Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 



Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok


Jelas setiap manusia umumnya akan mengikuti proses di atas, meski ada juga manusia yang konon bicara ketika bayi baru lahir,  sementara yang umum biasanya mulai bicara jelas artikulasinya di antara 1 sampai dengan 2 tahun. Orang bijak mengatakan, Tuhan memberi dua lubang telinga dan hanya satu lubang mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sehingga saking patuhnya dengan ujar orang bijak ini, umumnya manusia di dunia timur lebih banyak mendengar dan diam atau kurang dalam bicara.

Saat dewasa, ke empat proses ini semakin penting.  Mungkin masing - masing mengembangkan diri melalui passion dan akar budaya masing masing. Ada suku yang lihai berbicara, sehingga biasanya dari merekalah muncul para diplomat dan pengacara andal, penjual andal. Namun ada pula yang lebih senang mendengar dan mengamati. Jadilah mereka para ilmuwan. Biasanya, tradisi yang paling sulit berkembang adalah menulis. 

Tidak sedikit tokoh kita yang kemampuan menulis dan bicaranya sama baik. Hatta, Soekarno, Natsir, Hasyim Asyarie misalnya. Namun tak sedikit yang unggul di satu sisi saja. Gunawan Muhammad itu tulisannya menyihir, namun jika bicara mendorong pendengarnya bosan. Cak Nur agak lebih enak didengar dengan tulisan dahsyat. Dai "Sejuta Umat" Zainudin MZ itu bicaranya luarbiasa, namun miskin tulisan.

Saya lebih suka menulis daripada bicara. Saking malasnya bicara, saya selalu menyusun kata dan kalimat sesingkat mungkin sejauh pendengar bisa memahami. Namun sayapun tak suka menulis berpanjang panjang, karena cenderung ngelantur dan akhirnya tak jelas juntrungannya. Dengan demikian saya berbakat menjadi ilmuwan dong? Tidak juga, karena saya paling malas menulis sesuatu dengan merujuk dan mengutip gagasan orang lain persis seperti mereka tulis dan ucapkan. 

Sudahkan anda mengikuti proses tersebut? Ada satu yang tidak saya tulis niscaya, yaitu membaca. Manusia yang kurang membaca akan terlihat saat mereka bicara apalagi menulis, karena membaca dan mendengar itu adalah sari bunga yang diserap lebah dan ucapan/bicara serta tulisan itu adalah madu. Namun, mengapa tak sedikit ucapan dan tulisan yang beracun? Jelas asupan, penglihatan dan bacaan serta otak dan hati mereka keracunan.

Click to comment