Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik

Pusat Belanja Yang Unik dan Menarik
POTRET GALLERY

TEACHING BASED ON FACULTY

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



 

Oleh Khairuddin 

Relaksasi kurikulum yang diluncurkan Kemendikbud dalam mengatasi pembelajaran di masa pendemi beberapa waktu silam ternyata tidak memberi dampak kualitas pendidikan Indonesia. Justeru yang terjadi sebaliknya, relaksasi yang hanya mengurangi beberapa kompetensi dasar pada suatu bidang studi tidak mampu diejawantahkan dengan baik di sekolah. Bukannya rileks malah sangat memaksa.


Meski sejatinya merdeka dilaksanakan oleh guru di satuan pendidikan, namun yang terjadi tidaklah demikian. Sangat kondisional. Ketika akan langsung pada kompetensi esensi suatu pokok bahasan, kemampuan siswa rupanya harus dituntun sedari dasar, akibatnya guru kembali mengulang pada kompetensi yang mampu mengantarkan siswa menuju esensi pokok bahasan. Tidak jarang juga guru tidak memahami esensi pokok bahasan, sehingga cukup lama nyaman pada kompetensi pengantar. Akibatnya jelang evaluasi kenaikan kelas seperti saat ini, banyak guru mengeluh pokok bahasannya belum habis, sementara waktu mengajar pun sangat singkat mengikuti kebijakan saat pandemi.


Namun di luar relaksasi kurikulum, saya memandang kurikulum kita, terutama di tingkat SMA sangatlah menyesakkan otak, dada dan kemerdekaan. Jauh sebelum pandemi hingga puncaknya di revisi kurikulum K13, muatan dan tuntutan kurikulum semakin agak di luar nalar. Siswa tidak diciptakan untuk fokus untuk terarah pada minat dan bakatnya, namun malah semakin dicecar oleh banyak bidang studi yang semua guru menganggap bidang studinya sama penting, peserta didik pun dituntut harus sama pintar seperti gurunya.


Kurikulum K13 versi revisi tahun 2017 menuntut siswa setidaknya belajar minimal 14 bidang studi dalam satu minggu, beberapa bidang studi semakin dibuat seolah sangat penting. Matematika misalnya, setelah ada Matematika Umum ada pula pemantapan Matematika di jurusan IPA disebut Matematika Peminatan. Sejarah juga demikian, tidak cukup sejarah umum, di jurusan IPS dijejali pula Sejarah Peminatan. Jurusan IPA harus mengambil salah satu bidang studi di jurusan IPS dan sebaliknya, disebut dengan lintas minat. Semua guru menganggap bidang studinya sangat penting diajarkan, sayangnya persepsi anak-anak tidak sama dengan kita, gurunya.


Saya ingin mengulang kembali gagasan kami tentang muatan kurikulum terutama di SMA. Jika SMK mengarahkan peserta didiknya untuk memiliki kecakapan sehingga bisa link and match pada dunia kerja dan dunia industri dengan kurikulum mereka yang fleksibel dimodifikasi menjadi teaching based on factory, kenapa SMA tidak mengarahkan peserta didiknya pada teaching based on faculty. Arah pendidikan SMA yang tanggung sudah seharusnya mengarahkan siswa pada pengetahuan yang mampu mengarahkan mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena itu, pembelajaran atau bidang studi yang diajarkan di SMA tidak perlu sampai 14, banyak sekali. Dalam satu semester cukup 5 atau 6 bidang studi saja yang diajarkan sampai dalam dan mengarah pada critical thinking atau higher order thinking skills. Jika suatu bidang studi sudah diajarkan pada semester lalu, tidak perlu diajarkan pada semester berikut.


Kita lihat misalnya, anak-anak belajar Sejarah, konten materinya dari SD di bidang studi IPS tentang perjuangan kepahlawanan, pemberontakan beberapa golongan, termasuk PKI dan DI-TII, di SMA materi itu lagi yang harus dihafal siswa. Prakarya dan Kewirausahaan, hampir hanya menjadi bumper bagi guru jurusan yang kekurangan jam minimal mengajar. Seni Budaya yang relatif mengulang kaji. Bahasa Inggris tetap dengan rumus tensesnya yang padahal sedari SMP sudah dikenalkan dan diterapkan dalam pembelajaran. Pendidikan Agama Islam yang di SMA masih bicara fiqh terapan, hukum halal haram dengan dalil yang tidak dikaji hanya dihafal. Termasuk Matematika dan IPA yang tidak ada ukuran mana yang penting untuk ditingkatkan di SMA, hampir semua drilling tanpa thinking. Ironisnya ketika kuliah, itu pula lagi yang kita jumpai, pengulangan materi yang sama sebagai materi dasar kuliah.


Merdeka Belajar yang digadang-gadangkan Kemendikbud harusnya menjadi kunci penting bagi sekolah merdeka mengelola kurikulum, namun sayangnya regulasi dan sistem digitalisasi pengambil kebijakan yang bernama Dapodik masih menjadi tembok berlin yang perlu diruntuhkan agar merdeka. Dalih apapun disampaikan oleh guru tentang pentingnya pembelajarannya, atau asosiasi guru tentang suatu bidang studi harus diajarkan di sekolah, bagi saya hanya pengelabuan belaka. Jika kita mau jujur, sesungguhnya guru hanya takut kekurangan 24 jam minimal mengajar, bukan hanya urusan tunjangan profesinya saja yang hilang namun kewajiban pemenuhan tersebut harus mereka dapatkan di sekolah lain. Bukan masalah gampang masuk ke sekolah lain "mengemis" agar diberikan jam mengajar, meski oleh guru negeri sekalipun di sekolah negara. Inilah kolonialisme jam mengajar.


Pemerintah terutama Kemendikbud, harus berani berdiri di pihak peserta didik, sebagai aset bangsa yang perlu dipelihara bukan diintimidasi dengan bidang studi yang menjejali mereka. Lihatlah sekolah di luar negeri yang maju, sekolah adalah sumber kebahagiaan, belajar adalah hiburan edukatif. Matematika tapi outputnya robot. Sains outputnya terapan berbentuk produk. Sosial bentuknya karakter dan budi pekerti. Tidak banyak bidang studi dan dalam satu bidang studi tidak banyak pula tuntutan kompetensi dasar yang harus dilahap peserta didik.


Di Indonesia, anak-anak lebih senang jika ada pengumuman gotong royong atau ada berita guru berhalangan masuk daripada mereka harus duduk secara klasikal, bergantian 4 sampai 5 bidang studi berseliweran di otak mereka setiap hari. Baru saja guru Seni Budaya yang garing keluar, kini guru Matematika tak ramah yang masuk, sebentar siang guru Ekonomi yang sering ngomel membuat ulangan harian, jam terakhir guru Fisika minta tagihan tugas kemarin. Sangat wajar bukan, sekolah hanya pelarian pagi dari rumah tapi menjadi tirani menyeramkan di kala bel pergantian jam, hingga merdeka saat bel pulang berbunyi.


Mari membenahi pendidikan Indonesia terutama di tingkat SMA, sekolah adalah gudangnya pendidikan berbentuk bidang studi yang sarat pengetahuan penting. Biarkan siswa memilih pengetahuan mana yang bisa membawa mereka mencapai cita-cita yang nanti ditajamkan di perguruan tinggi. Tidak perlu mengambil semua bidang studi, cukup yang mereka perlukan untuk menopang masa depan mereka saja. Bukan hanya muatan bidang studi yang berperan, motivasi dari Wali Kelas, Guru Bimbingan dan Konseling berperan besar memberi gambaran bagi peserta didik yang butuh bimbingan.

Sekolah adalah ruang kebahagiaan, memerdekakan pikiran berekspresi dan mengambil keputusan.


Aceh Utara, 22 Mei 2021


*Khairuddin*

Ketua Harian

Pengurus Pusat Jaringan Sekolah Digital Indonesia

Click to comment