Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

“PARA PEREMPUAN DI TANAH SERAMBI”

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

       



 Oleh Heni Susanti


    Buku kumpulan cerpen yang berjudul Para Perempuan di Tanah Serambi ini ditulis oleh Rinal Sahputra. Anak kelima dari eram bersaudara, lahir dan besar di Aceh. Karena mencintai dunia kepenulisan, Rinal mendaftar sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh pada tahun 2006. Selang beberapa tahun kemudian Rinal dipercaya sebagai ketua umum FLP Aceh. Rinal adalah alumni Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan sempat bekerja selama beberapa tahun sebagai dokter umum sebelum kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Universitas Manchester, Inggris. 

Ada 19 cerpen yang terdapat di dalam buku ini. Semua tokoh utamanya adalah perempuan Aceh. Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini menggambarkan tentang perasaan dan watak perempuan Aceh, keadaan Aceh di masa konflik dan tsunami, juga tentang  adat dan budaya kota Serambi Mekkah. Buku ini dibuka dengan cerpen "Surat yang Kembali". Cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan gadis Aceh bernama Aisyah yang kehilangan ayahnya karena konflik yang terjadi di Aceh pada masa itu. Ia sama sekali tidak mengenal sosok ayahnya karena saat itu ia masih sangat kecil. Tak hanya sampan di situ, Aisyah ditinggal pergi ibunya untuk diasuh oleh sang nenek. Ibunya tak pernah pulang sampai akhir ajal menjemputnya. Akan tetapi, sebelum meninggal, sang ibu menulis surat tentang permintaan maafnya karena tidak bisa mendampingi putrinya tersebut tumbuh dewasa. Meskipun yang Aisyah ingat hanya ketika ibunya memukulinya dan memarahinya karena hal-hal sepele, ia tak bisa membendung air matanya ketika melihat foto dan surat dari ibunya. 

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh seorang laki-laki. Akan tetapi, cerpen-cerpen yang ditulis oleh Rinal Sahputra dalam buku ini dapat menggambarkan tentang perasaan dan pemikiran perempuan Aceh dengan sangat baik. Misalnya, watak dan kebiasaan para perempuan Aceh saat mengalami tekanan dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari, percintaan, adat dan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan juga dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Kumpulan cerpen ini juga menggambarkan dengan jelas keadaan Aceh pada masa konflik, tentang bagaimana orang-orang dibunuh secara tragis. Tentang gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan tanah Aceh sehingga meyebabkan ribuan nyawa melayang, dan juga tentang keadaan Aceh saat ini yang sudah tidak begitu peduli adat dan norma-norma agama serta kekentalan beragama masyarakatnya. Perasaan sakit, kehilangan dan emosi akibat konflik dan tsunami membangkitkan perasaan tersendiri bagi pembaca. Meskipun pembaca tidak mengalami secara langsung keadaan yang tergambar dalam cerpen, pembaca dapat membayangkan bagaimana keadaan Aceh saat itu. 

Buku ini ditutup dengan cerpen “di Penghujung Senja”, cerpen ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia memiliki luka masa lalu yang menyebabkan renggangnya hubungan anatara dia dan ayahnya. Karena hal tersebut, ia tidak pulang selama bertahun-tahun dan memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa campur tangan keluarganya. Namun, suatu ketika ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ternyata ayah yang selama ini sangat ia benci sedang sakit keras.

Cerita dalam buku kumpulan cerpen ini adalah fiksi. Namun, sebagian isinya menurut saya memang menggambarkan keadaan Aceh yang sebenarnya. Buku ini cocok untuk remaja dan dewasa. Meskipun membahas tentang konflik, tsunami, dan permasalahan-permasalahan sosial lainnya, kumpulan cerpen ini banyak memberikan pembelajaran yang berharga.

Kelebihan dari buku ini adalah buku ini memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan Aceh pada masa konflik, tsunami, dan tentang adat dan budaya di Aceh secara detil. Tidak semua orang di luar Aceh mengetahui tentang hal ini. Selain menceritakan tentang masa lalu, kumpulan cerpen ini juga menceritakan tentang keadaan Aceh sekarang yang sudah tidak terlalu peduli dengan adat dan norma-norma agama. Padahal, Aceh terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah. Selain itu, cara penyajian ceritanya pun luar biasa. Para pemmbaca diharuskan berfikir untuk mengerti maksud dari cerita atau memahami makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Penulis tidak menuliskan secara gamblang permasalahan atau peristiwa yang terjadi sehingga cerpen ini tidak membosankan untuk dibaca. Penulis juga menyisipkan istilah-istilah dan bahasa yang sehari-hari digunakan di Aceh sehingga itu dapat membantu melestarikan budaya dan bahasa Aceh. Nama-nama tokoh yang digunakan adalah nama-nama yang biasa kita jumpai di Aceh sehingga menambah kesan yang lebih mendalam. Di setiap ceritanya penulis juga menyelipkan pesan sehingga para pembaca termotivasi dengan pesan tersebut untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kelemahan dari buku ini adalah tidak cocok dibaca oleh orang yang malas berpikir karena meskipun tidak seluruhnya, penulis mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan memahami isi cerita. Selain itu ada cerpen yang akhir ceritanya terasa mengambang seolah ceritanya belum selesai.

Menurut saya, buku kumpulan cerpen Para Perempuan di Tanah Serambi ini adalah salah satu buku yang wajib dibaca oleh semua orang, tidak hanya oleh penggemar sastra. Buku yang menggambarkan bahwa perempuan bukanlah sosok yang lemah. Perempuan juga sanggup memikul beban yang berat. Perempuan sanggup menghadapi berbagai masalah yang datang dalam hidupnya. Kelembutan hati serta kesabarannya dapat meluluhkan hati yang sekeras batu. Tak jarang, hidup dalam kekangan membuat perempuan lebih berusaha untuk memperjuangkan hak-haknya tanpa menjatuhkan harga diri laki-laki. Potret para perempuan di tanah serambi. Selamat membaca!

 

(Heni Susanti adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP Bina Bangsa Getsempena, angkatan 2016). 

Click to comment