Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Menulis di Media dan Memetik Hasilnya

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>








Oleh Tabrani Yunis


Idealnya, seorang   sarjana, lulusan perguruan tinggi itu mampu atau bisa menulis, bahkan sangat mahir. Dikatakan demikian, karena ketika menyandang status sebagai mahasiswa, sering mendapat tugas menulis dari dosen, seperti menulis makalah atau tugas karya ilmiah. Bahkan sebagain tugas akhir untukm bisa meraih gelar sarjan, seorang calon sarjana harus mampu menulis skripsi. Jadi, seorang calon sarjana akan bisa menjadi sarjana, kalau sudah berhasil menulis skripsi dan mempertanggungjawabkan skripsinya lewat sidang sarjana. Bila lulus, baru sah menjadi sarjana apabila ia mampu dan lulus ujian akhir itu. Hebat bukan?

Tentu saja hebat dan bahkan membanggakan, karena lulusn menjadi sarjana. Namun, sayangnya banyak sarjana yang lulus dan meraih gelar sarjana, kemudian menyatakan bahwa mereka tidak bisa menulis. Bila tidak percaya, cobalah ajak mereka yang sudah sarjana tersebut menulis, mengisi ruangb opini di media massa, maka sering sekali kita mendapatkan jawaban, “ saya tidak bisa atau tidak pintar menulis”. Padahal, banyak yang sudah menjadi guru dan memberikan tugas menulis kepada para siswa mereka. Pertanyaan kita adalah, bagaimana guru –guru yang memberikan tugas menulis kepada siswa mereka, kalau para guru ini tidak terbiasa menulis? Ya, itu adalah salah satu contoh saja. Karena idealnya, seorang sarjana, atau bahkan guru yang sudah menulis skripsi kala meraih gelar sarjana, mampu dan mau menulis. Karena menulis adalah ketrampilan berbahasa yang terus berkembang dan menjadi ketrampilan yang sangat membantu semua orang, termasuk diri sendiri, termasuk penulis sendiri yang sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

 

Ketika pada tahun 1989 penulis menerima ijasah sarjana (S1) di FKIP Unsyiah Darusaalam Banda Aceh, penulis telah diwarisi dengan sebuah ketrampilan menulis. Ya, seperti disebutkan di atas, bahwa pada saat menyelesaikan study di lembaga pendidikan itu, penulis diwajibkan menulis sebuah skripsi. Alhamdulilah,  dibimbing oleh seorang profesor, Bahrein T. Sugihen. Seorang dosen yang cukup senior di Universitas Syiah Kuala kala itu. Selain Prof. Bahrein T.Sugihen,  pembimbing kedua saat itu adalah Dr. Bahrum Yunus. Nah, berbekal ilmu dan ketrampilan itu, pada tahun 1989, di Aceh terbit sebuah koran harian pagi, Serambi Indonesia, maka pada pertengahan tahun 1989  mulai merangkai makna (mengutip judul buku Pak Hernowo Hasim), menulis di media masa. Menulis artikel opini sekitar dunia pendidikan dan permasalahannya. Tulisan penulis yang pertama dimuat di harian itu adalah sebuah tulisan yang berjudul Tinjauan Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah yang dimuat pada hari Rabu,14 Juli 1989. 

Pemuatan tulisan  pertama itu, membakar semangat  dan mengalirkan darah baru untuk menulis lagi. Penulis menulis lagi dan tulisan itu dimuat pada minggu depan. Permulaan yang mengejutkan ini, mendorong penulis untuk terus belajar menulis di media. Belajar dari banyak buku yang memaparkan tentang kiat-kiat menulis. Penulis mulai membeli buku-buku itu. Ya,  sempat membeli buku “Writing with A purpose” yang ditulis oleh Mc. Crimmon,  juga membeli dan membaca buku yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto, menulis itu gampang. Selain itu juga membeli buku “  Menggebrak Dunia Mengarang” yang dituliskan oleh Eka Budianta. Pokoknya, ada sejumlah buku lain yang menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Tentu bukan hanya itu yang dimiliki. Ada juga buku yang tergolong best seller, yang dituliskan oleh Pak Hernowo, Merangkai Makna.

 

Buah dari pencarian ilmu dengan membaca buku-buku tersebut telah ikut menambah sikap kritis pada diri. Penulus semakin produktif menulis untuk media. Sejalan dengan hadirnya dua media massa yang lain di Aceh, kemudian mengirimkan tulisan ke surat kabar lain seperti ke Atjeh Post, dan Aceh Express. Didorong oleh keinginan untuk bisa merambah ke koran nasional, pada tahun 1992 mulai mencoba mengirimkan tulisan ke koran di Sumatera Utara. Pada awalnya mengirimkan tulisan ke harian Waspada Medan dan selanjutnya  di harian Analisa Medan. Juga berupaya untuk bisa menulis di koran nasional seperti Kompas dan lain-lain. Namun sebuah kebanggaan tersendiri,  ada beberapa tulisan  pernah dimuat di koran nasional, seperti Suara Pembaruan, harian Umum Republika, harian Kompas dan juga di The Jakartapost.  Tentu tidak mudah menembus media nasional. Dibutuhkan kesungguhan dan kesabaran serta waktu. Karena bukan sekali atau dua kali tulisan ditolak pemuatannya dengan berbagai alasan yang terbentur dengan kriteria. Namun, karena istiqamah, dengan penuh rasa bangga dan puas di hati, beberapa tulisan sempat terbit di media nasional tersebut. Di samping menulis untuk koran, juga menyempatkan diri menulis untuk buletin dan newsletter. Hingga kini, lebih kurang ada 500 tulisan dan ditambah dengan lebih 500 tulisan di media online, seperti Kompasiana.com, watyutink.com, www.potretonline.comdan lain-lain, seperti di laman steemit.

 

Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta profesi sebagai guru, umumnya menulis tentang dunia pendidikan. Tulisan-tulisan tentang pendidikan itu banyak mengkritik tentang kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan yang seringkali tidak sesuai antara kata dan perbuatan. Ketimpangan-ketimpangan serta persoalan-persoalan mismanagement dalam pengelolaan pendidikan di Aceh khususnya dan nasional pada umumnya, menjadi sorotan tulisan-tulisan penulis, yang sering membuat para pengambil keputusan di Aceh kebakaran jenggot.

 

Menjalani tradisi menulis, bukan tanpa risiko. Apalagi kalau tulisan-tulisan yang ditulis adalah tulisan yang bersifat mengkritisi kebijikan pemerintah di bidang pendidikan. Sebagai seorang guru, mengkritisi kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, pasti menghadapi risiko. Penulis sendiri pernah mengalami hal ini. Di bulan September, tepatnya tanggal 3 tahun 1991, tulisan  yang berjudul “ Hardikda dan Mutu Pendidikan” mendapat reaksi keras dari pihak Kanwil Depdikbud saat itu. Kala itu penulis dipanggil untuk menghadap Kakanwil Depdikbud dan “disidang” di ruang (kamar)nya Kakanwil dengan dihadiri oleh 5 kepala bidang saat itu.  Masih segar dalam ingatan kala itu, diancam untuk dipindahkan ke daerah terpencil, serta diperintahkan untuk meminta maaf di surat kabar. Ancaman dan instruksi tersebut penulis tantang dan menolak untuk minta maaf. Penulis hanya mendiamkan. Akibatnya ada pihak lain yang menjadi korban. Pengalaman lain yang juga berisiko tinggi adalah tatkala tulisan saya yang berjudul “Dosa Sebuah kebijaksanaan”dimuat di harian Serambi Indonesia, rupaya menimbulkan keberangan seorang Kakandepdiknas kota Banda Aceh. Akibat pemuatan tulisan itu penulis dipanggil untuk menghadap dan mempertanggungjawabkan isi tulisan. Perintah itu penulis hadapi dan akhirnya  mampu menghadapi gugatannya. Di masa Aceh dalam konflik bersenjata, eksistensi saya sebagai sorang guru dan juga penulis yang sekali gus sebagai aktivis sebuah LSM, membuat nyali  untuk menulis tulisan yang bersifat kritik menurun. Ada perasaan  takut. Karena dalam realitasnya, nasib guru di Aceh selama konflik tampaknya sangat buruk. Banyak guru yang menjadi korban selama konflik di Aceh. Ada yang cacat, ada yang diculik, ada yang dibunuh dan sebagainya. Lebih dari 500 guru melakukan eksodus pada awal meluasnya eskalasi konflik di Aceh. Lebih dari 100 guru tewas selama konflik. Padahal Aceh kekurangan lebih kurang 13000 guru. Kondisi ini sangat mengerikan memang. Apalagi, dalam kenyataannya ketika sang guru itu mati atau etwas di dalam konflik karena dibunuh, tidak ada perlindungan hukum dan renahnya perhatian pemerintah terhadap korban. Maka wajar saja banyak guru yang ketakutan.

 

Pendeknya, menulis yang berirama kritik itu telah menampakkan bahwa risiko selalu ada. Salah satu risiko yang hingga kini ada adalah saya menjadi orang sangat tidak disukai oleh para pejabat di Dinas Diknas di Aceh kala itu. Penulis memang merasa terus menuai dampak dari semua yang  ditulis. Kalau ada kegiatan-kegiatan penataran guru, atau seminar-seminar pendidikan, penulis tidak pernah diundang atau dilibatkan secara langsung dalam kegiatan-kegiatan di dinas Pendidikan. Namun di balik resiko itu, sebenarnya kegiatan merangkai makna dan menulis di media massa, banyak membawa keuntungan bagi penulis sebagai seorang guru. Banyak pembelajaran (lesson learned) yang dapat dipetik. Banyak keuntungan yang  diperoleh. Keuntungan tersebut di antaranya : Pertama, megantarkan penulis pada sebuah kondisi atau status guru yang pembelajar.Selama menggeluti dunia tulis menulis, penulis terdorong untuk terus membaca dan membaca. Bukan saja membaca buku-buku, tetapi juga membaca zaman. Karena kunci untuk menulis adalah membaca. Penulis menjadi rajin belajar, memperluas cakrawala berfikir. Kedua, kegiatan menulis, telah menumbuhkembangkan sikap kritis, sehingga gemar mengkritisi setiap kebijakan yang bertentangan dengan prinsip yang sudah dibangun.. Ketiga, bahwa sebagai seorang guru yang katanya penghasilannya pas-pasan,  juga memperoleh keuntungan finansial dari kegiatan menulis tersebut. Saya bisa menambah pendapatan dengan sering menulis di koran atau di media lain. Ke empat, dengan menulis, sebagai guru yang pada mulanya tidak dikenal, kemudian dikenal oleh banyak orang. Keuntungan yang kelima, sangat relevan dengan profesi guru. Untuk kenaikan pangkat, ternyataa tulisan-tulisan itu sangat membantu saya dalam mengumpulkan angka kredit. Pengalaman pribadi, tulisan-tulisan tersebut telah mempercepat proses kenaikan pangkat setiap dua tahun sekali. Keenam, semakin banyak yang kita tulis, maka semakin banyak yang dapat kita dokumentasikan. Minimal bisa kita jadikan sebagai sebuah warisan bagi anak-anak kelak.

 

Kini, sudah lebih kurang 35 tahun lamanya menggeluti profess gurui yang pada mulanya tidak  disukai ini, selama itu pula saya banyak memetik pahit getirnya menjadi guru. Namun, diantara sekian banyak hal yang pahit itu, ternyata menjadi guru itu banyak kenikmatan dan keindahan. Betapa indahnya hidup menjadi guru. Bukan keindahan dan kenikmatan material, tetapi sebuah kenikmatan yang hakiki, yakni sebuah kepuasan batin yang mungkin juga tidak dimiliki oleh profesi lain. Dan agar sebagai guru yang selama ini terbelenggu dalam kerangkeng kemiskinan material, penulis pun mencari alternatif sumber kehidupan seperti menggeluti tradisi menulis, di samping mendapatkan sumber kehidupan dan sumber pengembangan diri sebagai seorang aktivis LSM sejak tahun 1991 itu.

 

Kiranya, sebuah profesi itu menjadi semakin nikmat, kalau kita mau mensyukuri dan menjaga eksistensi sebuah pekerjaan, mencintai pekerjaan itu dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan penuh keiklasan. Mau mebuka diri untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan berbagai cara. Kata orang bijak, ya many ways to heaven. Dan kita mau menjadi manusia pembelajar seperti kata Andreas Harefa. Semoga..

 

 

Click to comment