PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Perjalanan Mengubah Nasib

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 


Oleh Tabrani Yunis

          Bagian ke dua 

 

Dilahirkan dari keluarga miskin atau kaya, bukanlah sebuah pilihan. Artinya, tidak seorang pun bisa memilih agar lahir atau tidak lahir dari keluarga miskin. Begitu juga sebaliknya tidak bisa menolak atau meminta agar lahir dari keluarga kaya. Itu adalah ketentuan Allah semata. Namun, orang akan lahir dari keluarga miskin dan juga ada dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi. Keduanya bukan karena mereka bisa memilih. Yang jelas, hidup dari kedua strata tersebut pasti beda nikmatnya. Beda hidup si kaya dan si miskin. Biasanya, anak yang lahir di kekuarga kaya, bisa menikmati hidup dalam segala kemudahan dan tergantung seberapa sejahteranya atau kayanya orang tua mereka. Mereka bisa menikmati apa yang disebut hidup sejahtera. Sementara anak yang lahir dari keluarga miskin, menikmati apa adanya sesuai dengan kemampuan orang miskin. Tak dapat dipungkiri pula, dalam banyak kasus, keluarga miskin juga cendrung mewariskan kemiskinan kepada anak dan cucu, bila keluarga tersebut tidak mendapat pendidikan yang optimal. Dikatakan demikian, karena sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan pendidikan yang tinggi dan benar, akan mampu mengubah nasib lewat penguasaan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan jiwa yang tangguh. 

 

Aku lahir dari keluarga miskin. Ayahku, almarhum M.Yunus, beliau lebih dikenal dengan sebutan Ayah Unus atau ayah Unoh yang semasa hidupnya tergolong miskin dan menjalani hidup sebagai seorang buruh kasar. Sehari-hari harus berjibaku dengan kerja keras dan menggunakan otot. Sangat banyak pekerjaan yang digelutinya. Aku masih ingat sejumlah pekerjaan yang dilakoni ayahku. Satu di antarana adalah sebagai buruh angkut. Ya, masih segar dalam ingatanku, bahwa setiap kali masuk bus dari arah Tapak tuan ke Blang Pidie, atau sebaliknya, ayahku sudah siap menunggu bus berhenti, di stasiun maupun di luar stasiun. Beliau menaikan barang penumpang yang mau berangkat dan menurunkan barang-barang penumpang yang turun, mulai dari barang-barang kecil dan ringan, hingga yang besar dan berat. Pokoknya, ayahku kala itu melakoni pekerjaan sebagai buruh kasar. Aku ingat, itu adalah pekerjaan berat untuk bisa membeli beras dan lauk untuk kebutuhan sehari makan kami sekeluarga.

 

Aku faham mengapa ayahku harus melakoni pekerjaan itu. Ayahku seorang yang buta huruf. Beliau tidak mengenyam pendidikan bangku sekolah. Wajar saja, miskin karena almarhum ayahku adalah tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis, karena buta huruf. Ketrampilan hidup juga tidak seperti orang- orang yang berpendidikan lainnya. Namun, beliau adalah pekerja keras dan pantang menyerah. Sementara almarhum ibuku mungkin hanya sempat belajar di level sekolah Dasar. Jadi, kondisi kehidupan keluargaku memang sangat miskin.

 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga miskin, aku juga harus bergelut, hidup dalam kemiskinan. Tidak punya rumah, tidak punya kenderaan. Pokoknya hidup dalam serba kekurangan. Kehidupan yang serba sulit itu, memaksaku sejak kecil harus bekerja. Sejak SD aku melakukan pekerjaan, walau dalam konteks membantu ibu. Aku masih ingat, kala itu setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, usai salat subuh, aku harus keliling pasar Manggeng, untuk mejajakan pisang goreng dari pintu ke pintu. Bisa dua sampai tiga kali keliling, lalu mandi dan berangkat ke sekolah. Kebetulan sekolahku, SD Negeri 2 Manggeng, tidak jauh dari tempat tinggal kami. 

 

Bukan hanya itu, ada perkerjaan lain yang juga dilakukan saat itu. Bahkan ketika belajar di SMP terasa lebih berat lagi. Aku melakukan pekerjaan sebagai tukang becak dayung yang setiap pulang sekolah. Bisa dibayangkan beratnya medan yang dilalui saat itu, dengan kondisi jalan berbatu dengan mendayung becak dayung, mengantarkan semen, kayu dan sebagainya. Seringkali roda becak bergulung, karena jalan yang berbatu-batu besar. Hidup memang begitu berat. Ternyata hidup miskin itu memang tidak enak. Apapun yang diinginkan, tak dapat diwujudkan. Namun, semangat belajar ternyata juga tidak kalah. Sejak masih di SD, kebiasaan belajar bersama dengan teman-teman, belajar kelompok merupakan cara belajar yang sangat membantu. Bahkan, aku bisa belajar bahasa Inggris sejak di SMP dengan cara autodidak hingga bisa menyelesaikan pendidikan jenjang SMP di SMP Negeri Manggeng saat itu.

 

Entah mengapa, belajar bahasa Inggris adalah kesukaanku. Aku kala itu mulai jatuh cinta terhadap pelajaran bahasa Inggris. Aku sangat mengagumi dua guru bahasa Inggrisku yang keduanya sudah almarhum. Aku terinspirasi dari kemampuan bahasa Inggris guruku, Pak Kamaruddin yang tampil prima dalam mengajar bahasa Inggris. Aku mengaguminya dan membuat rasa suka terhadap bahasa Inggris pun kian bergelegar. Aku belajar dengan sangat rajin. Setiap hari saat jam istirahat, aku membaca bersuara. Aku tak peduli dengan ocehan teman-teman. Aku rajin ke perpustakaan meminjam buku-buku bahasa Inggris. Aku bahkan masih ingat salah satu buku yang aku naca saat itu, the train robbery yang aku pinjam di perpustakaan sekolah, SMP Negeri 1 Manggeng kala itu. 

 

Aku juga sangat terbantu dengan guru pengganti bahasa Inggris kala itu. Aku masih ingat dan terbayang dengan cara mengajar Pak Abdullah, lelaki berkulit hitam yang setiap kali mengajarkan bahasa Inggris membaca buku dengan bersuara lantang. Aku mengikuti cara itu dan setiap hari memperkaya diri dengan membaca dan menambah kosa kata bahasa Inggris secara otodidak. Aku benar-benar jatuh cinta pada bahasa Inggris.

 

Pokoknya, pada saat itu, cinta terhadap pelajaran bahasa Inggris mulai bersemi. Sayangnya, di kampung tempat saya bersekolah, tidak tersedia fasilitas belajar bahasa Inggris yang dapat membantu saya. Satu-satunya fasilitas belajar yang tersedia saat itu adalah buku paket. Buku paket bahasa Inggris yang membantu aku belajar mengeja, menghafal kata-kata dan kalimat bahasa Inggris itu adalah buku English for SMP yang berwarna putih. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Namun, ketiadaan fasilitas belajar saat itu tidak membuatku merasa patah arang, atawa putus asa. Karena cinta mulai bersemi, segalanya bisa dilakukan.  

 

Bagai judul sebuah film atau sinetron saja, bahwa di situ pertama kali cinta bersemi. Di situ perasaan cinta terhadap bahasa Inggris bersemi. Aku mulai belajar dengan sungguh –sungguh dan rajin untuk menguasai bahasa Inggris itu. Ketika di SMP itu, aku memang sangat serius menyemai benih cinta pada bahasa Inggris tersebut. Bagai menyemai benih bibit unggul di tanah yang sudah disebari pupuk organik. Aku mencoba pupuk kemampuan bahasa Inggris saya dengan berbagai cara. Cara-cara yang bisa saja lazim dilakukan oleh orang lain, atau tidak sama sekali. Ketiadaan buku dan ketidakmampuanku membeli buku bahasa Inggris, yang saat itu juga tidak ada toko buku di kota kecamatan tempatku,  dilahirkan itu. Aku sering mencari buku bahasa Inggris di pustaka sekolah. Masih segar dalam ingatanku sebuah buku bahasa Inggris yang saya baca di tahun 1976. Judulnya The Train Robbery. Sebuah buku kecil yang menceritakan tentang kisah perampokan di sebuah kereta api. Buku ini sangat menyenangkan hatiku pada saat itu. Buku ini membuat angan aku semakin melambung untuk bisa berbahasa Inggris seperti sang guru yang mengajarkanku cara mengeja dan membaca kata-kata bahasa Inggris dengan baik dan benar dalam standar kemampuan sang guru itu.

 

Ketiadaan toko buku yang menjual buku-buku bahasa Inggris di kampung halaman tempat  kelahiranku itu, rupanya tidak menjadi hambatan yang berarti bagiku untuk belajar bahasa Inggris. Ternyata, orang yang jatuh cinta terhadap bahasa Inggris, bukan hanya aku. Ayah teman sekolahku, sangat menginginkan anak-anaknya bisa berbahasa Inggris. Ia sangat ingin anak-anaknya belajar bahasa Inggris. Sebagai seorang pedagang yang sering berbelanja ke Medan, ia sering membeli buku-buku pelajaran bahasa Inggris untuk anaknya. Setiap kali ia pulang berbelanja barang-barang dagangan dari Medan atau Banda Aceh, ia selalu membeli buku-buku bahasa Inggris. Namun sayang, anak-anaknya tidak cinta terhadap bahasa Inggris, seperti cintanya aku. Tatkala rasa cinta tidak tumbuh, maka tidak ada buah cinta yang bisa dipetik anaknya. Aku pada saat itu, datang untuk memetik ilmu dari buku-buku itu. Buku-buku bahasa Inggris yang dimiliki rekan sekelas di SMP itu, kucoba manfaatkan sebaik mungkin. Aku memetiknya dengan cara menyalin semua isi buku tersebut ke dalam buku tulis yang  kubeli setelah menjual setandan pisang. Aku membuat kamus bahasa Inggris sendiri secara bertahap. Hingga akhirnya, sewaktu di SMP itu kemampuan bahasa Inggrisku bisalah dijadikan modal untuk merubah paradigma kehidupanku yang miskin ilmi dan miskin harta itu.

Click to comment