Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Hitam Putihnya Gadgets dan Minat membaca Kaum Milenial

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh: Nuzulul Azmi 

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakuktas Tarbiyah Dan Keguruan UIN-Ar-Raniry Banda Aceh

 

Baru saja selesai membaca sebuah tulisan Tabrani Yunis di laman www.potretonline.com. Tulisan yang berjudul Dosen Generasi Baby Boomer dan Mahasiswa Milenial. Dalam tulisan itu menceritakan tentang kuliah perdana semester ini. Ya, pada hari Rabu, minggu lalu, tepatnya  tanggal 17 Maret 2021.  Seorang dosen dari generasi X atau baby boomer,  yang sering disebut gatek,bukan dari generasi Y atau Z yang konon sangat gadget minded,  berhadapan dengan generasi milenial dan generasi Z yang  mengharuskan sang dosen berfikir dan bertindak kreatif serta kritis.

 

Ada dua hal yang menarik untuk disimak dari paparan beliau adalam tulisan tersebut. Pertama, ada fakta bahwa dari semua mahasiswa yang berasal dari berbagai SMA dan MAN dari Aceh dan luar Aceh, yang sedang menempuh pendidikan di jurusan itu adalah mereka yang tersesat di berlantara kampus. Dikatakan demikian, karena umumnya mahasiswa yang hadir dalam ruangan tersebut, tidak tahu dengan jurusan yang mereka pilih saat memasuki perguruan tinggi. Memang jurusan yang sedang mereka geluti bukan pilihan pertama, tetapi pilihan kedua dan ke tiga. Hal kedua yang juga menggelitik adalah sudah tersesat, ditemukan fakta bahwa para mahasiswa yang merupakan generasi milenial itu, malas membaca. Salah satu indikatornya adalah para mahasiswa tidak bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang ditanyakan oleh sang dosen tersebut.

 

Hal ini, dinyatakan sebagai kondisi yang ironis tulis Tabrani Yunis dalam tulisannya itu. Katanya, “Memang ironis. Terasa sangat sedih. Mau apa lagi? Tidak mungkin mengubah haluan. Proses kuliah harus tetap berjalan, walau tidak tahu haluan dan kondisi masa depan. Hal ini semakin buruk sejalan dengan rendahnya minat membaca mahasiswa yang membuat mereka miskin akan ilmu pengetahuan, umum dan khusus bidangnya. Apa yang menjadi indikator rendahnya minat membaca. Sang dosen sudah bertanya pada mereka, siapa yang ada membaca hari ini? Hanya dua mahasiswa yang menjawab membaca. Yang lainnya tidak membaca. Lalu, kepada mereka dilempar sebuah pertanyaan tentang pengetahuan umum, tak ada yang bisa menjawab. Jawaban baru ada setelah mereka search di Google”.

 

Jadi wajar kalau beliau mengatakan ironis. Oleh sebab itu, tulisan ini pun ditulis terinspirasi  setelah membaca tulisan Tabrani Yunis tersebut. Benar, inisangat ironis. Ini bukan suatu kebanggaan bagi kita, ini bukan suatu prestasi. Ini adalah  masalah besar yang amat mengerikan. Mengapa demikian? Kondisi buruk ini dapat merusak diri bangsa dan Negara, bahkan ini berakibat fatal untuk generasi seterusnya. Mengapa ini terjadi? Harusnya ini menjadi kajian kita. Banyak orang berkata, semua ini berawal sejak munculnya satu benda cantik dan indah, tapi sangat berbahaya  bila kita lalai dan tidak bisa menggunakannya dengan benar. Benda itu terkenal dengan sebutan handphone.

Handphone  sebagai alat komunikasi yang dapat menyatukan suatu bangsa, sebenarnya juga  dapat memecah belahkan suatu bangsa. Handphone dapat mencerdaskan seluruh anak bangsa dan handphone juga bisa merusak seluruh komponen bangsa, tergantung siapa yang memegang alat  tersebut. Semakin Cerdas orang yang memegangnya, maka semakin optimal penggunaan atau pemanfaatannya. Apalagi di era ini.

Kita hidup di zaman ini, zaman 4.0 yang dikenal dengan era digital yang penghuni era ini adalah kaum milenial, harusnya bisa memanfaatkan alat yang kita kenal dengan gadgets ini dengan benar dan optimal. Misalnya untuk meningkatkan minat membaca. Seperti kita ketahui dan juga yang dikemukakan  oleh Tabrani Yunis dalam tulisannya itu, rendahnya minat membaca kaum milenial memang benar. Kaum milenial  sangat kurang sekali minat baca, karena mengganggap jika membaca itu identik dengan buku dan jika terlalu banyak baca buku dikata-katain kulot atau jadul atau ketinggalan zaman.  Zaman sekarang kok masih baca buku, searching doank, buka aja google. Semua ada, semua menganggap bahwa google adalah jalan keluar dan seperti yang  dsampaikan Tabrani Yunis,  jika ditanya sebuah pertanyaan hampir 98% jawabannya dari google.  Apa penyebabnya ya?  Karena otak kosong,  tidak ada jawaban yang asli murni dari pengetauannya sendiri?.

Memang zaman sudah berubah, generasi sudah berganti dari zaman yang terkenal dengan buku- bukunya sampai pada zaman yang terkenal lagu tiktokannya.  Semua berubah karena satu alat yang diciptakan dengan dua tujuan negatif dan positif,  tapi kebanyakan orang memakainya di jalan yang negative,  benda tersebut bernama hp/handphone. Alat ini  berbeda dengan zaman sebelumnya.  Anak muda, yang kaum milenial ini, seperti kita ini lalai akan kewajiban yang seharusnya kita lakukan. Penggunaan gadgets yang tak beraturan, menurunkan minat baca kita. Kita asyik dan  dibatasi oleh wa,fb,ig,twitter, chatan lebay lainya,  Tapi di balik itu semua, ada juga hal positif.  Misalnya, karena bunyi alarmnya kita tepat bangun subuh, karena sinyalnya yang kuat kita dapat berkomunikasi dengan orang tua dimana saja. Karena dengan adanya gadgets kita tahu kabar terkini dari seluruh penjuru negeri. Asal kita mau membaca.

Untuk itun agar mahasiswa yang umumnya sebagai generasi milenial, sadar dan kembali meluruskan jalan, memanfaatkan gadgets  untuk meningkatkan minat baca. Bila minat membaca tinggi,  wasawan kita lebih terbuka. Ini penting ditingkatkan dan tidaqk sulit. Kalau sulit, jalan keluarnya adalah terus  membiasakan membaca. Bila kita tidak membiasakan sejak sekarang, kapan lagi?  Jadi, sekarang sudah saatnya generasi milenial berperan. Sudah saatnya untuk memainkan peran membangun generasi. Jangan hanya menonton dan menikmati alur saja. Jangan saat negara membutuhkan kita nanti, kita tidak bisa apa-apa, tidak memiliki kualitas, tidak ada yang bisa diandalkan dari diri kita, tidak memiliki kemampuan hanya lagu lagu yang merusak saraf otak itu yang kita tau. Nah,  sebelum semua kemungkinan buruk terjadi, sebelum semua terlambat, sebelum semua menjadi milik orang lain dan sebelum semua menjadi kenangan, semua harusberubah menuju ke arah yang lebih positif untuk kita bangsa dan negara.

 

Click to comment