Langsung ke konten utama

Tata Nilai UI yang Sedang Dilecehkan Kolektif.


Oleh Ahmad Rizali
Berdomisili di Depok



Saya tidak faham alasan mengapa PP Statuta UI yang melarang jabatan rangkap Rektor dengan Komisaris BUMN diubah menjadi PP Statuta UI baru yang membolehkan jabatan itu. Ada sementara pihak yang mengatakan jika ada larangan itu, maka regulasi ini mengekang gerak Rektor UI untuk berkiprah optimal untuk kemaslahatan publik. Pertanyaannya, ketika Rektor boleh menjabat sebagai Komisaris di BUMN betulkan akan ada lompatan kuantum dari UI dan BUMNnya ? 


Statuta yang diubah itu dibuat oleh tim yang sangat kredibel, sehingga konon menjadi acuan PP untuk PTNBH lain. Ketika PP ini dilaksanakan oleh Rektor Periode 2014-2019, 3 (tiga) organ selain rektor yaitu Dewan Guru Besar (DGB), Senat Akademik Universitas (SAU) dan Majelis Wali Amanah (MWA) solid mematuhi "Konstitusi UI" ini dan seingat saya tidak pernah ada pembicaraan sejenakpun mengatakan perlunya diubah karena mengganggu gerak UI.


Tarolah kepemimpinan UI periode berikutnya ingin mengubahnya karena lebih berjiwa muda dan ingin cepat berlari. Maka, sudah pasti isi perubahan "Konstitusi" itu akan intensif diperdebatkan di ranah rapat 4 (empat) Organ. Pansus Perubahan Statuta akan memimpin urusan ini dan finalnya akan disahkan dalam rapat 4 (empat) Organ dengan tanda tangan Ketua DGB, Ketua SAU, Rektor dan MWA. Dikirimlah keputusan rapat 4 (empat) Organ itu kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  c.q. Dirjen Dikti dengan Surat Pengantar Rektor UI dengan kepala Surat berlogo Makara dan kata Veritas, Probitas, Iustisia.


Biasanya, jika Perguruan Tinggi mapan apalagi PTNBH seperti UI, maka Sesditjen Dikti tak akan banyak menelaah isinya dan segera akan membuat Surat Pengantar perihal: Usulan Perubahan PP no xx Tentang Statuta Universitas Indonesia dan melengkapi dengan dokumen PP lama dan draf final PP baru. Melayanglah Surat dengan Logo "Tut Wuri Handayani" dan tandatangan Mendikbud ke Sekretariat Negara dan masuklah dalam daftar antrian revisi PP.


Jelas Mensesneg tak langsung mengetik ulang draft final PP itu. Pasti ada SOP yang menelaah dan menjadikannya final, dicetak dengan logo Garuda Pancasila dan disodorkan kepada Presiden. Saking banyaknya dokumen yang harus ditandatangani, maka jika Presiden seorang yang teliti, ketika melihat logo UI beliau pasti akan melakukan cek silang dan bertanya mengapa harus diubah dan lain sebagainya. Jika tidak sempat, maka yg beliau lihat adalah parah di dokumen final itu dan sret..sret... sahlah PP Statuta UI yang baru.


Jika kita ikuti jalannya dokumen tersebut, jelas tidak adil jika hanya Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro yang disalahkan, ketika ternyata selain menggelikan juga berpotensi melanggar UU Pelayanan Publik. Bukankah dalam rangkaian ini beliau adalah pejabat dalam posisi paling bawah ? Mendikbud bisa menolak dan tak memberi Surat Pengantar.  Mensesneg juga bisa mengembalikan Surat Mendikbud dan terakhir Presiden menolak menandatangani PP tersebut. 


Jadi, baru sekaranglah UI dilecehkan secara kolektif karena UI berjalan dengan "Konstitusi" atau Statuta yang berpotensi melanggar UU Tentang Pelayanan Publik. Apakah Civitas Akademika UI tidak faham ? Mustahil. Bukankah Fakultas Hukum terbaik di Indonesia saat ini masih FHUI ? Apakah Civitas Akademika UI akan bereaksi memperbaiki kecerobohan itu ? Entahlah. 


Vivat .... Veritas, Probitas, Iustisia.


Ahmad Rizali-Alumni Teknik UI 79/Mantan Anggota dan Sekretaris MWA UI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab