PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Berbeda

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Nova Julia

Mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Setiap sore seperti saat ini, aku selalu duduk di ayunan belakang rumah yang baru kami tempati beberapa minggu lalu.  Entah kenapa, saat pertama kali kemari, ayunan ini sudah langsung menarik perhatianku, hingga aku tak pernah absen untuk menaikinya. 

 

Hingga matahari hampir sampai di peraduannya dan suara ibu sudah memanggilku untuk masuk ke dalam rumah.  Kami hanya tinggal berdua. Ayahku sudah meninggal ketika aku berusia 7 tahun. Penyebabnya sampai sekarang aku masih bertanya-tanya. 

 

Pernah sekali aku bertanya pada ibu tentang itu, tapi beliau selalu mengatakan itu sudah kehendak tuhan, atau beliau selalu mengalihkan pembicaraan. 

 

Aku Ziy, seorang gadis yang hampir berusia 15 tahun.  Kata ibuku, aku mempunyai suatu kemampuan yang orang lain tidak bisa melakukannya.  Sampai sekarang aku masih belum tahu kemampuan apakah itu. 

 

Hingga akhirnya, malam ulang tahunku yang ke 15 pun tiba. Malam itu tiba-tiba aku merasa aneh dengan diriku, aku pusing dan mual, hingga ibu memintaku untuk langsung ke kamar.  

 

Tiba-tiba, saat aku sedang berbaring, aku mendengar sesorang yang menyebut namaku. Mengajakku mengikutinya.  Aku langsung terduduk, terkejut dengan suara itu.  Aku mengadarkan pandangan ke segala penjuru kamar, tidak ada siapa-siapa, lalu suara apa tadi?. 

 

Kulangkahkan kakiku untuk turun dan mengikuti suara itu, hingga sampai pada sebuah ruangan yang aku tidak tahu ada apa di dalamnya. Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam dan kupandangi sebuah cermin yang ada di ruangan itu.  Sekelebat bayangan memasuki indra penglihatanku. Kulihat ke belakang tubuhku, sudah berdiri seorang gadis yang hampir sebaya denganku. Dia tersenyum dan mendekat. 

 

"Aku Lili" memperkenalkan namanya,

"dan kamu Ziy, bukan?" omg, dia tahu namaku.  

"kau siapa?" aku bertanya. 

"Aku temanmu Ziy, teman yang pernah ayahmu janjikan kepadamu".  

 

Aku semakin bingung.  Memang aku tidak mempunyai seorang temanpun dari aku kecil sampai sekarang, karena mereka selalu menganggapku aneh, entah kenapa.  Aku juga pernah meminta seorang teman pada ayahku, beliau selalu bilang nanti akan ada saatnya. 

 

 

Hari demi hari aku selalu berteman dengannya.  Anehnya dia tidak pernah bertemu dengan ibu, karena dia hanya akan ada ketika ibu sedang keluar atau ibu sedang ada kesibukannya sendiri.  Aku tidak pernah merasa ada yang berbeda pada dia. Hingga pada suatu sore dia mengajakku mengelilingi Rumah. Aku ikut saja. Dan kami sampai pada sebuah bangunan tua di belakang rumah. 

 

"Ziy, masuklah!" dia menyuruhku. 

"Aku tidak berani Lili. Ibu pernah melarangku ke sini. Aku takut ibu akan marah".

 

 Dia tidak mendengarkan ocehanku. Dia membuka pintu lalu mendorongku ke dalam. Kemudian dia menyusul dan menutup pintu. Kuedarkan pandanganku, ternyata di dalam sini bukan sebuah ruangan, melainkan seperti sebuah perkampungan, aku bingung.  Lalu Lili menarikku untuk berkeliling. Aku seperti terhipnotis,  seakan lupa akan rumah, aku terus bekeliling.  Tak jarang aku melihat orang-orang yang sangat berbeda dengan kami. Mereka punya wajah yang berbeda,tidak seperti manusia pada umumnya. Mereka bertubuh selayaknya hewan dan makhluk lainya yang aku tidak tahu apa.  Tapi aku tidak penasaran akan hal itu, seakan itu sudah terbiasa aku lihat.  Ini aneh, sungguh. 

 

Semakin berkeling, aku lupa akan rumah dan ibuku.  Aku merasa ini adalah duniaku. Hingga pada saat sampai di tengah-tengah desa, ada orang-orang yang  berkumpul. Mereka seperti sedang melakukan suatu ritual dan menunggu seseorang.  Setelah mereka melihatku dan Lili, raut mereka seakan bahagia.  Lili menyuruhku untuk berdiri di tengah kerumunan dan aku menurut.  Setelah itu mereka seperti membentuk bulatan dengan aku titik tengahnya. Mereka membaca sesuatu, seperti sebuah mantra.  Aku pusing. Sangat pusing, hingga alam bawah sadar merenggut diriku. 

 

Aku terbangun, kuedarkan pandangan.  Ternyata aku di kamarku. Di sampingku ada ibu dan seorang ustad juga beberapa tetangga. "Alhamdulillah" kata mereka serempak.  Aku sangat bingung, bukankah aku di sebuah perkampungan dengan Lili? Lalu kenapa aku di sini?. 

 

ibu mendekat dan memelukku. 

"Bagaimana perasaanmu nak? tanyanya. 

"Aku masih sedikit pusing bu.  Dan bagaimana aku bisa di sini?". 

Kemudian ibu menjawab "ibu menemukanmu tergeletak  di gudang belakang rumah dan ibu pikir kau sudah menemukan sesuatu" jelasnya penuh teka-teki.

 

Aku semakin bingung.  Lalu aku menceritakan semuanya kejadian yang kualami pada ibu. Beliau dan ustad hanya tersenyum.  

" Engkau sudah menemukan mereka.  Mereka semua adalah korban keserakahan ayahmu nak! Ayahmu membuat perjanjian dengan iblis. Dia menumbalkan jiwa-jiwa mereka. Hingga iblis menginginkan jiwamu untuk ikut besama mereka, tapi ayahmu menolak, dan mengorbankan dirinya" .  

"Untung saja ibu cepat menghubungi ustadz dan menyelamatkan dari arwah-arwah itu" jelasnya.  Kemuadian aku baru tersadar kenapa Lili hanya ada di saat aku sendiri. Ternyata dia berbeda. Dia ada dunianya sendiri.  

 

Waktu demi waktu berlalu. Rumah kami sekarang seakan lebih hidup.  Gudang yang kemarin itu sudah diratakan, tentunya dengan diadakannya zikir dan doa bersama sebelum itu dilakukan. 

 

Suatu pagi aku berjalan-jalan di dalam rumah, hingga sampai pada sebuah ruangan yang mana saat pertama kali aku berjumpa dengan Lili.  Aku pandangi cermin itu lagi, kemudian banyangan Lili muncul di situ dengan raut muka yang sedih. 

"Ziy, kenapa kamu tidak mau ikut denganku?"

"Dunia kita berbeda Li, kita beda alam.  Aku minta maaf atas apa yang dilakukan ayahku pada kalian dulu, tapi aku akan menebusnya dengan selalu mengirimkan doa untuk kalian". 

"Aku tidak mempermasalahkan itu lagi Ziy, tapi aku benar-benar ingin kita bersahabat"

"Maafkan aku Lili, kita tidak akan pernah bisa.  Aku berharap kau sadar akan perbedaan antara kita.  Selamat tinggal" 

 

Akhirnya aku memecahkan kaca itu dengan membantingnya ke lantai. Karena keributan itu, ibu masuk dan bertanya. Aku menjelaskan segalanya. Ibu hanya merespon dengan senyuman dan berkata

 "kau sudah mengambil jalan yang tepat nak!". 

 

Sekian akhir kisah pertemananku dengan Lili...







Click to comment