PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA

PROGRAM 1000 SEPEDA DAN KURSI RODA
POTRET GALLERY

Menilik Puisi Zab Bransah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Romy Sastra
Berdomisili di Jakarta


Menilik salah satu karya puisi Zab Bransah sahabat saya,  salah seorang guru dari kota Langsa Aceh di bawah ini, dari sekian banyaknya karya beliau yang saya baca. Saya mencoba mengupas puisi berjudul "Tantangan Senja". Isi puisi ini menurut saya perlu dipadatkan, dan dari sisi tata penulisannya masih bisa dirapikan lagi.


Tantangan Senja

Kujejaki jembatan rinds 
Laut Malaka kuseberangi 
Kutitip senja di ufuk barat
Bila malam baru tiba 
Daku menyeberangi 
Gelombang
Arah angin tak bertepi
Sempat hanyut diriku 
Dalam rindu
Ingin segera tiba
Di pantai Balohan Malaka 
Untuk kasih
Bunga rindu
Buat teman semua
Langsa,Januari 2021

Puisi yang berkisah tentang kerinduan pada objek kenangan di suatu destinasi pertemuan bersama rakan-rakan di Semenanjung Malaka. Bagaimana puisi ini tercipta? Sejatinya puisi itu adalah makna setiap kata mengandung makna. Maka, ketika puisi itu tercipta akan menjadi kajian pembaca. Baik dari sisi isi, tata penulisan dan estetikanya. Disarankan kepada si empu karya menalaah ulang sebentuk pendalaman kepuitisan kata-katanya serta pengendapan (fermentasi) karya tersebut sebelum dipublish di antaranya adalah memperhatikan typo dalam menulis kata.

Pada larik pertama

Kujejaki jembatan rindu
Pada larik ini saya membaca penulisan rindu ditulis (rinds) dan di bait ke delapan.
Sempak hanyut dirikvu
Mungkin maksud si empu karya adalah (diriku). Nah, inilah saya katakan di atas. Pentingnya suatu pengendapan (fermentasi) pada karya yang selesai ditulis, dan belum tentu suatu karya itu langsung matang. 


Larik kedua hingga ke larik enam di bawah ini
Larik-larik ini kurang padat, kenapa?

Laut Malaka kuseberangi
Kutitip senja di ufuk barat
Bila malam baru tiba 
Daku menyeberangi 
Gelombang

Pada larik kedua, si empu karya menyatakan seberangi laut Malaka. Seharusnya hindari kata yang berulang pada larik di bawahnya di larik kelima. Ini sebentuk fisik puisi yang belum padat. Bukan suatu penekanan dari larik sesudahnya kepada larik berikutnya, sebab kata seberang di puisi ini lariknya berdekatan. 

Pada larik ketiga 

Kutitip senja di ufuk barat
Bagaimana suatu larik puisi itu mengalir dan padat, hindari dua kata bermakna tujuan sama. Seperti senja sudah jelas berada di ufuk barat menandakan malam akan tiba. Nah, jika dipadatkan dan lebih ringkas larik di atas akan menjadi puitis dan mengalir.

Contoh
Kujejaki jembatan rindu
Laut Malaka diseberangi
Senja menyapa malam pun tiba 
Daku bersenandung di tarian
Gelombang


Lalu, kita sambung ke larik berikutnya

Arah angin tak bertepi
Sempat hanyut diriku 
Dalam rindu
Ingin segera tiba
Di pantai Balohan Malaka 
Untuk kasih
Bunga rindu
Buat teman semua

Pada fisik puisi ini yang tak berbait mengisyaratkan lariknya ejambemen atau pemotongan kalimat di akhir larik ke larik berikutnya. Puisi ini terdapat tiga kata "rindu" yang seharusnya cukup digunakan satu kali saja kata "rindu" biar padat dan mengalir. Kata rindu kedua dan ketiga tersebut bisa diganti dengan kata yang lain. Dan ada dua kata "tiba" ditemukan juga pada fisik puisi di atas membuat puisi ini renyah. 

Tidak mudah menciptakan suatu karya (puisi) dan pun tak sulit jika sudah memahami puisi itu adalah makna dan kajian. Ada tiga tingkat hijab bahasa untuk menciptakan puisi di antaranya adalah 

Pertama bahasa umum 
Kedua bahasa puitis 
Ketiga bahasa penyair

Sebentuk bahasa umum di sini adalah bahasa yang terang sering penulis gunakan, dan.
Sebentuk bahasa puitis adalah bahasa yang memiliki estetika bahasa kepuitisan (indah) sayangnya bahasa puitis ini pun sudah klise, serta.
Sebentuk bahasa penyair adalah bahasa yang memiliki ciri kas penulis itu sendiri yang tercipta ke dalam karya-karya puisinya. Si empu karya sudah mengenali jati dirinya sebagai pengkarya puisi. 

Baiklah saya berikan contoh dasar dari hijab bahasa menciptakan puisi. Contoh tema: "air mata".

Bahasa umum 
aku melihat air mata yang mengalir di sela pipimu 

Bahasa puitis 
Di sudut netramu kristal-kristal bening menganak sungai lalu mencurah (klise)

Bahasa penyair
Aku menatap telaga nan tumpah jatuh di sudut iba.

Demikianlah sedkit paparan sederhana ini dari saya bagi yang berkenan dan membutuhkan sisi estetika kepuitisan menciptakan suatu karya puisi.


Romy Sastra
Jakarta, 24 Maret 2021


Click to comment