Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

KRITERIA MUSTAHIQ/ FAKIR-MISKIN DALAM PEMBAGIAN ZAKAT

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh: Hasbi Yusuf

Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Di akhir Ramadhan kita akan menghadapi suatu even tahunan yang sangat penting dan sakral yaitu pembagian zakat Fitrah kepada mustahiq. Pengalaman dari tahun ke tahun tidak kalah pentingnya juga dalam bulan Ramadhan banyak orang menunaikan zakat Mal. Oleh sebab itu kami mencoba menyajikan tulisan ini sekadar mengingatkan Pemerintah gampong/ TPG dan panitia atau Amil Zakat/ Baitul Mal gampong.

Setiap pembagian zakat di berbagai gampong/desa sering timbul problema yang cenderung terus berulang. Selalu ada pihak yang merasa didzalimi atau dirugikan oleh panitia. Padahal Kepala gampong (Keuchik) bersama perangkat gampong dan panitia telah berusaha semaksimal mungkin untuk berlaku adil. 

Baik sebelum maupun setelah pembagian zakat mal/ zakat fitrah sering timbul percekcokan atau perselisihan antara perangkat gampong, terutama kadus dan keuchik dengan mustahiq atau yang menganggap dirinya mustahiq, walaupun dari hasil keputusan panitia bahwa yang bersangkutan tidak termasuk dalam kriteri mustahiq.

Menurut saya problema ini lebih disebabkan belum adanya kriteria baku dan seragam untuk tingkat kabupaten/kota, atau minimal sekali untuk tingkat kecamatan dalam menentukan sebuah keluarga termasuk miskin atau fakir. 

Masing-masing gampong cenderung menetapkan kriteria fakir atau miskin sendiri-sendiri setiap akan ada kegiatan pembagian zakat. Terkadang cenderung berubah-ubah setiap ada kegiatan pembagian zakat, baik zakat mal atau zakat fitrah. 

Ditambah lagi sangat minimnya sosialisasi kepada seluruh warga, sehingga sering menggelindingnya isu liar yang berkembang tidak enak di telinga setiap akan dan selesainya pembagian zakat.

Jadi dalam hal ini, sudah sangat mendesak untuk dirumuskan kriteria fakir miskin secara objektif, tegas dan berkeadilan sesuai ketentuan syar'i, yang dipadukan dengan reusam gampong serta kearifan lokal suatu daerah. 

Kegiatan ini tidak cukup hanya melibatkan Keuchik dan perangkat gampong. Melainkan juga melibatkan lebih banyak masyarakat termasuk para mustahiq yang memiliki kapasitas keilmuan tentang zakat.  Dengan melibatkan para mustahik yang punya ilmu tentang zakat, apalagi jika yang bersangkutan merupakan sosok yang memiliki wibawa di kalangan mustahik, dapat diberdayakan dalam memberi pemahaman kepada sesama mustahik. Jika ada pihak-pihak yang kurang puas dapat bertanya kepada yang bersangkutan. Penjelasan dari orang dalam kalangan mustahik yang berwibawa jauh lebih efektif dibandingkan penjelasan dari pihak aparatur gampong.

Setelah tersusun kriteria tingkat gampong maka pihak KUA Kecamatan selaku ... harus memfasilitasi duduk rembug tingkat kecamatan dengan mengundang dan melibatkan para Kepala Mukim untuk ikut serta secara inten dalam pembahasan setiap kriteri yang diajukan masing- masing gampong. 

Dari usulan masing-masing gampong yang memiliki unsur yang sama langsung dapat diambil sebagai kriteri bersama. Sedangkan poin usulan yang berbeda, harus dibahas lebih lanjut untuk dicarikan titik temu yang lebih mengakomodir semua desa dalam setiap kecamatan. 

Jika ditingkat masing-masing Kecamatan tentu saja di bawah koordinasi Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan (Kuakec) telah berhasil dirumuskan kriteria mustahiq zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal, maka sebaiknya diajukan lagi ke tingkat kota untuk kembali diadakan musyawarah atau apa saja bentuk duduk rembug untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi. 

Seperti proses di tingkat kecamatan, maka di tingkat kota juga kembali disatukan poin-poin yang telah seragam dari setiap kecamatan. Sedangkan poinpoin yang masih berbeda maka kembali dibahas di tingkat kota/ kabupaten di bawah koordinasi MPU Kota dan Kemenag untuk menemukan formula yang dapat diterapkan secara seragam untuk seluruh desa dalam kota.

Wallahu'alam bish-shawab

-- 

Click to comment