutkan menulis tanpa memperdulikan kepergian Ide. Namun Saya masih bisa mendengar suara tawa bahagia mereka seolah-olah dunia ini milik mereka berdua.

Saya masih terpaku di depan layar laptop. Tiba-tiba saya merasakan sebuah tepukan di pundak, Saya menoleh dan ternyata Ide yang telah menepuk pundak saya, kemudian berkata

“Kami duluan bang ya! lanjutkan saja menulisnya!” kata Ide sambil tersenyum kemudian keluar dari warung kopi diikuti si Ida di belakangnya.

 

Saya bertambah bingung melihat kepergian Ide. Ide yang Saya tunggu ternyata sudah pergi bersama si Ida. Saya berfikir lebih baik saya sudahi saja tulisannya. Percuma saja menulis, sedangkan Idenya sudah pergi bersama si Ida. Lalu saya matikan laptop dan memasukannya ke dalam tas ransel. Saya mendekati pemilik warung kopi untuk membayar harga kopi yang telah saya minum. Ternyata sudah dibayar oleh Ide.

“Tidak apalah kamu pergi saat ini, hari selanjutnya kita akan berjumpa lagi!” Saya berkata dalam hati sambil ngeloyor keluar warung dan langsung menghilang entah kemana 

 


Click to comment