Langsung ke konten utama

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

 


Oleh Satria Dharma

Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur


Ini adalah buku otobiografi yang ditulis oleh Prof E. Sadtono, seorang mantan dosen sekaligus mantan rektor IKIP Malang yang telah mengajar puluhan tahun, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lain. Kisah yang beliau tulis ini sangat menarik dan membuat saya berpikir bahwa semestinya setiap dosen perlu menulis juga kisah-kisahnya yang nantinya dapat mereka terbitkan setelah pensiun. Tapi tentu saja akan lebih baik, jika mereka bisa menerbitkan buku mereka ketika masih aktif mengajar.


Sebagai seorang mantan guru bahasa Inggris, saya sering mendengar nama Prof Sadtono ini disebut, meski pun saya sama sekali belum pernah diajar oleh beliau dan juga belum pernah bertemu. Mungkin karena beberapa teman kolega saya pernah dibimbing oleh beliau dan mestinya Prof Sadtono adalah kolega para dosen saya di IKIP Surabaya. Yang jelas Prof Sadtono menyebutkan nama almarhumah Ibu Thea Kusumo sebagai salah satu koleganya mengajar di zaman dulu. Ibu The Kusumo adalah salah satu dosen saya dulu di IKIP Surabaya.


Pengalaman yang ditulis dalam buku otobiografinya ini sangat menarik karena beliau memang seorang penulis yang trampil, sangat humoris, dengan daya ingat yang tinggi. Tapi utamanya adalah karena beliau memang sempat mengajar di beberapa negara, di antaranya di Singapura, Jepang,  New Zealand, Malaysia, Australia, Swedia, Amerika, sehingga segala pengalamannya ketika mengajar dan bergaul dengan para dosen di berbagai negara itu menjadi unik dan menarik untuk diketahui. Beliau sendiri memperoleh gelar doktornya dari University of Texas, Austin. Beliau juga berkeliling ke berbagai negara lain dalam kapasitasnya sebagai visiting professor dan mengisi atau mengikuti seminar internasional di London, Kanada, Swiss, Paris, Bangkok, yang kemudian pengalamannya yang menarik dituliskannya dengan sangat menarik dan lucu.


Boleh dikata beliau itu adalah seorang guru besar dalam tataran global. Pengalaman mengajar bersama dengan berbagai dosen dari berbagai negara membuat beliau terbiasa dengan bahasa Inggris cengkok India, Singapura, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Australia, Amerika, British, Jepang, dan bahkan dialek lokal Amerika seperti cengkok Boston dan cengkok Arkansas. Kalau selama kuliah bahasa Inggris kalian terbiasa dengan cengkok jawanya dosen kalian maka saya jamin kalian akan kesulitan memahami ucapan penutur asli. Apalagi memahami bahasa Inggris dalam berbagai cengkok atau logat tersebut.


Ketika saya kuliah semester tiga di IKIP Surabaya (UNESA) dulu, kami kedatangan seorang professor dari Amerika dan memberikan semacam kuliah umum di kampus. Saya termasuk seorang mahasiswa yang menonjol dan banyak membaca. Nilai bahasa Inggris saya 9 waktu SMA, sudah pernah kuliah Diploma 1, sudah mengajar juga. Jadi saya pikir saya akan dengan mudah mengikuti kuliah professor Amerika ini. Eeh…! Lha kok ndilalah saya gak mengerti sama sekali apa yang disampaikan oleh Pak Professor ini. Saya merasa benar-benar tersesat. ‘Is he really speaking in English?’ kata saya dalam hati. ‘What is he really talking about? Lha kok saya benar-benar gak bisa menangkap apa yang dia sampaikan ya?’ Beliau ngomong begitu cepat sehingga kata-katanya itu seolah jadi satu dan tidak seperti bahasa Inggris yang saya pelajari. Setahu saya kata-kata dalam bahasa Inggris itu diucapkan terpisah dan punya pengucapan yang jelas. Saya sampai berkeringat dingin memahami betapa culunnya saya waktu itu. I thought I already knew English… 


Selain kisah beliau ketika mengajar di berbagai negara, beliau juga menuliskan pengalamannya ketika hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Beliau pernah sekolah sampai tingkat SD di zaman Jepang dan masih ingat banyak kata-kata bahasa Belanda yang diajarkan. Tampaknya beliau memang berbakat di bidang bahasa, meski mengaku justru sudah lupa dengan bahasa Jepang yang dulu pernah dipelajarinya. Mungkin karena ia benci dengan Jepang. Tapi beliau juga berterima kasih pada bangsa Jepang karena Jepang memberikan rasa bangga diri sebagai bangsa Asia. Jepang, yang bangsa Asia, mampu mengalahkan Belanda, yang bangsa Barat. Sebelumnya beliau minder sebagai bangsa Asia berhadapan dengan bangsa Belanda karena menganggap bangsa Indonesia itu inferior. Tapi setelah melihat Jepang dapat mengalahkan Belanda maka timbul rasa percaya diri dan rasa sejajarnya dengan mereka. 


Ada beberapa pengalaman tentang kekejaman guru Indonesia di zaman Jepang. Guru pada zaman itu dengan seenaknya menghukum siswanya dengan berbagai hukuman yang bagi kita saat ini benar-benar tidak masuk akal, seperti siswa disuruh berdiri di antara bangku, lalu pak guru menendang pantatnya seperti kiper menendang bola. Ada juga guru yang suka merokok upet dan murid yang nakal hukumannya dislomot dengan rokok upet tersebut. Hukuman disundut rokok oleh guru adalah hukuman yang tidak masuk akal saat ini. Yang paling tidak masuk akal adalah guru yang suka batuk dan meludah dengan riak kuning yang kental. Kalau ada anak yang nakal lalu dipanggil dan disuruh buka mulutnya. Lalu si guru memuntahkan ludahnya yang kental ke mulut siswanya. Sungguh edan…! 


Belajar bahasa yang sulit itu belajar idioms atau istilah-istilah khas yang kadang tidak ada dalam kamus. Sebagai contoh, ‘I’m going to go to number one’ atau ‘I’m going to see someone about a dog’ yang artinya sama yaitu ‘Saya mau ke toilet’. Menurut beliau kesukaan membaca merupakan senjata ampuh belajar bahasa asing apa pun. Saya sepakat dengan beliau karena merasakan sendiri betapa kesukaan saya membaca ternyata memang membuat saya lebih mudah memahami bahasa Inggris. Sangat berbeda dengan teman-teman saya satu jurusan yang tidak suka membaca. Pemahaman mereka akan kosa kata dan penggunaan istilah asing menjadi terbatas karena rendahnya tingkat bacaan mereka. Selain itu menurut beliau ‘golden period’ untuk belajar bahasa asing adalah usia 1 s/d 12 tahun. Beliau pernah punya teman orang Thailand yang memboyong istri dan tiga anaknya perempuan yang masih kecil-kecil ketika mengajar di Jepang. Anak-anak ini sama sekali tidak tahu bahasa Jepang. Tapi enam bulan kemudian mereka sudah cas-cis-cus berbahasa Jepang sementara beliau yang sudah lama di Jepang masih tetap merasa nol berbahasa Jepang. 


Banyak kisah culture shock yang menarik yang dikisahkannya.  Salah satunya tentang seorang anak yang diminta oleh ibunya membersihkan makam ayahnya. Setelah selesai ia lalu diberi uang oleh ibunya. Padahal itu makam ayahnya sendiri, tapi toh ia tega menerima uang upah dari ibunya. Kisah yang lucu adalah ketika diundang ke pernikahan teman bule. Tradisinya tamu boleh mencium penganten wanita. Pada waktu giliran beliau tiba, beliau menggunakan filsafat Jawa ‘pungnak pungno’(mumpung enak mumpung ono) dan mencium pengantin wanitanya, dan ciuman itu bibir ke bibir. Lha sewaktu menikmati ciuman itu pengantin prianya bilang, ‘Eh, jangan lama-lama.’ Begitu juga ketika selesai mengajar di Auckland dan harus pulang ke Indonesia. Beliau diantarkan satu kelas dari Auckland Teachers’College. Waktu mau salaman ditolak oleh teman-teman cewek, karena dianggap tidak akrab alias terlalu formal. Mereka mintanya ciuman di bibir. Akhirnya beliau mencium 25 cewek-cewek bule, Katanya kalau seandainya dulu ada MURI di New Zealand, beliau pasti sudah mendapat penghargaan atas prestasi mencium 25 cewek bule tersebut. 


Ada banyak kisah menarik dan saya pikir perlu dibaca oleh khususnya para guru bahasa asing agar mendapat pengetahuan dan wawasan yang perlu mereka miliki sebagai guru yang bukan hanya mengajarkan bahasa,tetapi juga budaya dari berbagai negara yang menggunakan bahasa tersebut. Bahkan Bahasa Malaysia yang kita kira sama dengan bahasa Melayu yang kita gunakan sehari-hari beberapa kata juga punya perbedaan makna dalam penggunaannya. Sebagai contoh kalimat ‘Simpan wang di bank ini sulit’ bukan berarti menyimpan uang di sana susah tapi ‘sulit‘ di sini maksudnya ‘rahasia’ atau ‘confidential’.


Buku ini bisa dipesan pada editornya, yaitu Mas Djoko Pitono, di nomor 0856-3068-480. Belilah dan nikmati buku yang sangat menarik ini.


Satria Dharma

Surabaya, 11 Oktober 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me