Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Rindu Tak Bertepi, Puisi-Puisi Untuk Gizi Nurani

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



Catatan D Kemalawati

 

Butuh waktu beberapa lama bagi saya menulis pengantar buku puisi Tabrani Yunis yang diberi judul “Kulukis Namamu di Awan”. Bukan semata-mata karena waktu membaca yang terbatas, tetapi setiap satu puisi saya baca, selalu saja saya temukan sesuatu yang membekas di sana. Saya harus berhati-hati memilih dari sekian puisi yang meninggalkan bekas itu, untuk saya jadikan pembuka jalan masuk ke puisi-puisi lainnya yang semuanya memiliki cita rasa istimewa.

Menilik judul buku yang dipilih penyairnya “Kulukis Namamu di Awan” maka kelindan pikiran kita saat menggauli isinya adalah adanya nama-nama dan peristiwa yang menjadi garis hubung dengan si penyair.  Garis hubung yang tegas diabadikan dalam puisi-puisi di sana. Dan, tentu dengan mudah nama-nama itu dapat kita temukan ditulis dengan jelas seperti pada puisi berikut:

Seonggok Rindu

(Buat istriku Salminar, dan anak-anakku Albar Maulana Yunisa dan Amalina Khairunissa)

 

Bismillah 

Al fatihah

Hari ini genap 12 tahun kita berpisah

Sudah lebih satu dasawarsa hati gelisah

Walau kadang mengalir dalam desah

Namamu Salminar masih singgah

Namamu Albar Maulina Yunisa masih mendesah

Juga Amalina Khairunissa yang hingga kini terekam

Dalam setiap sinar mentari merekah

Aku ingin katakan

Walau tak pernah menemukan di mana batu nisan

Walau tak pernah bertemu wujud badan

Kala bencana tsunami menyimpan kalian

Nuraniku masih menyimpan

Setiap tingkah, raut wajah dan gerak badan

Sebagai isyarat kita punya ikatan

Hari ini

Izinkan aku meneteskan air mata tanda kenangan

Izinkan aku menyebut nama-nama kalian 

Izinkan aku menitipkan seunggu doa dan ucapan

Aku masih cinta dan memimpikan

Namun aku wajib mengingat Tuhan

Allah yang memiliki semua isi alam

Aku tidak punya kekuatan

Semua milik Tuhan

Aku rela karena kita milik Tuhan

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

 

(Desember 2016)

 

Izinkan aku menyebut nama-nama kalian, tulisnya.  Salminar, Albar Maulana, Amalina Khairunissa adalah tiga nama yang terus hadir dalam ingatannya. Tiga nama yang disimpan ke dalam bejana air raya dalam dekapan gelombang tsunami. Tiga nama yang terus mengalirkan rasa gelisah karena hingga dua belas tahun sudah  wujud badan yang tak ditemukan.  meski ia bersama teman relawan mencarinya siang dan malam. Tiga nama yang hanya bisa dilukis di awan, bukan di batu-batu nisan. 

Seonggok Rindu bukan puisi rekaan yang lahir dari imajinasi penyair. Nama-nama yang ditulis dan peristiwa yang disebutkan adalah nyata. Tetapi puisi itu  tidaklah personal ungkapan perasaan Tabrani Yunis sebagai penyair. Puisi itu ketika dibaca akan mewakili setiap jiwa yang kehilangan orang-orang terkasih saat bencana tsunami menghantam negerinya, siapapun ia. Kita dapat merasakan bagaimana kerinduan seorang suami sekaligus ayah kepada istri dan anak-anaknya meski perpisahan itu sudah lebih satu dasawarsa.  Begitupun, Penyair tidaklah membesar-besarkan rindunya dengan menulis, misal ‘Segunung Rindu’,  Ia hanya menulis ‘Seonggok Rindu’ untuk melukiskan  perasaannya yang tak bisa disembunyikan lagi.  Tidak juga kata ‘rindu’ diulang-ulangnya dalam baris-baris puisinya, meski baris puisinya melebihi dua puluhan baris panjangnya.

Puisi Seonggok Rindu cukup membuat kita mengenal bagaimana sikap Penyair dalam menerima ketentuan Allah kepada dirinya. Ia merupakan sosok yang kuat, yang bersandar diri kepada Tuhan.  Syekh Ibn Athaillah al-Sakandari dalam terjemahan al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir menuliskan catatannya bagaimana cahaya Tuhan membantu seseorang dalam menghadapi ketentuannya seperti kutipan berikut: Ketahuilah, jika Allah SWT hendak menguatkan hamba dalam menerima sesuatu yang Dia tetapkan atas dirinya, Dia akan menyelimutinya dengan cahaya sifat-Nya. Dengan begitu, liputan cahaya-Nya akan mendahului datangnya ketentuan-Nya. Karenanya, ia menggantungkan diri kepada Tuhan, tidak bersandar kepada dirinya sehingga ia kuat dan bersabar memikul semua beban (Mengapa Harus Berserah, Serambi 2007). Lalu, apakah Tabrani Yunis adalah orang pilihan Tuhan untuk diliputi cahaya-Nya?

Bagi saya, cahaya-Nya itu jelas terlihat dalam baris-baris kalimat puisinya. Bermula dengan Bismillah dilanjutkan Al Fatihah dan diakhiri dengan innalillahi, menjadikan puisi memiliki batang tubuh yang utuh dan bersinar. Dengan tidak sebuah kalimat pun berburuk sangka kepada ketentuan Allah, Tabrani Yunis sesungguhnya sudah sepenuhnya menerima apa yang telah ditentukan Allah untuk dijalaninya. Sebagai hamba, Tabrani Yunis pasti berpegang kepada firman Allah yang menyatakan “Atau apakah manusia akan mendapatkan semua yang diinginkannya?! (Tidak) hanya milik Allah kehidupan akhirat dan dunia.”(Q.S al-Najm:24-25) 

Tidak semua yang diinginkan manusia bisa didapatkan, itu janji Allah. Tabrani Yunis sebagai penyair sangat menyadari hal itu, namun rasa rindunya terhadap anak istrinya yang sudah di sisi Allah membuatnya tetap berandai-andai.

Andai hari ini aku bisa melihatmu 

Kan kuulurkan tangan menarikmu 

Tapi aku tenggelam dalam rindu yang tak bertepi 

 

(petikan Puisi “Aku Tenggelam Dalam Rindu”)

 

Rindu yang tak bertepi dirasakan penyair adalah rindu yang tak pernah berubah. Dalam puisinya berjudul Rindu Tak Berubah  Ia menulis untuk anaknya:

 

Nak,

Rinduku belum terkubur bersama lumpur nan mengalir dari bah

Rinduku belum pupus walau waktu berubah

Masih tulus menembus desah 

 

Rindu yang tak berubah masih tulus menembus desah sehingga  Ia mampu menemukan dimana rindu itu dititipkan. Pada ombak, ya pada ombak yang pernah marah membawa luka di ujung masa.

 

Kutitip Rindu Pada Deburan Ombak

 

Kutitip rindu pada deburan ombak nan membelai pantai

Agar lega luka nan menganga

Obati duka pada cinta na hilang

 

Kutitip rindu pada ombak

Agar setiap kali ombak pecah 

Hadir wajah mungilmu nan kurindu

 

Kutitipkan rindu pada deburan ombak nan membelai pantai

Tuk kujadikan cerita

Bahwa kau pernah ada dalam jiwa

Kau pernah sejukkan raga

Walau hanya sekejap

 

Kutitipkan rindu pada deburan ombak

Tuk kujadikan catatan bahwa cinta kasih sayangku pernah ada

Walau sebutir embun karena sesungguhnya kau bukanlah milikku

Kau hanyalah milik Sang Khalik

 

Kutitipkan rindu pada ombak nan putih

Tuk kujadikan sejarah

Bahwa di tanah kita pernah ada amarah ombak

Yang membawa luka di ujung masa

Di tanggal dua puluh enam Desember dua ribu empat.

 

Menitipkan rindu pada ombak yang telah menyebabkan penyair kehilangan orang-orang yang dicintai adalah prilaku yang mulia. Laut marah dijadikan sejarah bukan tempat Penyair meluahkan amarah. Betapa indah dan ihlasnya puisi di atas. Tak ada rasa benci dan amarahnya pada ombak meski telah membawa luka hingga ke ujung masa. Ombak  yang membuat negerinya hancur porak poranda, ratusan ribu nyawa melayang karenanya. Sesungguhnya kau bukanlah milikku, tulus Penyair dalam lariknya, Kau hanyalah milik Sang Khalik.”

 

Jika pada ombak Penyair menitipkan rindunya, maka pada gumpalan pasir nan ditampar-tampar gelombang Ia mengadu tentang gelombang pasang membawa hilang buah cinta yang disayang. Di Babah Dua Penyair bercerita tentang luka yang menganga, bertanya kemana gerangan kau bawa pendamping setia. Puisi yang mewakili perasaan tak berdaya mereka yang ditinggal pergi begitu saja dalam musibah bencana dalam hitungan menit saja.

 

Pada Gumpalan Pasir Putih di Babah Dua

 

Pada gumpalan pasir di Babah Dua

Kuceritakan tentang luka menganga, 

Tatkala laut murka menerjang

Ombak dan gelombang menerkam alam

Membawa serta nan kucinta

 

Pada pasir putih nan ditampar-tampar gelombang di Babah Dua

Ku mengadu tentang gelombang pasang membawa hilang 

Buah cinta yang kusayang

 

Pada gelombang nan menjilat garis pantai di Babah Dua

Kubisikan tentang bulir air mata dan tangis lirih nan menyeka mata

Tatkala mata duka tak mampu menatap relung hati

Yang kehilangan buah hati

 

Kepada ombak dan riak di Babah Dua kubertanya

Kemana gerangan telah kau bawa buah cinta

Kemana gerangan kau bawa pendamping setia

 

Gumpalan pasir putih

Gelombang dan ombak di Babah Dua

Kenapa tak pernah rela berikan jawaban?

 

Membaca puisi-puisi Tabrani Yunis dalam kumpulan puisi ini menurut saya adalah membaca rindu manusia pada umumnya kepada orang-orang terkasih, rindu yang tak ada tepiannya. Kenapa gumpalan pasir, gelombang dan ombak tak pernah rela memberi jawaban? Jawaban saya karena jawabannya sudah ada dalam puisi-puisi yang ditulis Penyair Tabrani Yunis, puisi-puisi yang diperuntukkan untuk gizi Nurani. Nah! Selamat menikmati.

 

Banda Aceh, Oktober 2019  

Click to comment