PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Dosen Generasi Baby Boomer dan Mahasiswa Milenial

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh Tabrani Yunis

Kuliah perdana semester ini sebenarnya dimulai pada hari Rabu,  tanggal 17 Maret 2021, namun karena kurang update, hingga tidak tahu kalau proses kuliah sudah mulai. Baru terkejut ketika seorang mahasiswi menelpon dan bertanya apakah hari itu bisa masuk kuliah. Setelah itu mask lagi pesan lewat WhatApps (WA) dari mahasiswi lain yang menanyakan hal yang sama.  Kala itu, waktu sudah menunjukan pukul 17.00 sore. Jadi, tyda mungkin lagi mengejar waktu yang tinggal sedikit. Apalagi jarak ke kampus bisa menghabiskan waktu hingga 3o menit. Maka, kata maaf adalah yang pantas disampaikan atas kelalaian atau ketidaktahuan jadwal mengajar. 

Sebagai dosen  dari generasi X atau baby boomer, yang sering disebut gatek, bukan seperti  generasi Y atau Z yang konon sangat gadget minded, maka ketika berhadapan dengan generasi milenial dan generasi Z, dosen harus berfikir dan bertindak kreatif dan kritis, bahkan harus juga meek gadgets, agar bisa berhadapan dengan mahasiswa milenial. Nah,  karena pertemuan perdana tidak bisa dilakukan, maka alternatifnya,  penggunaan fasilitas WA menjadi penting untuk membangun komunikasi dengan semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah entrepreneurship pada sang dosen ini.

Tents saja, agar hubungan komunikasi antara mahasiswa dan dosen bisa berjalan optimal, bermanfaat dan √©ducatif.  Pertemuan perdana yang tidak bisa dilakukan pada minggu sebelumnya diisi dengan kegiatan perkenalan lewat pemanfaat WA. Sang dosen pun mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri. Namun tidak seperti lazimnya perkenalan kala berdiri di depan atau di tengah-tengah mahasiswa. Sang dosen mengirimkan sejumlah tulisan tentang penulis yang sudah dipublikasikan di media seperti di www.potretonline.com, di Kompasiana atau juga di mingguan Kontan dan koran Tempo. Tujuannya agar mahasiswa mengenal dosen yang akan mengampu mata kuliah entrepreneurship kepada 25 mahasiswa di jurusan fakultas yang menyiapkan tenaga pendidik yang akan membimbing peseta didik, ketika mereka diangkat di sekolah-sekolah kelak.  Dengan cara ini, diharapkan mereka akan membaca dan memahami kisah-kisah inspiratif yang sifatnya memberikan inspirasi dalam belajar, mendapatkan ilmu, ketrampilan dan perubahan sikap atau perilaku dari masa lalu hingga kini. Siapa tahu dengan cara itu pula para mahasiswa bisa lebih jauh mengenal potensi dosen mereka. Bukan hanya itu,  sebelum pertemuan tatap muka, para mahasiswa diberikan tugas menjawab lima pertanyaan sebagai bentuk upaya menggali atau menjajagi pengetahuan para mahasiswa tentang entrepreneurship itu sendiri.


Alhamdulillah ada mahasiswa yang dengan cepat merespon tugas itu dan mengirimkan jawaban ke email yang sudah diberikan dosen. Semua email yang masuk tersebut ditanggapi dengan meminta mereka menulis kembali dalam bentuk essay atau juga artikel. Tujuannya agar tugas yang diberikan bisa lebih bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai basis untuk menulis sebuah artikel dan bisa dibaca oleh banyak orang. Dari serina tanggapan itu. ada yang mengatakan tidak suka dengan tulisan ilmiah, tapi isinya tetap ada pengetahuan, ada pula yang mengatakan siap Pak. Respon yang sangat membahagiakan.

Lalu pada tanggal 24 Maret 2021, kuliah tatap muka bisa dilakukan, walau sedikit terlambat karena kepepet waktu salat ashar dan sempat sesat mencari ruang yang menjadi ruang kuliah sore itu. Ruangnya ada di lattai 3. Ketika tiba di pintu, di sana sudah menunggu 10 mahasiswi dan satu mahasiswa. Sebut sajalah nama mereka adalah Nopi, Fitri, Riska,  Bila, Nopa, Rizqi, Aisah, Julia, Delvi, Muna, Putri,  Rezki, Niya dan Novi. Merke yang hadir, sementara Anyang lain ada yang minta Lizin, ada yang sakit dan juga ada yang masih di kampung.

Sebagai pertemuan tatap muka awal, sang dosen ingin mengetahui dengan benar tentang latar belakang mahasiswa yang menjadi peserta kuliah. Sang dosen menanyakan satu persatu nama dan asal SMA setiap mahasiswa di ruang itu, bagaiamana bisa menjadi mahasiswa di jurusan atau prodi yang geluti saat ini. Ada dua pertanyaan.


Dari dua pertanyaan itu, sang dosen mendapat gambaran umum tentang mahasiswanya. Umumnya berasal dari SMA atau MAN di daerah dan bahkan juga dari luar daerah, seperti Sumatera Utara. Bukanlah hal yang mengejutkan bila sang dosen mendapatkan informasi tentang pilihan mahasiswa yang memilih jurusan ini dan sudah kuliah selma 4 semester ini.  Umumnya dari 11 orang yang hadir, tidak memilih jurusan yang mereka tempuh sebagai pilihan pertama, tetapi pilihan ke dua dan bahkan ke tiga. Sudah menjadi pilihan ke dua dan ke tiga, sayangnya mereka tidak tahu atau buta pemahaman tentang jurusan yang mereka pilih. Ibarat kata orang, mereka adalah mahasiswa yang tersesat di belantara kampus. Ironis bukan?


Memang ironis. Terasa sangat sedih. Mau apa lagi? Tidak mungkin mengubah haluan. Proses kuliah harus tetap berjalan, walau tidak tahu haluan dan kondisi masa depan. Hal ini semakin buruk sejalan dengan rendahnya minat membaca mahasiswa yang membuat mereka miskin akan ilmu pengetahuan, umum dan khusus bidangnya. Apa yang menjadi indikator rendahnya minat membaca. Sang dosen sudah bertanya pada mereka, siapa yang ada membaca hari ini? Hanya dua mahasiswa yang menjawab membaca. Yang lainnya tidak membaca. Lalu, kepada mereka dilempar sebuah pertanyaan tentang pengetahuan umum, tak ada yang bisa menjawab. Jawaban baru ada setelah mereka search di Google. Sangat ironis bukan?


Tentu saja sangat ironis. Wajar saja ada rasa gundah si hati sang dosen, hingga muncul keinginan untuk membangun atau membangkitkan kesadaran mahasiswa akan kuliah dan masa depan yang begitu besar tantangannya. Raising awareness menjadi hal yang harus dilakukan, memotivasi agar mulai saat ini para mahasiswa harus berubah. Karena sesungguhnya sebuah proses belajar itu secara sederhana bermaksud mengubah seseorang yang tidak tahu, menjadi tahu. Yang tidak bisa, menjadi bisa dan yang tidak mau, berubaj menjadi mau. Jadi, kuliah bukanlah sebuah rutinitas datang, duduk, dengar, diam kemudian pulang dan meminta tambahan uang belanja kepada orang tua. Sayang sekali orang tua yang sudah bekerja keras,banting tulang, tetapi anak mereka hanya menjado sarjana kosong yang setelah tamat hanya bisa menenteng ijazah ke sana ke mari mencari pekerjaan. Ibarat kata pepatah, arang habis, besi binasa. Artinya sia-sia.

Kiranya masih belum terlambat untuk berubah. Jangan ada kata terlambat. Agar tidak tergilas zaman, kembalilah kepada perintah Allah. Iqra. Bacalah. Ya banyaklah membaca. Membaca akan membuka cakrawala berfikir dan bertindak.

Click to comment